Pahlawan Super Mei 4, 2007
Posted by fauzan.sa in Uncategorized.trackback
Cerita-cerita pahlawan super memang selalu menarik. Walaupun mungkin pada asalnya ditujukan untuk anak-anak, cerita-cerita semacam ini selalu bisa dinikmati oleh orang dari berbagai kalangan. Bahkan, ada kecenderungan baru saat ini. Pahlawan-pahlawan DC Comics dan Marvel mulai merambah ke usia-usia yang lebih tua. Sebut saja Superman dengan Smallville dan versi Dean Cain – Teri Hatcher. Smallville jelas untuk remaja, sedangkan kisah Superman ala Dean Cain? Akting sensual mereka jelas bukan untuk anak-anak. Kisah Spiderman juga begitu. Adegan ciuman Mary Jane dan Peter Parker jelas tidak bagus jika ditonton untuk anak-anak. Hey, jangan protes dulu atas penilaian saya! Saya tidak melulu menilai umur berdasarkan adegan seksnya. Tapi, kisah Peter Parker yang kutu buku dan susah membagi waktu adalah khas anak remaja.
Sekarang saya tidak sedang mengkritik adegan seks dan kekerasan dalam film-film superhero. Saya sedang mengamati teladan kepahlawanan yang diberikan oleh mereka. Kalau saya boleh berpendapat, pahlawan ala Amerika yang digambarkan dalam film-film pahlawan super tersebut selalu punya kekuatan di atas manusia biasa dan selalu menyelamatkan orang-orang lemah seorang diri. Pahlawan super adalah penyelamat dunia yang soliter. Memang sih, ada kalanya mereka bekerja sama dan keroyokan dalam menghadapi penjahat. Di mana lagi kalau bukan dalam seri Justice League. Tapi, cerita-cerita Justice League bukanlah yang banyak diminati orang. Buktinya, yang dibuat menjadi film layar lebar tetap pahlawan super yang sendirian. Daredevil, Spiderman, Superman, Hulk, dan banyak lagi contohnya.
Sayangnya, bagi saya mereka bukanlah pahlawan yang sebenarnya. Pahlawan ala Amerika, adalah pahlawan dengan tingkatan yang paling rendah. Coba kita lihat sama-sama. Pernahkah Superman terlibat dalam perjuangan membebaskan bangsa yang tertindas? Pernahkah? Pernahkah Superman terlihat menghentikan perang saudara? Tidak pernah khan. Lalu, apa yang dilakukannya? Menghadapi Lex Luthor satu lawan satu. Memangnya kenapa? Bukankah Superman menyelamatkan dunia? Ya, tapi dia selalu menyelamatkan dunia dari satu orang saja. Itu berarti dia bukan pahlawan sejati, karena dia tidak pernah menolong orang dari ketakberdayaan. Dia justru melestarikannya, dan semakin memperkuatnya dengan ketergantungan pada dirinya.
Namun, cobalah sejenak untuk melihat beberapa legenda dari daratan Eropa. Fellowship of The Ring misalnya. Memang, tujuan mereka hanya satu, menghancurkan cincin Sauron. Tapi, yang mereka lakukan sungguh luar biasa. Membebaskan Rohan, membangkitkan semangat bangsa Ent, bersekutu dengan pasukan hantu, dan menggerakkan Gondor menyerang benteng Sauron. Tidakkah itu hebat? Kalau itu terlalu fantastis, coba kita beralih sejenak pada legenda kecil dari Inggris. Siapa yang tidak kenal dengan Robin Hood. Robin Hood memang terlihat seperti pejuang soliter karena kehebatannya, tapi dia bukan apa-apa tanpa kawanannya. Bahkan, dialah yang memberi energi pada kawanan itu sehingga perjuangan mereka menjadi perjuangan politis, melawan saudara raja dan Sheriff of Nottingham yang kejam. Terakhir, siapa yang bisa lupa dengan William Wallace. Saya begitu terkesan ketika melihat akting Mel Gibson dalam Braveheart. William Wallace, adalah pejuang hebat karena dia membangkitkan rakyat Skotlandia, walaupun akhirnya dikhianati oleh bangsanya sendiri. Merekalah para pahlawan besar. Merekalah yang lebih layak dipuji daripada Batman, Superman, atau siapapun itu, karena mereka juga membantu orang lain menolong dirinya sendiri.
Dengan begitu, memang kepahlawanan itu dekat dengan kepemimpinan. Dan, memang tidak semua orang mampu jadi pemimpin. Tidak semua orang bisa membuat orang lain didengarkan. (Tidak semua orang punya orangtua kaya Raya yang tinggal di kota Gotham, itu juga perlu diingat). Walaupun begitu, ada kuncinya jika mau menjadi pahlawan besar. Jadilah yang pertama menolong orang lain. Jadilah perintis jalan, pendobrak peradaban, dan pelopor perubahan. Untuk jadi yang pertama, memang akan sangat sulit. Karena itu, kunci yang kedua, bersiaplah untuk mengorbankan apa saja demi perjuangan itu. Karena menjadi yang pertama, berarti pertama kali melakukan kesalahan. Menjadi seorang pemimpin, berarti telunjuk semua orang akan mengarah kepada anda. Karena itulah orang disebut pahlawan. Karena mereka berani menghadapi risikonya. Yang ketiga, seorang pahlawan disebut pahlawan bukan karena dipuji-puji masyarakat banyak. Tapi, karena dia mencoba menyelamatkan masyarakat banyak berdasarkan prinsip yang diyakininya. Karena itulah, jangan pernah terpengaruh oleh pujian dan cacian banyak orang. Pegang prinsip dengan teguh. Itulah tiga kunci untuk menjadi pahlawan besar.
