jump to navigation

“Pelajaran” Aqidah dalam Trilogi “His Dark Materials” November 5, 2008

Posted by fauzan.sa in Uncategorized.
trackback

Suatu saat di masa jahiliyah, saya menonton film bajakan berjudul Golden Compass. Kagum karena keindahan ceritanya, wikipedia jadi sasaran lebih lanjut rasa ingin tahu saya. Hmm, memang tidak adil menilai sebuah trilogi novel dari sebuah seri filmnya ditambah sedikit rangkuman cerita novelnya. Tapi, bagi saya, bahkan rangkuman ceritanya merupakan sebuah ide luar biasa dari seorang Philip Pullman. Novel ini mengandung ajaran aqidah yang menyeluruh yang terdapat pada unsur-unsur yang menyusunnya.

Saat merenungkannya, saya pikir Pullman sedang ingin mengajarkan atheisme. Matinya seorang Tuhan bukankah pertanda atheisme? Republik Surga bukankah merupakan penolakan terhadap Kerajaan Surga? Secara sengaja menyebut jiwa dengan demon (setan) bukankah bukti penolakannya akan agama? Ternyata, jawabannya tidak. Pullman tidak sekedar mengajarkan atheisme. Tapi, dia sedang mengajarkan versi lain dari ketakberagamaan. Unsur demi unsur dalam cerita itu menggambarkan apa yang coba dia ajarkan pada anak-anak di seluruh dunia. Ya, “His Dark Materials” ternyata adalah novel untuk anak-anak.

Salah satu konsep paling jelas dalam cerita itu adalah demon. Diceritakan, setiap manusia di setiap dunia paralel mempunyai demon. Di dunia Lyra, demon itu mewujud menjadi seekor binatang. Di dunia, kita, demon tetap ada, namun berada dalam diri kita. Seakan-akan, Pullman ingin menjelaskan hakikat setan kepada kita. Demon adalah gambaran jiwa dan curahan seluruh perasaan kita. Artinya, setan itu diri kita, sehingga kita tidak perlu menyalahkan orang lain atas semua kesalahan kita. Setan itu cuma keinginan hati, sehingga tidak perlu dikekang berlebihan.

Ide demon dikembangkan lebih lanjut dengan konsep pemenggalan demon dan manusianya. Ibu Lyra percaya, pemenggalan itu akan menghindarkan sama sekali seseorang dari dosa bawaan lahir. Tapi, akibat dari pemenggalan itu adalah seseorang jadi bukan manusia lagi. Tidak mau apa-apa, tidak peduli apa-apa, dan tidak merasakan apa-apa. Demon adalah nafsu yang menjadikan seseorang itu manusia sejati. Menghilangkannya sama saja membunuh manusia tersebut.

Konsep lain yang juga sangat penting adalah debu. Debu ada di seluruh alam semesta dan merupakan lambang kebijaksanaan. Alethiometer merupakan alat untuk berbicara dengan debu. Jika seseorang bisa berbicara dengan debu, maka dia bisa mengetahui segalanya. Orang bodoh hanya punya sedikit debu di sekeliling tubuhnya, sedangkan orang bijaksana punya lebih banyak debu. Debu ini tidak dapat dilihat oleh mata biasa. Para pemuka agama melarang orang-orang membicarakannya, karena diyakini bahwa debu adalah asal dari dosa bawaan lahir. Agama hanya melarang orang dari mengetahui kebenaran. Itu tafsir yang bisa diambil dari konsep ini.

Konsep debu dan demon ternyata sangat berkaitan erat. Debu berhubungan dengan setiap manusia melalui demonnya. Debu adalah wujud dari kesadaran seorang manusia. Ketika debu dan demon dipersalahkan atas dosa, maka yang dipersalahkan adalah rasa ingin tahu manusia. Segala pertanyaan tentang eksistensi diri dan hakikat alam semesta, itu semua adalah kambing hitam yang dipergunakan oleh agama untuk menjelaskan dosa.

Ternyata, itu semua bukan merupakan propaganda atheisme. Propaganda menentang dogma agama memang iya. Propaganda untuk mengagungkan kebijaksanaan dan pengetahuan, itu juga jelas terlihat. Tapi judul trilogi ini mengungkap segalanya. Dari manakah asal debu itu? Atau, lebih tepatnya, siapa yang memiliki debu itu? Ternyata, His mengacu pada Tuhan. Jadi memang bukan atheisme. Tapi, Tuhan yang ini membiarkan Authority mengaku sebagai diri-Nya. Namun, dia selalu berhubungan dengan manusia melalui debu. Ini berarti, setiap orang dapat mengenal kebenaran Tuhan. Tapi, banyak orang yang kesulitan. Anak kecil yang masih polos dan belum terlalu kotor oleh bayang-bayang dogma, merekalah yang akan menemukan Tuhan dengan lebih mudah. Sementara orang dewasa harus belajar keras untuk dapat menemukannya. Ternyata, Pullman mengajarkan pada anak-anak bahwa kebenaran itu mutlak dan tidak relatif.

Tapi, itu belum semuanya. Masih ada masalah pada konsep Authority. Tuhan yang dikenal dalam agama adalah Tuhan yang membodohi manusia dan mengatur-atur orang untuk mengikuti kehendaknya. Percayalah Tuhan dan kebenaran mutlaknya. Tapi, jangan percaya sama Tuhan institusional. Mereka adalah penipu. Keyakinan ini disebut deisme. Well, bagaikan mengucap Laa ilaaha Illa Allaah, tapi tidak mengakui kerasulan Muhammad SAW. Memang Pullman luar biasa. Menanamkan aqidah yang banyak orang bahkan tidak pernah dengar istilahnya ke dalam jiwa anak-anak. Well, pendidikan penuh simbol tersebut memang hanya akan tertanam di alam bawah sadar mereka. Namun, itu membuat mereka terkenang hingga dewasa.

Komentar»

1. Keracunan Metal - November 5, 2008

Hati2 denganorang yang menarik [pull man], bukannya dai sedang mengajarkan agnotisme? Him yang tidak definitif dan tidak dapat didefinisikan oleh agama apa pun

2. budi wibowo - Februari 4, 2009

pullman membuat novel ini yang didasari oleh michio kaku, seorang ilmuwan fisika amerika keturunan jepang, yang ide2nya tentang dunia paralel dan hyberspace cukup mengguncangkan dunia (khususnya di kalangan ilmuwan).trilogi ini sebanarnya secara umum menggambarkan pola pikir peradaban barat yang mendasarkan segala sesuatu kepada logika/nalar.yah, untuk dongeng sebelum tidur, cukup lumayan lah, tapi jangan dipahami terlalu mendalam, otak kita (orang indonesia) belum cukup untuk bisa memahaminya,kecuali yang sudah benar2 paham teori relativitas einstein

3. Download Kajian - Mei 2, 2009

bingung juga sih kalau baca sinopsis diatas, tapi aku skip saja daripada jadi virus yang terlanjur bersarang di otak. mungkin ada baiknya kita belajar aqidah yang dasar dulu sebelum yang rumit2.
Jazakallah khairan.