jump to navigation

Paradoks Muslim Egois Juni 21, 2007

Posted by fauzan.sa in Uncategorized.
trackback

Bicara masalah muslim egois, kita harus tahu dulu arti egois. Kalo saya lihat Oxford Advanced Learner Dictionary, egoism atau selfishness itu artinya hanya mempedulikan diri sendiri, tidak mempedulikan orang lain. Egois itu juga dekat sama narsis, yang artinya mencintai diri sendiri. Pasti ada yang bilang, yah kalo itu mah saya sudah tahu. Memang banyak sih yang sudah tahu, tapi ini penting agar tulisan ini bisa mengalir.

Menurut pendapat saya, Islam itu agama buat orang egois. Alasan untuk hal itu sangatlah jelas. Kita mati sendirian dan masuk surga sendirian. Sebanyak apapun amal orang lain, nggak akan berguna bagi kita, karena nggak bisa dipindahtangankan. Yang bisa menyelamatkan diri kita hanyalah amal kita. Pas kiamat nanti, nggak ada orang yang sempat memikirkan orang lain, karena mereka sibuk memikirkan diri mereka sendiri. Tidak ada jenis pertalian darah apapun yang bisa menyelamatkan seseorang dari neraka. Tidak ada persahabatan sekental apapun yang bisa menafikan dosa pribadi kita. Untuk itulah, jadilah muslim egois

Untuk mulai menjadi muslim egois, kita harus ingat satu hal. Tidak ada tindakan kita yang lepas dari Sunnatullah. Itu berarti termasuk juga janji Allah mengenai surga dan neraka. Karena itu faktor pahala dan balasan baik sangat penting bagi muslim egois. Satu-satunya cara menyelamatkan diri sendiri dan mendapatkan kesenangan tanpa batas adalah dengan menuruti segala perintah Allah. Kita harus sholat, zakat, puasa, haji kalo mampu, yah pokoknya kita harus lakuin semua ibadah wajib. Syahadatnya kok dilewatin? Namanya juga muslim, masak syahadat masih harus disebutkan juga? Ibadah mahdhoh saja nggak cukup, kita juga harus menuruti perintah-perintah non-mahdhoh yang lain. Menutup aurat, tidak memakan riba, tidak mencuri, tidak berzina, tidak makan makanan yang haram, berbakti kepada kedua orang tua, selanjutnya sebut aja sendiri. Capek kalo disuruh nyebut satu-satu.

Apakah itu semua sudah cukup? Sayangnya saya juga tidak yakin. Memang benar, mereka yang melakukannya secara konsekuen akan dijamin masuk surga. Bahasa sahabat Rasulullah, tidak menambah dan tidak mengurangi. Tapi, siapa yang nggak pernah berbuat salah? Itu berarti, kita harus menambah yang wajib dengan yang sunnah. Lalu, apa yang sunnah itu? Masak nggak tau? OK deh saya sebutin beberapa di antaranya. sholat sunnah, puasa sunnah, sadaqah, menahan amarah, senyum di hadapan orang lain, mengucapkan salam, yah kira-kira begitu deh. Jangan lupa, kalo ada tetangga yang miskin dibantu. Umar bin Khattab menyalahkan tetangganya gara-gara seorang miskin mencuri.

Nah, kalo sekarang pasti udah cukup nih. Hmm, gimana ya, nggak ada yang tahu persis apakah amal kita sudah cukup atau belum. Bisa jadi cukup, bisa jadi nggak. Buat yang nganggap cukup, tetep perlu ditambah dong. Katanya kita cinta sama diri sendiri, masak cukup dengan surga tingkat bawah? Tambah dong, biar kenikmatan surga juga berlipat-lipat. Hoii, kenikmatan kekal. Jangan lupakan itu. Kata Rasulullah, orang dapat hidayah gara-gara kita itu lebih baik dari bumi dan seisinya. Nah, kebayang nggak tuh? Kalo tambangnya Freeport aja baru satu gunung emas, apa jadinya seluruh bumi ini? Kita belum nyebutin gunung permata lho.

