Beranjak Dewasa Mei 22, 2007
Posted by fauzan.sa in Uncategorized.trackback
Apakah arti kedewasaan bagi seorang manusia? Dan apakah batas-batasnya? Ketika saya mencoba melihat referensi tentang ini dari film-film picisan ala Frame Ritz, jawabannya sungguh dangkal. Orang dewasa itu kalo dia tidak melakukan tindakan konyol, pendiam, dan tidak bikin malu orang. Yah, bagaimana tidak? Dewasa hanya diukur dari penampilan luar saja. Ketika saya membaca The Order of Phoenix, kedewasaan berarti kesabaran. Dumbledore yang sabar dan berpikiran panjang, melawan Harry Potter yang gelisah dan berpikiran sempit. Kalo teman saya bilang, dewasa itu berarti mau mengerti orang lain. Saya sendiri pernah punya kesan pribadi, bahwa dewasa itu berarti kompromistis dan lamban bertindak.
Yah, memang ukuran untuk sebuah kedewasaan itu jadi sulit. Jika mengacu kepada Islam, hasilnya lain lagi. Secara fisik, dewasa itu kalau seseorang sudah mimpi basah atau haid. Kalau diteruskan, dewasa itu artinya siap nikah dan punya anak. Itu ukuran besarnya. Itu garis batas yang membedakan dua hal, anak-anak dan orang dewasa. Dikatakan pula, anak-anak itu belum sempurna akalnya. Itu juga berarti, orang yang dewasa adalah orang yang bisa berpikir. Orang yang bisa membedakan mana baik dan mana yang buruk. Sebenarnya, yang manakah arti kedewasaan?
Saya tidak bilang ada yang salah dari pengertian-pengertian tersebut. Tapi, ada sudut pandang yang lain mengenai masalah kedewasaan ini. Setelah seseorang mimpi basah atau haid, maka dia menjadi mukallaf. Artinya, orang yang diberi beban. Dengan kata lain, setelah dewasa, orang terikat dengan berbagai kewajiban-kewajiban yang sebelumnya tidak pernah ada. Orang jadi terikat dengan pahala dan dosa dengan lebih kuat. Kewajiban menutup aurat dan shalat merupakan dua di antaranya. Tahu saudara kembar dari beban? Ya, dia adalah tanggung jawab. Menjadi dewasa, bagi saya adalah menjadi orang yang bertanggung jawab.
Satu hal lagi. Masih ingat tadi saya bilang orang dewasa berarti akalnya sudah sempurna? Selain tanggung jawab, menjadi dewasa berarti punya akal sehat. Dengan begitu orang gila tidak termasuk dalam kategori orang dewasa. Karena dia bukan mukallaf. Dua hal inilah, tanggung jawab dan akal sehat, yang menjadi ukuran dewasa atau tidaknya seseorang.
Karena itu, dewasa atau tidak dewasa bukanlah masalah seberapa pintar seseorang. Bukan pula berkaitan dengan seberapa sabar seseorang, atau seberapa luwes dia. Jika seseorang tidak bertanggung jawab, maka dia tidak dewasa. Jika dia tidak beres melaksanakan amanahnya, maka itulah kekanak-kanakkan. Jika seseorang tidak mau menerima amanah padahal dia mampu, maka dia tidak mau jadi dewasa. Jika seseorang suka menyalahkan orang lain, tidak akan pula disebut sebagai dewasa. Entah dia itu cerdas atau bodoh. Berpikiran panjang atau sempit, keras atau lembut, berani atau penakut, kalau tidak mau bertanggung jawab, itulah tidak dewasa.
Begitu pula dengan akal sehat. Jika seseorang tahu hal yang salah namun tetap dilakukan, berarti dia anak-anak. Jika dia sombong, tentu saja tidak pantas disebut sebagai orang dewasa. Tahu kebenaran tapi menolaknya. Tahu bahwa seseorang bisa jadi lebih mulia dari dirinya, tapi meremehkannya. Dan, yang begini ini adalah sikap kekanak-kanakkan dari orang-orang tua. Tidak punya akal sehat. Gengsi dan kolot. Tidak mau mengaku salah sama yang muda dan minta maaf. Begitu juga dengan kelunturan idealisme ala orang-orang tua. Yang salah bisa jadi benar karena mereka sudah capek menyalahkannya. Yang haram bisa jadi halal karena perut mereka disandera. Begitu pula dengan orang yang suka ikut-ikutan. Yang ini khas anak muda, tetapi kadangkala orang tua juga melakukannya. Nggak tahu mana benar dan mana salah, yang penting ikut asal hati senang, gembira dan tenteram.
Begitulah kedewasaan itu. Suka pakai pakaian aneh dan bertingkah laku aneh bukan berarti tidak dewasa. Suka teriak-teriak bukan berarti tidak dewasa. Banyak bercanda bukan berarti tidak dewasa. Tidak dewasa itu jika orang tidak mau bertanggung jawab dan tidak mau berpikir. Itulah yang saya pahami. Karena itulah, beranikan diri menerima tanggung jawab, karena itulah pintu kedewasaan kita. Jagalah diri agar bertindak sesuai akal sehat, itu juga makna sebuah kedewasaan.
1. Satoe, pertamax!
Ma terharu bacanya,,
masalahnya Ma dianggep ga dewasa gara gara suka becanda,,
tapi emang ga boleh keseringan kali ya,,
harus belajar bertanggung jawab?? siip,, Ma bakal belajar,,
Saya setuju dengan apa yang anda katakan…
Suka bercanda dan teriak, bukan berarti gak dewasa…
Adakalanya kita butuh santai, gak sok jaim, atau apalah namanya.
Logikanya, mesin aja butuh istirahat, apalagi kita yang manusia. Adakalanya keras, lembut, tegas, impatik, sabar, humor, dsb.
Iya kan….???
thanks untuk bacaannya. membuatku menjadi lebih jels dan paham
suka banget sama tulisannya ..
boleh saya kutip nggak?
tentunya saya akan lampirkan nama dan link blog anda
Boleh dong. Silakan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.