jump to navigation

Hati yang Beriman Agustus 20, 2011

Posted by fauzan.sa in Uncategorized.
trackback

Setiap orang pasti mempunyai mimpi. Begitu juga saya. Dahulu sekali, saya menganggap, bermimpi cuma bermimpi. Hanya sekedar pelampias angan-angan. Terluka oleh tajamnya kerikil kehidupan, saya menepi dan bermimpi. Tentang banyak dunia, yang selalu saya adalah raja di dalamnya. Dahulu sekali, angan-angan adalah obat bius bagi saya. Terlarang namun nikmat berada di dalamnya. Tak mau kembali ke dunia penuh menekan dan mandeg. Banyak hal harus dilakukan. Ada hal besar yang baru saja gagal. Ada kesedihan, ada kekecewaan.

Itulah mengapa dahulu saya menghadapi dunia dengan begitu keras. Setiap kali, saya menganggap obat bius itu adalah penghancur dunia nyata. Padahal, dunia nyata inipun tidak benar-benar nyata. Cuma sekedar senda gurau saja. Karena itulah, yang nyata adalah nyata. Yang benar adalah benar. Berapa kali pun kita mencoba menipu diri sendiri, akal kita selalu memberikan peringatan. Hati kitalah yang kemudian bermain. Apakah ada orang gila yang akan menolak panasnya api?

Selama bertahun-tahun, saya mendidik diri sendiri untuk jujur terhadap diri sendiri. Terbuka terhadap pendapat orang lain. Karena saya takut kehilangan akal, satu-satunya hal yang bisa jadi panduan diri. Saya juga takut akal menjadi budak, sehingga sekat-sekat penolakan ada di dalam hati kita. Sehingga yang benar dan yang tidak benar, menjadi satu dalam diri kita. Kita akhirnya menjadi kontradiksi berjalan. Karena itu agama harus berasal dari akal. Akal pun, tidak boleh dikacaukan oleh hati. Karena itu, hati harus dikurung rapat-rapat di bawah akal. Setelah itu, barulah kita bisa hidup dalam keselarasan. Apakah saya berhasil? Tampaknya tidak. Karena saya sadar, setiap manusia pasti punya kontradiksi-kontradiksi kecil di dalamnya. Saya hanya berharap, dengan inilah, kesombongan yang menutupi kebenaran hilang hati saya. Dengan inilah, mudah-mudahan Allah bisa mengampuni saya.

Membelenggu hati, ternyata bisa membuat saya menjadi tersiksa. Hari demi hari, saya memaksa diri saya untuk menerima semua yang tersimpul benar menurut saya. Rasanya seperti luka menganga, dijahit tanpa bius. Pedih ketika menerima hal yang menyakitkan. Namun, mengapa menipu diri sendiri? Hari demi hari, dijalani dengan heran demi heran. Karena orang lain, seringkali menolak sesuatu yang tampak jelas di mata saya. Saya meyakinkan diri sendiri, membantah mereka. Agar mereka membantah saya dan mengatakan alasannya. Bagaimana mungkin mereka semua menganggap hal ini benar? Apakah mata saya yang tertutup? Tell me with an argument! Bantahlah aku saudaraku, karena aku berharap kaulah yang benar dan akulah yang salah. Tapi, mereka diam. Dalam frustrasi, saya memancing mereka ke medan perang. Tapi, kekeliruan demi kekeliruan jadi jawaban. Mereka mencampur aduk logika dan rasa. Tidak bisa membedakan persona dan kata. Saya juga sering keliru, tapi tidak takut maju karena saudara-saudaraku yang berilmu akan membenahinya. Tapi, mengapa kemudian menjadi perang? Pancingan untuk mencari kebenaran, telah menjadi aku dan kamu, kami dan mereka. Semua yang merugikan kami adalah salah, semua yang menguntungkan kami adalah benar. Ini adalah debat kusir. Lama-kelamaan, aku meninggalkan hal tidak berguna ini. Inilah, debat yang dilarang agama.

Ternyata, baru saya tahu. Bahwa yang benar itu bisa sangat menyakitkan. Orang lain banyak yang tidak melatih diri untuk itu. Mereka kaget. Mereka takut. They hate hard truth. Hati yang bersekat-sekat, boleh jadi lebih baik bagi mereka. Karena mereka tidak perlu berpikir panjang, dan cukup menjalani hidup dengan perasaan dilingkupi keimanan.  Hati setiap orang terikat kepada sesuatu. Tiang pancang itulah yang membuat dia aman di dalamnya. Jika tiang itu dicabut, boleh jadi semuanya hilang. Jika sekat-sekat dipaksa dibongkar, jadilah dia menolak semuanya. Yang benar dan yang salah menjadi satu. Hati menjadi terombang-ambing dan melayang-layang, akhirnya dia meninggalkan kebaikan-kebaikan yang telah dijalani. Maksiat demi maksiat terjadi, dan mereka hilang dari peredaran. Ternyata, baru saya tahu, mengapa iman itu terletak di hati. Mereka menolak, karena mereka tidak ingin dunianya hilang. Mereka menutup diri dari kebenaran yang jelas, agar mereka mengira melakukan kebaikan. Dan, barulah saya sadar apakah arti dakwah itu sebenarnya. Dakwah harusnya menyampaikan kebenaran dengan cara yang paling baik,  agar hati seseorang mudah menerimanya.

Jika saja anda tahu, apakah saya selalu berhasil membelenggu hati saya? Tidak, tidak sama sekali. Sesekali, nafsu menguasai saya, dan maksiat sering menjumpai saya. Dengan hati yang penuh kayakinan akan kebenaran, tetap saja hawa nafsu mengambil alih peran Tuhan bagi saya. Ternyata, akal dan hati harus selaras. Hati seharusnya diarahkan, bukan dibelenggu. Dengan begitu, kita bisa menikmati indahnya iman. Memang, godaan setiap kali datang. Tapi, selama kita mau mengakui peranan hati, semuanya akan jadi lebih mudah.

Komentar»

1. fauzan.sa - Agustus 20, 2011

If it’s ugly, then it’s ugly. Let people learn from their fault. It’s important to leave the trace, so everyone can learn

Gunawan - Agustus 20, 2011

if it is ugly, then make it pretty, that’s what muslim should be, a better man everyday. trace is memory, but covering your bad trace is part of iman…

fauzan.sa - Agustus 20, 2011

Ugly isn’t a sin. Bad is ambiguous word. Doing a mistake isn’t a shame. Doing a sin is a shame. That’s what we must cover.

2. buku dakwah - September 23, 2011

hati pasti ketemu hati…hati kian bening, jernih jika terus disirami penjernih hati,


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.