Karena itu, kita harus bikin orang lain dapat hidayah. Kebalikannya juga berlaku, kita nggak boleh bikin orang lain kehilangan hidayah. Caranya, pasti semua udah tahu, amar ma’ruf nahi munkar. Tenang aja, kita khan egois, nggak usah berpikir mereka dapat hidayah beneran apa nggak. Yang penting usaha kita, udah bener apa belum. Kalo ada perempuan yang belum pake jilbab, ajakin pake jilbab. Kalo ada teman yang belum sholat, ajakin sholat. Kalo ada teman kita suka bawa inventaris kantor ke rumahnya, ya diingatkan dong. Eh, kalo masalah kita liat kesalahan orang lain, ini adalah kasus khusus lho. Kalo kita mendiamkan saja, maka kita akan kena dosa. Memang kita egois, karena itu kita harus ingetin orang supaya nggak berbuat salah. Kalo dia berbuat kesalahan itu di belakang kita, peduli amat. Yang penting kita masuk surga dan dapat fasilitas terbaik di sana.

OK, apa lagi yang bisa kita lakukan sebagai seorang muslim egois? Cari istri yang bisa bikin kita masuk surga. Karena itu, kita harus cari istri yang baik. Yang ngomel-ngomel kalo kita pulang sambil mabuk. Yang nangis dan membanting semua piring kalo kita ketauan selingkuh. Jelas aja, mabuk sama selingkuh khan haram. Lha kalo dia yang selingkuh gimana? Baca kembali paragraf di atas. Diingetin, karena kalo didiemin berarti kita ikut dosa. Kalo nggak bisa diingetin? Ya cerai aja. Orang dia suka selingkuh gitu, mana bisa bikin kita masuk surga? Nah, sebagai amal tambahan, ingat kata-kata Rasulullah. Beliau itu orang yang baik sama istrinya. Sebagai seorang egois sejati, kita juga harus baik sama istri kita. Kalo udah punya anak? Anak itu titipan kita. Kalo nggak dididik baik-baik nanti kita yang disalahin sama Allah, nggak jadi masuk surga deh. Mau kyai kayak apa, kalo anak dilupakan, masuk surganya juga jadi seret.

Nah, yang wajib udah, yang sunnah juga udah, amar ma’ruf nahi munkar udah, masalah keluarga udah, lalu apa lagi? Itu semua khan kita lakukan sendirian. Nah, setiap hal yang kita lakukan sendirian itu nggak akan optimal. Kita harus melakukan beberapa hal bareng-bareng, supaya masuk surganya juga bisa semakin tinggi. Orang sendirian itu ibarat kambing yang tertinggal dari kawanannya. Bisa-bisa dimakan serigala! Karena itu, cari kawan-kawan dan lingkungan yang baik. Bergaullah sama mereka, supaya kita kena getahnya. Yang paling penting ya itu tadi, supaya tidak dimakan serigala.

Masih ingat sama amar ma’ruf nahi munkar? Kalo dilakuin sendirian, tentu aja berat. Coba aja kita teriak-teriak sendirian di pusat kota, “Tegakkan Syariat Islam!”. Pasti akan dianggap orang lain kurang kerjaan. Nah, kita harus memanfaatkan orang-orang baik di sekitar kita supaya bisa melakukannya sama-sama. Kadangkala, jumlah yang lebih banyak bisa meningkatkan efektivitas kerja berlipat-lipat. Nggak percaya? Tanya aja sama Kent Beck dengan Pair Programmingnya. Atau tanya aja sama pemain ganda bulutangkis seberapa pentingnya kawan di samping mereka. Kita memang butuh orang lain untuk mendapat hasil yang lebih besar. Kalau bahasa kita ya, memanfaatkan tenaga orang lain. Yah, lagi pula kita diperintahkan sama Allah untuk berjuang di barisan yang rapi lho. Kalo sendiri-sendiri, mana bisa jadi barisan yang rapi?

