jump to navigation

Gotong-royong Masih Adakah Januari 6, 2006

Posted by fauzan.sa in Tulisan Luar.
trackback

Gotong-royong sebuah definisi bangsa Indonesia yang selama ini menjadi monumen penting yang selalu diagung-agungkan bangsa Indonesia. Bahkan tetap dijadikan wacana utama dalam tiga periode politik bangsa ini. Sejarah kemerdekaan telah mencatat bahwa kata gotong-royong telah menjadi elemen penting dalam kehidupan bernegara Indonesia. Di zaman Orde Lama gotong-royong merupakan “kata suci�? yang selalu dikumandangkan oleh Sukarno, bahkan pernah dalam salah satu pidatonya, Sukarno menyatakan bahwa bila Pancasila diperas menjadi Ekasila, maka Ekasila itu adalah gotong-royong. Di zaman Orde Baru, walaupun tak segencar di zaman Orla, tetap saja gotong-royong menjadi salah satu kata penting di rezim pembangunan Suharto.

Berbagai kenyataan diungkapkan untuk mendukung pendapat bahwa gotong-royong adalah sifat dasar yang dimiliki bangsa Indonesia. Mulai dari sistem pertanian secara bersama, acara kenduri, mebangun rumah, dan segala macam kegiatan kemasyarakatan yang telah kita sama-sama baca dan pelajari sejak SD, semuanya menunjukkan bahwa gotong-royong sudah ada sejak zaman prasejarah di bumi Indonesia. Ya, memang sejak SD kita telah diberikan doktrin bahwa gotong-royong adalah sifat dasar bangsa Indonesia yang menjadi unggulan bangsa ini dan tidak dimiliki bangsa lain.

Namun saya melihat kenyataan lain, saya mulai meragukan gotong-royong ada di dalam jiwa bangsa Indonesia. Kenyataan yang muncul dengan adanya jurang kemiskinan yang dalam, pengangguran, kerusuhan, krisis ekonomi, semakin membuat saya ragu, apakah benar bangsa ini memiliki jiwa dan semangat gotong-royong. Jikalau gotong-royong diartikan sebagai kerjasama, bekerja bersama-sama untuk mencapai tujuan, maka saya akan sangat ragu bahwa bangsa ini memiliki jiwa gotong-royong. Kalaulah gotong-royong itu ada, pastilah tidak ada jurang kemiskinan yang dalam, karena si kaya akan senatiasa membantu si miskin untuk meningkatkan taraf hidupnya. Pastilah tidak ada kerusuhan masa, yang dipicu adanya ketidakadilan, karena setiap tetidakadilan akan mustahil muncul dari jiwa gotong-royong. Demikian pula dengan krisis ekonomi dan krisis-krisis lainnya.

Pendapat lain muncul. Jiwa gotong-royong sudah mulai terkikis akibat masuknya budaya individualisme dan materialisme dari Barat. Semula saya setuju dengan pandangan ini, namun belakangan saya mulai berpikir bahwa pedapat ini cuma sekedar apologi yang mencoba membenarkan pendapat pertama. Seandainya benar jiwa gotong-royong itu ada semenjak zaman dahulu, saya yakin tidak mungkin bangsa Indinesia dijajah sampai berabad-abad lamanya.
Saya yakin bila jiwa gotong-royong itu ada pada bangsa Indonesia maka pastilah bangsa ini tidak pernah mau hidup terjajah. Nyatanya selalu butuh seorang tokoh untuk menggerakkan perjuangan. Itupun biasanya harus dipicu dengan kejadian-kejadian yang bersifat ekonomis. Jarang sekali seorang raja yang mendapatkan “fasilitas�? dari penjajah mau “memberontak�?, walupun alam dan rakyatnya dikuras dan diperas habis-habisan. Biasanya raja yang memberontak dipicu oleh pengambilan hak-hak istimewanya oleh penjajah, atau “fasilitas�? penjajah yang kurang memenuhi hasratnya –namun sekali lagi rakyatlah yang jadi korban ambisi sang raja, rakyat berperang sampai merkubang darah, sementara raja kalau kalah paling cuma ditangkap dan dibuang.

Sementara rakyat pun demikian, walaupun saudaranya ditindas, kebanyakan mereka enggan membantu bila mereka sendiri telah mendapatkan “rasa aman�? dari penjajah. Buktinya kebanyakan “centeng�? dan mandor rodi, tanam paksa, dan sebagainya, adalah pribumi. Saya melihat bahwa kultur yang menonjol pada bangsa ini adalah kultur feodalisme. Dimana seorang penguasa akan dapat dengan bebas memenuhi hasrat ekonominya, sementara rakyat kecil secara kultural “nrimo�? saja dengan perlakuan penguasa. Kebanyak rakyat enggan memperjuangkan hak-haknya. Apalagi memperjuangkan hak saudaranya. Biarlah saja mereka menderita asal kita tidak, asal kita masih bisa makan, tidak apa-apa membayar upeti, kultur ini lah yang dominan dimiliki bangsa ini. Dimana pembelaan terhadap penindasan penguasa adalah sesuatu yang tabu.
Penguasa adalah “tuhan�? yang harus di dengar dan ditaati kata-kata dan perintahnya. Walau pun harus berdarah-darah perintah pengusa harus ditaati, karena ketaatan kita kan memberikan kredit kepada kita, siapa tahu nati bisa jadi menteri atau punggawa kerajaan. Atau setidaknya dapat sedikit bagian tanah dan jadi penguasa kecil –yang berarti pula kemudian dapat menindas bawahannya.

