Jadilah Orang Lain Mei 22, 2007
Posted by fauzan.sa in Uncategorized.trackback
Salah satu episode Oprah yang menarik bagi saya adalah ketika diceritakan bahwa anak-anak yang berumur sekitar 5 tahun sudah terobsesi dengan kecantikan. Bacaan anak-anak itu bukanlah komik atau majalah anak-anak, tetapi katalog Victoria’s Secret. Anak-anak itu terobsesi menjadi orang lain, yaitu menjadi para model dengan segala kesan glamor yang ditampilkannya. Di akhir acara, Oprah berpesan, kamu bukanlah yang kamu pakai. Sehingga, yang paling penting adalah menjadi diri sendiri.
Itulah solusi masalah krisis kepribadian ala Amerika. Setiap orang punya kepribadian masing-masing. Jika dia merasa nyaman dengan kepribadian itu, maka pertahankanlah. Itu juga yang coba ditunjukkan oleh versi Disney dari cerita Aladdin. The moral of the story is about being yourself. Itu sangat wajar. Negara bebas seperti Amerika membolehkan warganya bertingkah laku semaunya. Bahkan orang yang aslinya homo dipandang lebih baik jika dia mau mengaku homo.
Sebenarnya, semboyan untuk menjadi diri sendiri tidak sepenuhnya salah. Setiap orang punya kondisi keluarga yang berbeda. Mereka berasal dari latar belakang yang berbeda. Masing-masing juga punya bakat yang berbeda. Bukan pada tempatnya jika Quasimodo mengidolakan Tom Cruise, dan ingin jadi seperti dia. Bukan pada tempatnya, anak yang lulus SMA dengan nilai pas-pasan, mengidolakan Habibie. Itulah sebenarnya nilai positif dari semboyan ini.
Tapi, akan lain masalahnya jika semboyan ini ditarik ke arah motivasi dan keinginan, dan tidak lagi mendasarkan pada bakat dan kemampuan. Be yourself adalah semboyan hedonis, yang membuat orang-orang ingin bersenang-senang selamanya. Aku ingin telanjang, maka aku telanjang. Aku ingin berhubungan seks dengan sesama jenis, maka aku melakukannya. Aku ingin membunuh, maka aku membunuh. Inilah semboyan paling berbahaya. Be yourself bisa jadi semboyan yang sangat egois.
Di lain pihak, semboyan itu tidak cocok bagi umat Islam. Doktrin aqidah yang nomer dua mengisyaratkan, kita harus jadi seperti Rasulullah. Akhlaqnya adalah Al-Qur’an, karena itu dia wajib kita tiru. Jika be yourself mengisyaratkan bahwa kita tidak usah punya idola, maka idola wajib kita adalah Rasulullah Muhammad SAW. Karena itu, pada prinsipnya umat Islam tidak mengenal be yourself, tapi be Muhammad. Karena itu, muncullah sahabat utama seperti Abu Bakar. Muncullah sahabat dengan semangat mengikuti yang sangat besar seperti Ibnu Umar.
Tapi, bukankah ada sahabat-sahabat lain? Dan mereka sering yang tidak terlalu mirip dengan Rasulullah. Benar, ada Umar yang beberapa kali pendapatnya berbeda dengan Rasulullah. Ada Ali yang cerdas dan dia juga berbeda dengan Rasulullah. Ada Usman bin Affan yang sangat penyantun, bahkan Rasulullah sampai malu kepadanya. Ada Khalid bin Walid yang suka perang. Mereka semua berbeda dengan Rasulullah. Tapi merekalah yang dikatakan Rasulullah sebagai generasi terbaik. Salafush Shalih yang pantas menjadi teladan.
Jika semua mengikuti Rasulullah, mengapa mereka menghasilkan karakter yang berbeda? Itulah indahnya Islam. Islam tidak membentuk mereka semua menjadi orang yang sama persis, tapi menjadi pengikut Rasulullah yang memanfaatkan dirinya sesuai bakat dan kemampuannya. Ada sahabat yang tidak jadi berzina dengan nasihat The Golden Rule (Lakukanlah pada orang lain sebagaimana kamu ingin diperlakukan). Yang lain, membatalkannya karena disuruh berkata jujur. Ada yang masuk Islam ketika mendengar ayat Allah untuk pertama kalinya. Ada juga yang masuk Islam setelah menguji kerasulan Muhammad.
