jump to navigation

Talbisul Metal bil Bathil November 5, 2008

Posted by fauzan.sa in Uncategorized.
trackback

Saya suka musik. Musik tidak sekedar menjadi hiburan bagi saya, namun telah menjadi alat penolong. Susah untuk tetap bersemangat dan terjaga mengerjakan pekerjaan-pekerjaan penting tanpanya. Sebagai pemicu adrenalin, penjaga kesadaran, sekaligus perangsang otak untuk berfikir kreatif, perannya lumayan efektif.

Sayangnya susah sekali mencari jenis musik yang cocok untuk tujuan itu. Mulai dari Mozart, Vanessa Mae, Kenny G., Bahkan hingga Green Day dan Linking Park, tidak ada yang bisa mengisi kekosongan dan membangkitkan semangat. Yanni, Iwan Fals, Yovie and The Nuno, Fatih, Opick, bahkan Heal The World – nya Michael Jackson juga tidak mempan. Bahkan, Colorado Bulldog – nya Mr. Big yang sangat cepat masih tidak cocok juga. Waktu itu, sangat susah untuk mencari musik yang benar-benar pas. Yang indah, yang cepat, yang agresif, meledak-ledak, namun tetap mengandung asosiasi dan lirik yang positif. Sama seperti ketika saya menyukai Arsenal yang juga cepat, indah, agresif, namun tetap tidak kasar.

Hingga sahabat saya memberikan beberapa lagu Power Metal. Saya mendengarkan Angkara, Satu Jiwa, dan juga Laskar Bangsa. Sesaat kemudian saya berteriak kepada sahabat saya, “Ini musik yang saya cari! Kenapa sangat susah menemukannya!”. Mulailah saya keranjingan Heavy Metal. Selama seminggu penuh, saya berburu lagu-lagu Power Metal. Tadinya saya ingin memborong semua albumnya. Tapi, akhirnya tidak jadi karena sangat susah menemukan Power One, sementara saya Kecewa dengan Pesta Dansa dan Peace, Love and War. Dan benarlah, Power Metal lumayan konsisten dengan genre power metal (di luar negeri, power metal itu genre tersendiri). Dari 10-an lagu setiap albumnya, saya mendapatkan 4 atau 5 lagu bahkan lebih yang saya suka. Dan, satu bulan kemudian, setengah bercanda saya berkata pada sahabat saya, “Kerasnya metal di mana sih, kok perasaan biasa-biasa aja tuh”. Saya bilang setengah karena lagu-lagu Satriani tidak bisa saya nikmati lagi.

Power Metal memang tidak sekedar metal. Tidak sebagaimana Metallica yang kadang iramanya itu-itu saja, Arul dan kawan-kawan (anggotanya ganti-ganti terus sih) hampir selalu menyelipkan permainan gitar elektrik yang menjadi kunci keindahannya. Tidak seperti Joe Satriani yang melodi utamanya membosankan, Arul Efansyah mengisinya dengan vokal bernada tinggi dan hampir semuanya berlirik positif, bahkan banyak pula yang religius (dalam arti luas tentunya). Ini jauh berbeda dengan kesan metal yang dipandang sangat erat hubungannya dengan setan. Sudah metal, religius pula. Siapa yang bisa menandingi kekhasannya coba? Memang sih, musik Power Metal sempat populer di masa saya masih terlalu kecil untuk mendengarkannya. Tapi, coba lihat sekarang siapa anak muda yang suka sama Power Metal?

Ah, anak muda sekarang tahunya cuma trend. Memang saya tidak tahu banyak tentang musik. Tapi, dibandingkan dengan ST12, Kangen Band, Nineball, Matta atau Nidji, jelas Dewa (terutama Dewa 19), Gigi, Opick, Fatih, Slank, dan Iwan Fals lebih enak untuk didengarkan. Dan, saya lagi menunggu-nunggu single pertamanya Aris Idol nih. Sampai-sampai saya sempat kepikiran, produser yang menentukan selera musik masyarakat, terutama anak muda dan remaja, bukan sebaliknya. Kalau memang demikian, bodoh amat sih mereka? Diberi telinga untuk mendengar, tapi tidak digunakan untuk mendengar yang indah-indah.