Trus, apa lagi yang bisa kita tingkatkan nih? Eh, tau nggak, kalo pahala kita itu mengalir terus selama orang yang kita ajak berbuat baik terus melakukan perbuatan baik itu? Keren khan. Bagaimana seandainya orang itu kita ajak untuk berbuat baik pada orang? Bukannya itu berarti kita punya pohon pahala dengan daun yang sangat lebat? Tonton deh film Pay It Forward. Kita akan tahu betapa kerennya amar ma’ruf nahi munkar secara berantai. Kalo Pay It forward cuma bilang tiga, kita boleh kok nambah sendiri jumlah orang yang kita bantu. Lima juga boleh, enam nggak masalah, sepuluh juga nggak ada yang nglarang. Yah, intinya mirip kayak MLM lah.

Tapi, harus diingat juga, dakwah berantai gini ada titik jenuhnya. Muslim yang paling baik adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Kalo kita ngajak sholat sama yang udah sholat, menekankan pentingnya menutup aurat sama orang yang sudah menutup aurat, ya nggak ada manfaatnya bagi mereka. Intinya, kalo kita ngajak yang baik-baik sama orang yang sudah baik, nggak bakalan ngaruh. Diajak nggak diajak mereka tetap baik. Kalo udah begini, berarti “laba dakwah” sudah mulai menurun. Ini saatnya kita cari lahan potensial yang lain, supaya keuntungan juga jadi maksimal. Cari yang belum ngaji. Cari yang belum sholat. Cari mereka-mereka yang belum peduli soal agama. Tetep, kita harus ingat sama dua hal. Prospek cerah rencana payah bukan hal yang bagus. Prospek cerah tapi modal pas-pasan juga nggak bakal bisa berkembang. Harus punya modal dan rencana matang dulu untuk menggarap pasar-pasar potensial ini. Itu kalo kita sudah bosan bersaing dengan keuntungan minimal di pasar jenuh.

Wah, sudah habis semua, mau ngapain lagi? Nah, ini nih yang terakhir. Sebuah hadis dari Rasulullah yang mirip sama “Imperative Rule of Kahn”. Tidak sempurna iman seseorang hingga dia mencintai orang lain sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri. Tidak sempurna iman berarti nggak bisa masuk surga paling tinggi dong? Jelas begitu. Tapi, ini berarti kita harus membuang semua keegoisan yang kita pakai sejauh ini. Gimana tidak? Ternyata cara paling baik untuk mencintai dan menyayangi diri sendiri adalah dengan mencintai dan menyayangi orang lain. Bukankah ini sebuah paradoks? Ehmm, saya malah berpikir ini bukan saja sebuah paradoks, tapi sebuah kontradiksi. Untuk jadi orang egois yang paling baik kita harus tidak egois? Kalo egois tadi dikatakan HANYA mempedulikan dan mencintai diri sendiri, maka kita telah dapat kesimpulan bahwa HANYA dengan TIDAK EGOIS lah kita mencintai diri kita dengan cara yang terbaik. Kalo Stephen Covey bilang, Berpikir Menang-Menang.

Komentar»

1. fajri - Juni 24, 2007

COOL!!!

2. sahabat pena - Juni 25, 2007

ahli bahasa nih yg ngomong…
gw smpe puyeng ngikutinnya,,hha…
tp msk akal koq smuanya…
keren…

3. ari - Juni 26, 2007

assalamu’alaikum kader kader dakwah.
hareeeeeeeeeee geneeeeeeeeee dakwah masih egois?????????? engga lah yaw. kalo mo egois? ngumpet aja dipojok kamar, matiin lampu, nyalain kipas angin kenceng – kenceng n jangan lupa makan popcorn yang belum mateng masaknya. nah yang itu kagak bakalan ada yang ganggu n antum pasti jadi orang yang egois sejati.
naaaaaaaaaaaaah kalo emang ngaku orang muslim, ngaku aktivis dakwah, so jangan egois.
ingat bro, umat menanti aksimu, firdaus menunggu sapa senyummu, n pasti Allah selalu mencintaimu karena kamu kamu bukan orang yang mementingkan diri sendiri, tapi orang yang mementingkan diri orang lain. otre
wassalamu’alaikum wr.wb