Islam mengajak orang-orang kepadanya dengan cara yang berbeda. Orang yang suka main perempuan, diajak dengan iming-iming 70 bidadari. Para pedagang diajak dengan jual beli dengan Allah. Orang-orang yang penakut diajak dengan ditakut-takuti dengan siksa Allah. Orang berakal diajak dengan tantangan untuk mempergunakan akal. Orang-orang yang suka dongeng diajak dengan cerita-cerita umat terdahulu. Cara yang berbeda inilah yang mengisyaratkan bahwa mengikuti Rasulullah itu tidak harus sama persis, walaupun sama persis pun juga boleh. Tidak ada sahabat yang menyalahkan Ibnu Umar atas tindakannya. Mengikuti Rasulullah adalah, menjalankan yang diperintahkan, dan menjauhi yang ditinggalkan. Mencintai dia, bershalawat kepadanya, berdoa agar bisa berkumpul dengannya, itu termasuk cara kita mengidolakannya. Kalau Rasulullah suka sop kambing, kita tidak perlu menyukainya. Kalau Rasulullah bersikap lembut pada istrinya, itu yang kita tiru. Menjadi Rasulullah berarti mengikuti akhlaq-akhlaq syar’iyyahn, bukan akhlaq-akhlaq jibiliyyahnya. Itupun, setiap orang akan merasakan hal yang berbeda. Ada yang lebih mahir mengikuti akhlaq tertentu, tapi tidak terlalu mahir mengikuti yang lain. Itu wajar, karena kita semua adalah karakter yang berbeda.
Itu tadi ketika kita bicara soal be yourself dari sudut pandang motivasi dan keinginan. Yang harus kita jadikan ikutan adalah Rasulullah, dan bukan diri kita pribadi. Lain lagi jika kita bicara hal ini dari sudut pandang bakat dan kemampuan. Rasa-rasanya, be yourself tidak terlalu salah berkaitan dengan hal ini. Benar begitu? Saya tidak setuju. Manusia itu bebas memilih. Dia boleh jadi siapa saja selama dia mampu, dan selama itu tidak bertentangan dengan Islam. Karena itu, be yourself bagi saya adalah absurd alias nggak jelas.
Saya lebih setuju jika be yourself diubah menjadi know yourself. Kenali diri kita sendiri. Ini yang penting. Caranya bisa dengan banyak hal. Bisa dengan merenung, bisa juga dengan bertanya kepada orang lain mengenai diri kita. Atau, bisa juga kita minta bantuan ahli psikologi untuk mengenali kecenderungan-kecenderungan kita, baik itu berkaitan dengan kepribadian, ataupun dengan bakat dan kecerdasan. Jika kita sudah tahu seperti apa diri kita, langkah selanjutnya adalah menentukan ingin jadi seperti apa diri kita. Kita adalah yang kita pikirkan. Karena itu semboyan be yourself tidak akan berakhir di mana-mana. Kita bisa jika berpikir kita bisa. Itulah semboyan yang bisa mengubah banyak hal dalam hidup kita, termasuk minimnya bakat. Yah, tentu saja jika diimbangi dengan pengetahuan akan diri kita, itu akan lebih baik. Kita jadi bisa mengukur seberapa jauh jarak kita yang sekarang dengan sosok yang kita inginkan. Ikuti Rasulullah, setelah itu jadilah siapa saja yang kamu inginkan.
nice thought of Jaya
Woooww
Aku nggak tau kalau ide mas itu benar atau salah
Tapi setiap aku membaca paragraf demi paragraf,
Yang terpikir adalah
Yeah.. rite!
sip banget nih!
Menurut Ma, tahap pertama itu dengan menerima diri kita,, mungkin disitu ‘be yourself’ itu dateng.. tapi kalo menurut Ma itu be yourself itu ga se-literary itu, tapi jadinya menerima kelebihan dan kekurangan kita,, dan bahagia menjadi diri kita sendiri,,
kalo kita udah bisa mencintai kita sendiri, kita bisa memaksimalkan kelebihan diri,,
masalah meneladani Rasulullah, Ma setuju banget,, karena itu kan role model manusia yang paling baik akhlaknya,, jadi ga salah dong kalo yang dijadiin panutan itu beliau,,
Jadi, bentuk, sifat dan hobi boleh beda beda, tapi dengan akhlak yang baik,, yang diikuti dari Rasul,,
(Eh, blom kenalan,, salam kenal!!)
eh,, baru inget,, masalah mengenal diri itu, pernah ada kalimat dari sayyidina Ali r.a yang kayanya lumayan pas..
“Barangsiapa yang mengenal dirinya, dia mengenal Tuhannya,,”
Piss!!
wagh itu bener,, bahkan bener banget…
know urself lebih unggul,,hehe..
tapi bahkan aku ga menyadari bahwa aku mengenal diriku sendiri….hehe..
Hmmm…Benar. Benar. Benar.
AsslmwRwB mas Jaya/wijaya/fauzansa (yg bener yg mana to),
Makasih banget atas tulisannya. Bener2 memberi pencerahan
Sudah semestinya kita memahami diri kita sendiri sebelum menggembar gemborkan semboyan “be yourself” yg ga jelas rimbanya.
Hehe…