Gotong-royong yang dimiliki bangsa ini hanyalah gotong-royong yang bersifat aman dan menguntungkan bersama. Sementara gotong-royong yang “berdarah-darah�? untuk menolak penindasan adalah sesuatu yang tabu. Gotong-royong yang dimiliki bangsa ini adalah gotong-royong yang harus mempunyai feed back, mari kita bersama bergotong-royong mengadakan kenduri, agar kelak saat kita punya hajat maka orang lain pun akan membantu kita. Mari kita bergotong-royong membuat pengairan sawah, agar sawah kita pun dapat diairi. Mari kita bergotong-royong membangun balai desa, agar nanti kita juga dapat nonton teve di sana.
Buat apa kita bersama-sama mengentaskan orang-orang miskin, nanti mereka malah menjadi saingan dagang kita. Buat apa kita sibuk-sibuk mengurusi orang lain yang tanahnya diambil paksa oleh penguasa, yang penting kita selamat, kalau ikut-ikutan nanti malah kena getahnya. Buat apa ikut-ikutan memprotes kebijakan sekolah, nanti malah dicap anak nakal dan dapat nilai jelek. Buat apa ikut-ikutan demo, nanti malah dipentung polisi dan ditahan, toh demo juga tidak selalu didengar, lagipula kebijakan yang diprotes itu kan tidak ada sangkut-pautnya dengan kita.

Silakan Anda perdebatkan, masih relevankah kata gotong-royong disematkan di jiwa bangsa Indonesia?

Penulis: PageSevenGreen™ 16Oct2002 made for PlanetBlue™and Green Crescent Community™

Komentar»

1. ada dweh - Februari 17, 2006

thanks bgt. akhirnya ketemu juga bahan bwt paper gw. b4 n after thx…..

2. afoe - Februari 24, 2006

Nah, malam itu ane dpat amanah untuk memasang atribut PKS berupa bendera disepanjang jalan utama wilayah DPC ane.

Awalnya ane kebingungan.
Kenapa tidak: ane tinggal sementara bukan di DPC ane dan jarak ke DPC ane kata orang cukup jauh.
Begitu pula dengan ane yang saat itu tidak berbekal motor.
Ane kontak teman² liqo dan beberapa ikhwah lain.
Subkhanallah, Allohuakbar.
Mereka datang, tanpa ada sedikit rasa sewot (yang terlihat begitu di wajah khas mereka yang selalu senyum :) ).

Mulailah memasang bendera.
Wah…..mereka begitu mengerti kesulitan saudaranya.
Alhamdulillah.

3. afoe - Februari 24, 2006

Gotong royong pudar .

Benar, bahwa gotong royong masih ada di Indonesia, meski terlihat pudar. Namu sekali lagi masih ada.

Di kampung ane, hampir tiap pekan ada kerja bakti.
Aneh yahh, masa kerja bakti tiap hari Ahad.
Padahal Sabtu,ahad, dan hari libur lain adalah sebuah hari yang mahal bagi pada da’i. Ane termasuk ngga yahh?

Biasanya tuh kalo hari Ahad ada baksos,dauroh,rihlah dan segudang kegiatan lainnya.

Sabtu sore, Ketua RW sudah koar² di masjid sebelah mengumumkan kalo ada kerja bakti Ahad esok.
Tak tanggung², kerja bakti dimulai jam 07.00 (biasanya kan jam 8).
Dan benar, ahad kemarin ane ada outbond bersama anak² SMA.
Untuk gantinya, ane mbuat teh manis sebanyak 10 gelas (gelas besar lho……) ditambah dengan jog-an satu liter….

Oh yahh kerja bakti ini bukan di kampung (padahal tadi di depan ane bilang di kampung) tapi di pusat kota…..