4. sahabat pensil - Juni 26, 2007

to sahabat pena.
kereeeeeeeeeeeeeeeeeen juga koq sahabat pena. eeeh mana penanya bok, bukannya kalo sahabat pena harus selalu nulis pake pena. nah eni nulisnye pake keyboard. begimane atu eneng. eh salah deng. kan ga tau sahabat penanye cowok ape cewek. aduhhh GUBRAAAAAAAAAAAAK. EH kata temen sebelahku. kamu bilang keren ngerti kagak yang dimaksud yang nulis artikel. kalo cuma bilang keren karena liat tulisan yang bejubel mah sama aja boong. heheh. jangan dimasukin hati ya. kasihan tuh hatinya dicoblos – coblos
dah yeeeeeeeee. deeeeeeeee

5. Adi Wijaya - Juni 26, 2007

to rekan ybs.

saya kurang begitu tertarik dengan tulisan anda ini sebetulnya namun ketika saya baca tentang “Cari istri yang bisa bikin kita masuk surga”. nah itu yang menurut saya menarik.
sejujur meski saya banyak melakukan kesalahan, saya tak ingin keturunan saya nanti seperti saya, oleh sebab itu menurut saya nanti meski istri tersebut tidak bisa ngajak masuk surga, namun bisa malahirkan anak-nanak ahli surga.

Terimakasih untuk item yang itu

6. bocahtampandarimipaselatan - Juni 27, 2007

kesummon, jay?
ehehehehehehehe…

7. fauzan.sa - Juni 29, 2007

@bocahnggaktampandarimipaselatan
Maksude kesummon ki apa? Kesurupan ngono? Wah, aku nek nulis mesthi karo ngalamun je. Gek saben tulisanku pancen sekali jadi. Ojo-ojo pancen lagi kesurupan.

8. mrtajib - Juni 30, 2007

# Ternyata cara paling baik untuk mencintai dan menyayangi diri sendiri adalah dengan mencintai dan menyayangi orang lain. Bukankah ini sebuah paradoks?

–>kalau kalimat ini dipasang sendirian, tanpa ada kalimat lain, atau bukan merupakan bagian dari sebuah artikel panjang, memang bisa dibilang paradoks.

Tetapi kalau diletakan sebagai bagian dari artikel panjang, sebut saja artikel/postingan ini, menurutnya saya….tidaklah paradok….

Kenapa?

Anda sendiri menyebut-nyebut kata, misalnya, zakat, ….. kalau kita tafsirkn dengan lebih kontektual….. itu ajaran ketidakegoisan…

Belum lagi, kata-kat lain….kasih sayang, dll. Bagaimana hayo?

9. fauzan.sa - Juli 1, 2007

Wah, pak itu paragraf terakhir itu ada hubungannya sama paragraf pertama. Khan saya bilang, egois itu artinya mencintai dan mempedulikan diri sendiri, tanpa peduli orang lain.

Jadi, muslim egois yang berzakat tuh begini. Bagi dia, yang penting zakatnya udah keluar, entah udah nyampe ato belum dia tidak peduli. Apakah zakat itu nanti diterima dan dimanfaatkan dengan baik dengan penerimanya, ato malah dipakai berjudi, selama tidak di depan mata dia ato kedengaran dia, dia nggak peduli.

Muslim egois itu kalo bersadaqah nggak pernah peduli sama orang yang disadaqahi. Yang penting udah sadaqah. Dia sadaqah bukan karena kasihan, tapi karena ingin mendapat pahala.

Paradoksnya, ya terjadi di paragraf terakhir. Ternyata, hanya memikirkan diri sendiri, walopun sudah memenuhi semua kewajiban dalam Islam, belum cukup. Belum sempurna iman seseorang tanpa mencintai orang lain sebagaimana dia mencintai dirinya

10. muslim egois - Juli 9, 2007

seperti PKS dan aprtai yang mengatas namakan ISLAM, Kalo melakukan kegiatan kelompok, baik itu kegiatan sosial maupun kepentingan lainnya kenapa harus menyertakan bendera kelompok. Jika memang mengaku Muslim yang tidak Egois… kenapa harus membawa egoisme partai ?

11. Hanichi Kudou - Agustus 1, 2007

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
May Allah SWT shower His blessings on our daily duties of and activities in calling for the re-establishment of His Deen. Ameen.

