Decoupled November 5, 2008
Posted by fauzan.sa in Uncategorized.trackback
Decouple adalah kata-kata ajaib yang berasal dari buku legendaris “Design Patterns”. Jika anda belum pernah dengar, bisa dipastikan anda tidak terlalu dekat dengan dunia rekayasa perangkat lunak. Decoupling pada intinya adalah pemisahan antara berbagai komponen yang bekerja sama dan berhubungan terlalu erat. Lho, bukannya bekerja sama itu bagus? Tidak demikian halnya jika itu menyangkut objek atau komponen perangkat lunak. Sebagai sebuah sistem, fleksibilitas sangat diperlukan. Untuk itulah diperlukan cara khusus agar jika sebuah komponen perlu diubah, maka yang lain tidak perlu diubah.
Permisalannya seperti ini. Anda menyuruh bu Siti untuk menyucikan baju anda. Anda memintanya mengucek dua kali dan membilas sekali, baru kemudian baju-baju tersebut diperas. Anda juga minta pakaian dalam dan pakaian luar dipisahkan dan dicuci dengan cara yang berbeda. Dalam hal ini, hubungan anda dengan bu Siti terlalu erat. Jika suatu saat bu Siti sakit, maka anda akan kesulitan mencari orang lain. Jika ada orang lain, maka orang tersebut akan memerlukan penyesuaian terlebih dahulu terhadap cara kerja yang sudah ada. Lain halnya jika anda tidak menyuruh bu Siti, tapi pokoknya asal tukang cuci dan yang penting pakaian bersih. Dengan begini, setiap tukang cuci bisa datang membantu dan anda tidak perlu berpikir bagaimana caranya cucian tersebut harus dicuci.
Pada akhir masa kuliah di UGM, saya sering merasa gelisah. Seolah-olah, hidup hanya sekedar menghindar dari dosa. Kesepian walau punya banyak kenalan. Itu sebenarnya cuma akibat sampingan saja karena saya berusaha melepaskan diri dari lingkungan sosial yang membentuk saya. Lingkungan tersebut bukan lingkungan biasa, saya telah terlanjur menganggapnya rumah dan bagian dari visi hidup. Tapi, apa daya ketika rumah itu tidak lagi nyaman. Saudara bahkan tidak bisa lagi dipercaya. Inilah saatnya decoupling. Melepaskan diri dari bayang-bayangnya dan bersikap mandiri sebagai seorang laki-laki muslim dewasa.
Dengan begini, tidak penting lagi apakah lingkungan tersebut ada atau tidak. Tidak penting lagi punya jama’ah atau tidak. Setiap ada usaha kebaikan dari sekelompok muslim yang bisa dipercaya wajib diperhatikan. Setiap permintaan bantuan dari saudara-saudara seiman harus diusahakan. Tidak perlu lagi memperhatikan apakah kata-kata “Harapan Itu Masih Ada” benar atau tidak. Yang penting, apa yang kita punya itulah yang kita berikan. Inilah jalan pragmatis saya.
Sayangnya, lebih susah bagi seseorang untuk bertahan sendirian. Tenaga dan kemampuannya terbatas. Karena itu, membantu umat tidak bisa dijadikan tujuan jangka pendek. Hal yang lebih pragmatis harus diutamakan. Menyelamatkan diri sendiri, mengamankan posisi, baru kemudian menafkahkan yang lebih dari keperluan. Ah, jika saja saya menemukan rumah baru, pasti akan lebih asyik. Saya bisa mengerjakan hal-hal yang jauh lebih berarti daripada sekarang. Saat ini, mencari pekerjaan yang halal saja susah. Jika ada yang halal, kadangkala itu tidak sesuai dengan investasi pendidikan kita. Jika sesuai, maka kita agak kesulitan untuk menjadi muslim yang kuat, muslim yang bisa membantu orang lain. Hanya Allah yang tahu apa yang terbaik bagi hamba-Nya. Yang bisa kita lakukan hanyalah menguatkan diri untuk melalui jalan terbaik itu.
Komentar»
No comments yet — be the first.