Balik lagi ke metal. Ketika kemudian belajar lebih jauh lagi, ternyata metal itu ada lumayan banyak jenisnya. Jenis yang paling terkenal tentu yang paling kontroversial, black metal. Inilah mengapa sedari kecil saya menolak metal mentah-mentah. Di samping liriknya satanic, musiknya seringkali asal beringas. Main gitar di nada rendah, seringkali bertempo tinggi, ditambah dengan vokal menggeram yang nggak jelas apa yang dia omongkan. Vokal jadi instrumen baru di sini. Gitar lah yang menjadi tokoh utamanya. Yang sering jadi ikon, tentu saja Black Sabbath.

Ada lagi thrash metal. Temponya memang cepat, liriknya variatif dengan berbagai tema, kesannya tidak seram seperti black metal, tapi tidak terlalu membutuhkan teknik tinggi seperti power metal (jenis musiknya Power Metal dan Helloween). Menurut saya sih, agak membosankan untuk mendengarkannya, walaupun temponya memang enak. Saya memandangnya sebagai metal yang easy listening.

Dan, yang terakhir yang saya tahu, adalah white metal. Inilah antitesis black metal yang memuja setan. Sebenarnya musiknya tidak bisa dibedakan sama black metal, tapi liriknya sangat religius, walaupun agamanya bisa macam-macam, tapi terutama christian white metal. Soalnya black metal memang pada awalnya anti kristen. Tapi, Indonesia ternyata punya Islamic white metal. Tokoh-tokohnya orang-orang dari band Purgatory dan Tengkorak. Khusus untuk Purgatory, saya hampir muntah setelah kira-kira mendengarkan lagu Hypocrishit (benar nggak ya ejaannya) selama 3 menit. Saya menyerah deh. Musiknya memang bukan untuk saya.

Sedihnya, walaupun petualangan dengan metal belum selesai, tapi tampaknya saya harus mengakhirnya. Semua lagu Power Metal yang saya punya adalah bajakan. Jadi, bayangkan saja betapa lucu dan kontradiktifnya ketika saya sedang mendengarkan Pengakuan. Memang liriknya membuat kita mengingat Allah, tapi mendengarkannya sama saja melanggar hak orang lain yang dilindungi oleh Allah. Saya tidak mau talbisul metal bin bathil lagi. Hingga akhirnya punya uang untuk membeli satu persatu cd album originalnya, saya harus bersabar untuk bekerja dalam kekosongan dan kesepian. Tidak punya doping otak lagi nggak apa-apa, yang penting hasilnya barokah.

Komentar»

1. Keracunan Metal - November 5, 2008

salam tiga jari Akh…!!!

Metaaallll!!!

2. joesatch yang legendaris - November 5, 2008

kampret lu!
tolong bagian joe satrianto yang membosankan itu dihapus! :twisted:

kamu sudah dengerin rhapsody, band-nya luca turilli? kalo yang itu symphonic metal, yang kayaknya harus kamu denger. musiknya agak2 mirip melodi dark ages. butuh tambahan lagi? ta’saranin beli album avantasia-nya yang proyek sampingannya tobias sammet

3. YoHang 07 - November 12, 2008

Alhamdulillah, akhirnya nulis lagi mas :D
Dan seperti biasa, benar2 ‘menggigit’!
Hehehe

4. sangprabo - November 24, 2008

Weks, ke mane aje Bang? ™ :D

Bujug, dua tahun.. keluar2 kok tulisannya langsung musik… Sip lah, mari kita berkolaborasi.. *ngeluarin gitar*

5. Logical Fallacy - Desember 1, 2008

garapannya Luca Turilli terlalu simfoni, bukan metal. saya masih lebih seneng dengan sabetannya Eet Sjahranie bsama EdanE. yang voklanya Ecky Lamoh, bukan yang cengeng sekarang.

Avantasia, juga bukan metalmurni, banyak mendayu2.. kurang garang. wong Metallica aja sama Jaya dianggap “gak masiuk spek”, Helloween juga masih terlalu ngeslow. kalo Sepultura gak enak didengerin vokalnya.

6. metal sobirin - Desember 2, 2008

kalau gw mo cari cd power metal nya Arul dimana ya?
mahal juga rela—

dulu gw paling ga suka powermetal (abis indonesia sih) , sekarang
malah nyariin

7. Jacro 200 - Januari 17, 2009

I don’t care….ra dong blas…hehehe

8. Mou - Maret 17, 2009

Ma syaAllah!! Musik metal la yamuutu abadan, yeahhhhh!!!

9. gakpunyanama - Juli 26, 2009

jiwa metal dalam dada!!!
tiga jari di udara!!!