Since the collapse of the last Islamic Ottoman-Caliphate in Turkey 83 years ago, generations of muslims have virtually lived without dignity, protection, and justice they rightfully deserved. Moreover, muslims and non-muslims alike have been subjected to colonization and suffered under Capitalism. In order to regain the status as a respectable and just Ummah, muslims will have to return to Islam and to resume the comprehensive implementation of the Sharia by the re-establishment of the Khilafah. These are the reasons that Hizbut Tahrir Indonesia will conduct the 2007 International Khilafah Conference :

Day and date : Sunday, 12th August 2007/ 28 Rajab 1428H
Time : 07.00-12.30 PM Indonesian Local Time
Place : Gelora Bung Karno Main Stadium Jakarta, Indonesia
Number of Participants : 100.000 people
Topic : “It’s The High Time For Khilafah To Lead The World”

Hizbut Tahrir Indonesia Office:
Anakida Building 7th floor Suite 202,
Prof. Soepomo Street 27 Tebet, South Jakarta District, JAKARTA
Phones: 62-21-8500440, 71220254, 8305848
Fax : 62-21-8500440, 8312111
Email : info@hizbut-tahrir.or.id
Contact Person : Fanani (62-815-8366436 / 62-21-70031924)

Hizbut Tahrir Indonesia mengundang kaum muslim pada acara:

Konferensi Khilafah Internasional

Ahad, 12 Agustus 2007 M
28 Rajab 1428 H

Pukul 08:00 – 12:30 WIB
Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta

Susunan Acara :

* Pembukaan (Hari Mukti dan Adi Maretnas)
* Pembacaan Kitab Suci Al Quran
* Sambutan Jubir HTI (Ismail Yusanto)
* Parade Bedug + Pembacaan Puisi (Taufik Ismail)
* Testimoni Tokoh Nasional
* Orasi Pembicara (Hizbut Tahrir)
* Teatrikal Lapangan Raya-Liwa
* Refleksi (Jamil Azzaini)
* Doa Penutup (Arifin Ilham dan Ary Ginanjar)

Insya Allah menghadirkan pembicara dari: Eropa, Australia, Palestina, Sudan, Inggris, Jepang dan Indonesia serta tokoh-tokoh nasional dari NU, Muhammadiyah, MUI, Darut Tauhid, Majelis Mujahidin, Menpora, dan Ormas-ormas Islam.

Pembicara:
1. Dr. Imran Waheed (Hizbut Tahrir Eropa)
“Tanda-tanda Kehancuran Peradaban Barat”

2. Syeikh Ismail Al Wahwah (Hizbut Tahrir Australia)
“Dunia Membutuhkan Khilafah”

3. Syeikh Issam Ameera (Hizbut Tahrir Palestina)
“Tanda-tanda Tegaknya Khilafah”

4. Syeikh Usman Abu Khalil (Hizbut Tahrir Sudan)
“Tantangan Setelah Tegaknya Khilafah”

5. Dr. Salim Frederick (Hizbut Tahrir Inggris)

6. Prof. Dr. Hassan Ko Nakata (Cendekiawan Muslim Jepang)
“Peran Perjuangan HT Membangun Peradaban Islam ke Depan”

7. Hafidz Abdurrahman, MA (Ketua Umum DPP HTI)
“Perjuangan Hizbut Tahrir Indonesia Menuju Khilafah”

Orasi Tokoh:
* KH. Abdullah Gymnastiar
* Prof. Dr. H. M. Amin Rais
* DR. H. Adyaksa Dault, SH, M.Si
* Prof. Dr. Din Syamsuddin
* KH. Habib Riziq Shihab
* KH. Zainuddin MZ
* Ustadz Abu Bakar Baasyir

Tiket:
1. VVIP : Rp. 100.000
2. VIP : Rp. 75.000
3. Reguler : Rp. 20.000

Mari kita mengajak keluarga, kerabat, tetangga, masyarakat dan para tokoh masyarakat dalam acara besar yang insya Allah akan dihadiri oleh 100.000 massa. Dengan dukungan Anda semua mari bersama-sama kita perjuangkan tegaknya Syariah dan Khilafah segera !