4. Atoen - Maret 2, 2006

akhirnya ne bisa 9w dpetin coz gila bantu 9w b9t

5. simpatisan kecewa - Maret 6, 2006

to Afoe…

kayanya Afoe gak paham bgt ttg gotong royong yg dibahas? Kalau model gtry yg “safe” kayak gitu sih masih buanyyaaakkk, maksudnya gtry yg “berdarah-darah” itu gak ada yg bisa diliat. coba deh tengok, mana ada gtry melawan penindasan? halah aje gile kalo ada! mana ada gtry melawan kenaikan bbm, mana ada gtry memperotes DPR yg mlempem dan malah menjadi tukang stempel eksekutif.
Pro kader2 PKS DPD Kota Yogyakarta: tolong jelasin kenapa menaikkan tarif periksa pasien di Puskesmas kota dari Rp 600 jadi Rp 5000 (walau pun bertahap)? Kemana janji lo dulu ngebelain rakyat? manee??? lupa? atau lo imannya dah pada di jual ke eksekutip? emang tukang beca, buruh, asongan, angkringan cukup punya uang stlah di hajar PKS lewat kenaikan BBM? jadi ingat bukunya Pak Eko Prasetyo “Orang Miskin Dilarang Sakit”!
yg nyetempel kenaikan biaya priksa Puskesmas slh satunya adl Zuhrif Hudaya alg PKS. PKS PEMBOHONG!!!

6. agiva - Maret 3, 2007

Taijalat……!!!!!!!!!!!!!
Velek…..!!!!!!!!!

7. Kebangkitan Nasional : Mari Bangkit….Indonesia-ku « “Iwan Darmawansyah” - Juni 9, 2007

[...] dan dibanggakan. Apakah Indonesia masih relevan jika disebut bangsa yang memiliki falsafah “gotong royong” [...]

8. Arief S - November 12, 2007

Soal gotong royong aku masih percaya,tetapi bagi orang yang gak percaya aku gak mempengaruhi mereka.
Dibeberapa desa yang aku kunjungi masih selalu ada gotong royong untuk membersihkan desa,dan dikhir masa gotong royong bersih desa tersebut ada tontonan dan makanan buat dimakan bersama-sama seluruh warga, artinya gotong royong adalah proses pembangunan modal sosial didalamnya tidak bebas nilai,ada penggantian dari orang-orang atau yang dianggap penggede didesa yang tidak mungkin melakukan langsung proses GR tsb,mereka mensponsori kenduri atau tontonan dengan harapan mereka itu mendapat restu bahwa ikutan prosesi GR, yang mampu melakukan GR yah pasti seneng ternyata diakhir prosesi GR ada hadiah,reward berupa tontonan,kenduri,ataupun kesempatan tampil sebagai artis desa, jadi GR adalah prosesi pembangunan modal sosial,jangan dihindari,karena konsekwensinya kita akana diakui atau dikucilkan sebagai warga.
Bravo Gotong Royong.

9. Heni - Desember 10, 2007

Ada sebagian dari tulisan ini yang dapat membantu dalam pembuatan tugas dari kampus tentang gotong royong. Walau bagaimanapun mari kita lestarikan gotong royong karena dengan melestarikan gotong royong berarti kita juga melestarikan kebudayaan bangsa Indonesia, jangan sampai kebudayaan kita di caplok lagi sama bangsa lain dan diklaim menjadi kebudayaan mereka. Thanks pada penulis.

10. 63 tahun « kyantonius.com - daily babblings! - Agustus 15, 2008

[...] kesusahan. Terus, masih berlakukah semua tata nilai tersebut di masyarakat kita? Berikut kutipan sebuah tulisan yang saya temukan di Internet. Gotong-royong yang dimiliki bangsa ini hanyalah gotong-royong yang [...]

11. mas wira - November 20, 2008

tks atas tulisannya,bisa menyadarkan kembali arti GR.Tetap pelihara keGR-an kita tuk bangun bangsa yang makin terpuruk ini.Jgn saling menyalahkan,saling lempar tg jwb.Berbuatlah yang terbaik sesuai kemampuan terbaik yg kita punya.Sedikit berbuat lebih baik drpd tidak berbuat sama sekali.

12. reza - Januari 6, 2009

ma kch ya opininya, aku jadi ada modal ne buat ngrjakan tugas

13. ry - Juni 12, 2009

tx to you for posting the subject. help me to accomplish my cultural speech ^^

14. Larial - Juli 19, 2009

Thq y

Cz ne q cdih bwgtz
g ktmu bahan tntang “GOTONG ROYONG”

Tapi lw bc c
dibuat dialog or percakapan gitu biar org Indonesia semakain FAHAM

Cry lw KESINGGUNG

THIS JUST “COMMENT”

15. ulfi - Juni 5, 2010

dulunya memang ada, namun udah pudar

16. CROCS kw - Mei 5, 2011

jaman sekarang bicara gotong royong…
mungkin di pedalaman yang masih ada….

17. Portal Informasi dan Promosi Ala Indonesiabanget.com » Gotong-royong Masih Adakah - Agustus 12, 2011

[...] Posted by fauzan.sa in Tulisan Luar. trackback [...]

18. Krisna Dewi Pertiwi - Agustus 18, 2011

apa alasan dilaksanakan gotong royong??


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: