Generasi Malas Membaca Juni 21, 2007
Posted by fauzan.sa in Uncategorized.trackback
Ini entah tulisan yang keberapa dari sedikit tulisan saya yang aktual. Entah tulisan saya yang keberapa pula ini dari sedikit tulisan saya yang emosional. Ditulis karena emosi yang meluap, bukan karena kesadaran maupun hasil renungan. Saya nggak akan membahas indeks baca masyarakat Indonesia yang rendah. Tidak akan pula ditemukan di sini kasus buku mahal dan buku bajakan. Tidak akan saya mengkritisi pendidikan Indonesia, yang tidak mau mengajarkan anak-anak Indonesia untuk terbiasa membaca. Saya cuma mau cerita saja apa yang baru-baru saya alami.
Siapa yang nggak kenal Taufiq Ismail. Tokoh nasional, sastrawan, budayawan, sekaligus aktivis yang gigih menentang komunisme. Walaupun seminar gratis tanggal 2 Juni di UAD menghadirkannya, saya nggak terlalu semangat, jika teman saya tidak memaksa saya mendatanginya. Saya pikir, temanya terlalu biasa. Soal komunisme dan orientalisme. Sampai tiba giliran Pak Taufiq menyampaikan ide-idenya.
Tadinya saya berpikir, ah budayawan tau apa soal komunisme. Dia khan praktisi, bukan akademisi. Tapi, saya salah kira. Jangan dikira budayawan tak suka membaca. Jangan beranggapan jika mereka hanya suka buku-buku sastra. Taufiq Ismail memaparkan bahaya komunisme dengan cara yang ilmiah. Mengutip pendapat Marx-Engels dari Manifesto Komunis, beserta pemikiran-pemikiran petinggi komunis yang lain. Tapi, tetap dengan gaya berapi-api seorang sastrawan.
Luar biasa! Itulah yang tiba-tiba terlintas dalam pikiran saya. Mulanya, saya menganggap seniman itu cuma tukang rekayasa dan suka bikin propaganda. Sekarang, saya tahu itu tidak cukup untuk menentang Lekra di masa lalu. Tadinya, saya mengira mereka cuma pemapar ideologi dengan gaya selangit, tidak ilmiah, bahkan tidak paham apa yang mereka paparkan sebenarnya. Ternyata, mereka adalah ideolog sejati yang sangat paham betul apa yang diomongkannya. Seni, sastra, dan budaya, walaupun produknya tidak eksplisit, tidak ada kutipan, tidak terang benderang, tapi berdasar atas pemahaman yang kuat mengakar. Itulah pandangan saya tentang Taufiq Ismail. Mantan pengagum komunisme, yang berubah haluan gara gara membaca “Islam dan Sosialisme”-nya HOS Tjokroaminoto. “Tauhid saya terjaga karena membaca buku tersebut.” Itu kata-kata beliau.
Dari situ, saya berpikir bahwa membaca jadi hal yang sangat penting. Sangat-sangat penting, hingga pengen rasanya supaya Allah mewajibkannya. Membaca dan menulis, siapapun anda, haruslah dilakukan. Ada yang bertanya, mengapa kamu tidak memilih menulis sebagai mata pencarianmu? Tidak, itu tidak perlu dilakukan. Menulis dan membaca, haruslah dilakukan tanpa tergantung profesi kita. Hanya dengan keduanya, kita jadi orang berilmu yang dikatakan jauh lebih mulia dari seorang ahli ibadah mahdhah. Membaca dan menulis, tidak perlu ditonjolkan. Karena seharusnya setiap muslim bisa melakukannya. Yang tidak bisa dilakukan setiap muslim, itulah fardhu kifayah. Itulah bagian dari profesi dan spesialisasi kita. Profesi Pak Taufiq adalah seniman, apa yang dihasilkannya adalah karya seni. Tapi, bukan berarti dia tidak bisa menulis buku serius. Bacalah, dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.
Oleh karena itu, saatnya melakukan diversifikasi bacaan. Jika biasanya yang selalu saya baca adalah karangan The Gang of Four, Three Amigos, Silberschatz, Tanenbaum, Martin Fowler, ataupun Ian Sommerville, saatnya membaca buku-buku lain. Huh, sayang saya terlalu kuper. Selain juga Petunjuk Jalan, Komitmen Muslim Sejati, Fatwa-fatwa Kontemporer, Manhaj Haraki, History of Quranic Texts, saya nggak punya judul-judul lain. Rasa-rasanya tidak terlalu tertarik untuk membaca buku-buku kiri, kristologi, islam liberal / orientalis, ataupun buku-buku yang lainnya. Bahkan, buku-buku Islam sendiri pun kadang malas baca. Ah, mana mungkin orang kayak gini bisa jadi da’i yang produktif? Kita nggak ingin khan, ketika ditanya soal Teorema Bayes bisa menjawab lancar, ketika diberikan wacana sosialisme jadi tulalit. Yah, satu-satunya cara untuk mengatasi malas membaca ini ya, JANGAN MALAS!
Tapi, tiba-tiba … bruk! Adaoww! Reality bite is hurt. Saat ini bisa enak-enakan karena ada orang tua. Sebentar lagi, saya harus berpikir gimana bisa ngasih makan istri dan anak. Dan, saat itu nggak mungkin lagi saya kenal Thomas Aquinas, Jaques Derrida, Hume, Arkoun, Harun Nasution, Nurcholis Majid, Adian Husaini, Kruschev, Marx, Hegel, Engels, Nietsche, dan Ahmad Deedat. Mereka semua sudah lenyap dari hadapan. Yang ada cuma rasa lapar dan gimana cara bisa dapat uang.
Karena itu, saya ingin kaya. Saya ingin kaya dengan tangan sendiri. Agar bisa menghabiskan 500 ribu rupiah per bulan untuk membeli buku dan membacanya. Makan, baju, kendaraan, nanti dulu. Yang ini lebih enak. Yang lain cuma perlu cukupan. Buku, adalah samudra ilmu tak terbatas. Tapi, itu juga kayaknya agak susah. Mana sempat baca buku kalau anak kita sakit-sakitan, suka mengompol suka rewel, kalo sudah besar nanti jadi bandel, mencuri mangga tetangga sebelah, main seharian nggak pulang-pulang, mana sempat itu semua dilakukan? Belum lagi masalahnya istri dan kantor. Alhamdulillah ibu saya menyarankan saya menikah di usia 28 tahun. Doakan saya mendapat pekerjaan layak klas menengah sebelum usia 24, dengan jam kerja yang wajar. Itu berarti, ada empat tahun untuk bersenang-senang dan menikmati masa muda dengan segala budaya intelektual itu. Awas! Jangan dibilang onani intelektual lho! Onani intelektual itu kalau ada anak kiri yang HP-nya Nokia N-Gage. Suka Sosialisme tapi berakhlaq borjuis.
Begitulah, ikatlah ilmu dengan menuliskannya. Sebarkanlah ilmu dengan menuliskannya. Berdakwahlah dengan menulis, karena itu dakwah paling mudah bagi orang yang diberi bakat kecerdasan dan kecintaan pada ilmu pengetahuan. Membacalah selagi anda masih bisa membaca. Menulislah ketika anda punya kesempatan menulis. Tidak semua orang dapat kesempatan yang mulia ini.
Mas, koreksi. Ejaan yang betul itu November-India-Echo-Tango-Zulu-Sierra-Charlie-Hotel-Echo
Salam
[...] saya tidak tau apa apa melainkan hanya berusaha mengingat sedikit dari sedikit yang pernah saya baca. Kenafa bahasa Arab yang dipilih oleh DIA? Padahal karena saking rumitnya dan kompleks serta [...]
Saya cuma tau Taufik Ismail sebagai nama saja. Bahkan puisinya pun jarang yang saya tahu. Generasi malas membacakah saya? Semoga bukan.
Buku online juga banyak dan gratis kok. Coba deh:
guttenberg.org
Maaf typo. Yang betul:
http://www.gutenberg.org/wiki/Main_Page
setuju menulis dan membaca bukan terkait dengan profesi… inilah mungkin yang menjadi kendala sementara orang.
Dikiranya menulis adalah pekerjaan si penulis demikian juga si pembaca
berita.saya ingin sekali punya perpustakaan sendiri yang gedeeeeeeee banget
Salam kenal
yah.. saya juga pengen punya duit banyak, bukan hanya untuk beli buku tapi juga buat perpustakaan/taman bacaan buat yang gak punya akses ke buku.. supaya semakin banyak yang menikmati petualangan pemikiran di setiap lembarnya..
salam