Kantor Hizbut Tahrir Indonesia:

Gedung Anakida Lt.7 Suite 202,
Jl. Prof. Soepomo No.27 Tebet Jakarta Selatan
Telp: 021-8500440, 71220254, 8305848
Fax : 021-8500440, 8312111
Email : info@hizbut-tahrir.or.id
Contact Person : Fanani (0815-8366436 / 021-70031924)

12. jejakpena - Agustus 13, 2007

Ahahaha… nice article.
Dari paragraf awal sampai sebelum akhir, saya udah penasaran dengan ide `paradoks` nya. Paragraf terakhirnya cukup menjawab, keren!
Sudut pandang yang diangkat pun cukup fresh… :D

Haa, baru pertama kemari, salam kenal :D

13. Kopral Geddoe - Agustus 30, 2007

Wah, brilian :P

Hanya ada satu kelemahannya; tindak-tanduknya memang nggak egois, tapi keikhlasannya tentu bisa dipertanyakan. Jadi, muslim egois hanyalah seorang oportunis?

Tapi, ya, keikhlasan itu bisa tumbuh dengan sendirinya karena dibiasakan, sih :)

14. oddworld - September 2, 2007

Setuju sama pak Tajib memang nggak paradoks karena tetap saja egois. Egois saya artikan begini, pada akhirnya motivasi utama untuk melakukan itu semua hanya untuk bisa masuk surga.

Yang paradoks justru bila ada orang yang tanpa motivasi lain selain digerakkan oleh altruisme setelah banyak berbuat kebaikan bagi sesama ternyata dimasukkan ke Neraka.
Tapi bagi agama Semit rata-rata memang mengutamakan kepatuhan diatas tujuan baik.

Oya kalau kisah pelacur yang masuk surga setelah memberi minum seekor anjing sebelum mati itu bagian dari folklore Islam atau bukan ya mas ?

15. kaezzar - September 2, 2007

Assalamualaikum wr wb

Egois yang menuntun ke ketidakegoisan hehehehehe…kereenn!

@Oddworld
Kalo g salah, haditsnya blg dia diampuni dosanya, bukan masuk surga. CMIIW ya…

Wassalam

16. alex - September 18, 2007

Menurut pendapat saya, Islam itu agama buat orang egois. Alasan untuk hal itu sangatlah jelas. Kita mati sendirian dan masuk surga sendirian. Sebanyak apapun amal orang lain, nggak akan berguna bagi kita, karena nggak bisa dipindahtangankan. Yang bisa menyelamatkan diri kita hanyalah amal kita.

Hmm… hmm… benar… benar…
Ndak ada kolusi atau nepotisme di “sana”.
*manggut2 setuju*

Karena itu, kita harus cari istri yang baik. Yang ngomel-ngomel kalo kita pulang sambil mabuk. Yang nangis dan membanting semua piring kalo kita ketauan selingkuh.

Wah, kena ini :lol:
Jadi ingat kenalan yang bandit-bandit *dulu* di kampung halaman. Begitu dapat istri begini, susahnya bukan main. Yang doyan judi jadi gak bisa judi, lhaa…. disusul bini ke pos ronda, ya malu… :lol:
Yang mabok? Ilang maboknya kalo bini udah ngomel depan pintu atau malah ngunci pintu kalo kemalaman.
Akhirnya? Pada turun angka kriminalitas mereka… ahahahaha…

Muslim yang paling baik adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.

Ah! Couldn’t agree more :)
Ingat tetangga2 baek yang berguna banget dalam hal ngirim makanan berbuka :mrgreen:

Nice post, kawan ;)

*lirik2 potret calon istri*

Benar, Mas. Kalo jadi muslim egois yang begini mah saya setuju dah.

17. abu yahya albykazi - Oktober 11, 2007

saya mau nerusin baca sebenernya.. tapi gak jadi karena di paragraf kedua awal sudah ada tulisan ” menurut pendapat saya … ”

lha kok bisa yah nulis tentang masalah besar yaitu agama ini -Islam- tapi berdasarkan pendapat saya…??? hmmm

ini komentar menurut pendapat saya lho yaa..

18. pacaranislamikenapa - Oktober 26, 2007

ikutan akhi :)

Sebenarnya paradoks itu terjadi karena ada ketidakkonsistenan antum atas makna “hanya mementingkan diri sendiri” a.k.a egois a.k.a selfish di paragraph awal dengan maksud *mencintai diri sendiri* yang terdapat didalam hadits rasulullah SAW.

Egois dalam pengertian yang disepakati secara umum dengan “hanya mementingkan diri sendiri” adalah sikap yang tanpa memperdulikan orang lain/ Zat lain. Tetapi ketika kita melaksanakan perintah Allah SWT dan RasulNya, maka kita sejatinya kita tidak lagi HANYA mementingkan diri sendiri. Mementingkan diri sendiri, juga dapat diartikan dengan mengabaikan keinginan lain diluar keinginan pribadi, bahkan cenderung keluar/ bertentangan dengan nilai2 yang ada diluar diri tersebut. Sehingga pengabaian terhadap nilai2 Allah SWT dan RasulNya, atau pengabaian pada nilai2 masyarakat, nilai2 keluarga dsbnya adalah bentuk ke-egois-an yang sesungguhnya. Sehingga kurang tepat, memberikan pengertian “mementingkan diri sendiri” dengan contoh “..muslim egois yang berzakat tuh begini. Bagi dia, yang penting zakatnya udah keluar, entah udah nyampe ato belum dia tidak peduli…”. karena dengan berzakatnya seorang muslim, setidaknya dia telah patuh atau tidak mengabaikan perintah Allah SWT, yang artinya juga dia bukanlah seorang yang egois.

InsyaAllah ketika makna ‘egois’ kita tempatkan sebagaimana yang disepakati oleh masyarakat luas, tentu tidak akan ada paradoks dalam memaknai hadits Rasulullah SAW yang menyatakan “Tidak sempurna iman seseorang hingga dia mencintai orang lain sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri”. Karena sesungguhnya hadits ini tidak sedang berbicara tentang orang yang egois, tetapi berbicara tentang “orang yang mencintai dirinya sendiri”, orang2 yang beriman yang tidak akan rela jika diri dan keluarganya mendapatkan murka Allah SWT, yang kalau dalam bahasa Al Quran, “..Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan..” (At Tahrim:6). Nah, keimanan seorang muslim tidak/belumlah sempurna meski ia telah menjaga diri dan keluarganya dari api neraka Allah SWT(keshalihan pribadi), tetapi hanya akan menjadi sempurna jika ia terlibat dan aktif dalam usaha memelihara orang lain/masyarakat dari api neraka Allah SWT(membentuk keshalihan sosial) sebagaimana ia tidak rela jika hal itu terjadi dengan diri dan keluarganya. Inilah konteks yang bisa dipahami dari hadits diatas. jadi apakah ada paradoks dari hadits diatas?? tentu saja tidak. wallahu’alam.

wassalamu’alayum warahmatullahi wabarakatuh

19. itsme231019 - November 19, 2007

salam. bolehkan saya ikut partisipasi. bagi saya, egoisme itu sangat individualistis. maka muslim yang sosialis lebih bagus daripada muslim yang egois. bayangin aja, jika seseorang menjadi muslim tapi egois, bagaimana dia harus menjalankan keislamannya yang menyuruhhnya untuk peduli sosial. maka muslim yang ideal adalah muslim yang berusaha berkontribusi baik buat dirinya lalu orang disekitarnya, sehingga keislaman dia tidak teralienasi dari fungsinya sebagai makhluk sosial. jadi istilahnya harus ada balance antara hubungan personal dia dengan tuhannya, dan hubungan dia dengan lingkungan sosialnya. so, menjadi muslim egois, kagak ah….terlalu kapitalis dan individualis.
but, bagus tuh biar merangsang kesadaran kritis
salam.
ahmad, saudi arabia

20. nita - Februari 13, 2008

mau bilang “jangan egois” aja kok panjang… dan lama…. :D

21. noerma123 - Februari 24, 2008

mengajak orang baik jadi baik bukan berarti sia2…toh orang baik juga harus dijaga biar tetep baik…

disatu sisi emg harus fastabiqul khairat….tapi kita juga harus saling menasehati kan

22. Tri Sugiyantowo - Februari 29, 2008

Ya, menjadi muslim yang ‘egois’, “mati sendirian masuk surga juga sendirian”, -he..he..he..-, hidup ini memang menarik meskipun aku terkadang kebingungan. Kayaknya OK juga untuk dicoba sebenarnya seberapa egoisnya aku.

Makasih tulisannya

23. trijokobs - Maret 14, 2008

Assalamu’alaikum.
artikel siip..
amar ma’ruf nahi munkar, tidak harus menunggu hapal alqur’an dan
ngerti semua hadits..
Wassalam

24. Cahyo nieh - Mei 5, 2008

Pertama, kita masuk surga dengan berbondong-bondong.
Kedua, kita masuk surga hanya karena kasih Alloh, dan tidak karena yang lain.
Ketiga,dalam Islam ada konsep amal jariyah yang berarti amal orang berguna bagi kita. Juga banyak konsep Islam lain yang maknanya serupa demikian.
Keempat, paradoks kan jika ditinjau dari satu perspektif, konsep egois. Dalam pandangan Buya Syafi’i jika dilihat dalam konsep Islam, individu dan masyarakat itu satu.
Kelima, Islam itu turun untuk orang yang bermasyarakat dengan baik.

‘ala kulli halin, nice article mas!

25. Fikar - Mei 13, 2008

Salam Kenal

26. pian - Juni 9, 2008

islam bukan merupakan agama yang egois…tapi islam mengajarkan kepada kita agar kita tidak bergantumg kepada orang lain…agar kita dapat beramal dengan max…bukan mengandalkan kepada amal orang yang kita tidak mengarjakannya..trus saya juga sependapat dengan pendapat abu bahwa kita jangan menggunakan “pendapat saya” kalau ingin berhujjah tentang islam..ok

27. susiyanto - Juli 3, 2008

setelah kata “sunat” jadi korban untuk menggambarkan kejahatan pengusasa yang suka korup, eh ini muncul lagi frasa muslim egois. ah jangan mbuat-buat lagi. Harus dibedakan bahwa nama agama kita Allah bukan sekedar Islam tapi Al Islam dan umatnya bukan sekedar muslim tapi Al Muslimun (jama’). Jadi Al muslimun itu harusnya memang ndak egois. dan ndak ada itu istilah muslim egois. Bukan Al Muslim mereka yang mencuri, bukan Al Muslim mereka yang berzina dan yang egois tentu juga bukan … (bukan fatwa pokoknya).

28. norie - Juli 11, 2008

Terimakasih atas pelurusan yang Mas lakukan pada tulisan saya. terimakasih telah mengingatkan saya yang ceroboh ini.
makasih ya. :)

29. arief_dj™ - Juli 21, 2008

…kalo baca-nya gak selesai, orang bisa salah nangkep.. sip, mas faujay, artikelnya menarik, meskipun ada yg sedikit ‘beda’ dalam cara pandang..ehm.. masalah surga itu lho..

30. Xaliber von Reginhild - Oktober 5, 2008

Ah, awalnya saya sempat berpikiran ‘lain’ waktu membaca beberapa paragraf pertama. Tapi setelah baca sampai selesai, barulah mengerti maksudnya.

Betul kata mas arief_dj, kalau cuma fas rid ( :roll: ) dan dibacanya ngga selesai, bisa salah nangkep. Artikel menarik. :D Tapi kalau melihat dari konteks egois yang mengejar pahala itu, kesannya terdengar agak oportunis ya? :?

31. anu - November 6, 2008

islam memang egois coba aja kalo ada muslim meninggal mereka konvoy sambil ngibarin bendera kuning gak jelas ganggu semua orang… egois banget tuh teroris…

tiap solat teriak teriak di mikropon kayak org dodol…
ganggu orang tidur…

ada gereja dilarang karena mengganggu.. nah dianya gak ngaca tuh

terorisssssssssssss

32. Rindu - Januari 5, 2009

Saya sudah baca 2x tapi belum ngerti egosinya muslim dimana? :)

33. scouteng - Juni 28, 2009

yang tidak saya mengerti justru paradoks itu apa? he..he..

itulah islam, sangat kompleks, belajarnya tidak boleh setengah2