Tidak semua orang berani melakukan yang demikian. Namun, bukan berarti kita bukan pahlawan jika tidak melakukan hal tersebut. Kita juga pahlawan, jika kita berada di samping pahlawan besar untuk menolong orang-orang yang lain. Ingat kunci seorang pahlawan. Mereka menolong orang lain agar bisa menolong dirinya sendiri. Ikutilah dia, dan tolonglah lebih banyak orang agar bisa mengikutinya. Jika kita juga tidak bisa melakukannya, terpaksalah kita menjadi pahlawan kecil. Inilah posisi pahlawan-pahlawan Amerika. Menolong orang lain dan mengutamakannya dibanding diri sendiri, agar mereka bisa selamat. Jika itu juga tidak mampu kita lakukan, tolonglah diri kita sendiri terlebih dahulu. Karena boleh jadi kita sendiri tidak mampu menolong diri sendiri. Jika tetap tidak mampu? Jelaslah bahwa kita adalah pecundang sejati. Bahkan menyelamatkan diri sendiri saja tidak bisa. Betapa bodohnya kita.
Pahlawan itu diciptakan, dan bukan dilahirkan. Kepahlawan adalah sikap dan bukan takdir. Tolonglah diri sendiri. Setelah itu, tolonglah orang lain. Kemudian, buat mereka mampu menolong dirinya sendiri. Selanjutnya, jadilah orang yang pertama dalam melakukannya, maka anda adalah pahlawan besar. Mulailah bekerja dengan tulus dan penuh keteguhan. Hindarkan kesombongan, maka anda adalah pahlawan sejati. Bekerjalah demi dan dengan kekuatan Allah, maka anda adalalah pahlawan dengan banyak keberuntungan.
Pertamax!!! (lagi)
Nek Baja Hitam RX termasuk pahlawan kelas rendah bukan? Dia berjuang menyelamatkan bumi dari invader Gorgom dan Crisis.
Nek Maximus termasuk yg mana? doi berjuang untuk keluarganya atau untuk demokrasi Roma yg dititipkan padanya?
Nek Mc Clane termasuk pahlawan ora? menyelamatkan orang di dalam hotel atau menyelamatkan istrinya?
nek Diponegoro?
wah kayaknya banyak Pahlawan yg bisa kita tiru, sayangnya skrg penjahatnya mankin banyak dan kadang penjahatnya “pren” kita sendiri secara tidak langsung… sedih…
Yup setiap orang bisa jadi pahlawan.. klo kita mau. Kisah kisah diatas baik fiksi dan non fiksi tentu dapat mengilhami kita bagaimana caranya menjadi pahlawan. Tapi kok pahlawan di film2 hollywood itu nasibnya sedih terus ya, kebanyakan sih… kayak Spiderman or Superman kisah cintanya kok kayak gitu ya, ga happy ending–malah mengorbankan kepentingan pribadinya. Hiks.
Hehehe sebagai seorang pecinta komik Amerika saya terpanggil untuk sedikit memberi klarifikasi.
Pertama ditulis bahwa para costume adventurer (ini istilah awal sebelum term superhero muncul) adalah orang-orang yang bukan team-player.
Sebenarnya para costume adventurer ini bekerja sendiri-sendiri karena berbagai alasan, ada yang paranoid seperti Batman, ataupun ada yang anti kemapanan model Spiderman. Atau karena sebagai costume adventurer mereka merasa lebih enak menjaga privasi mereka dengan tetap bekerja sendiri.
Dalam kontiunitas sekarang baik di Marvel ataupun DC, judul-judul dimana para costume adventurer ini bekerjasama justru laku keras. Selain karena adanya mega-event (peristiwa yang melibatkan banyak tokoh, seperti Identity Crisis-nya DC atau Civil War-nya Marvel) juga karena para penerbit memang bermaksud menggunakan cerita saat mereka bekerjasama sebagai bagian dari cerita saat mereka going solo.
Kedua tentang apakah mereka pernah menghentikan perang saudara, kemiskinan dan problem manusia lainnya. Sebenarnya mulai tahun 70-an, komik Amerika mulai memasukkan isu isu sosial dalam cerita yang mereka angkat. Puncaknya pada tahun 90-an dimana komik Amerika berisi tema-tema yang sangat dewasa.
Saya ambil contoh Superman yang disebut ‘hanya’ melawan Lex Luthor. Dalam kontinuitas yang berlaku sekarang Lex sempat terpilih menjadi presiden Amerika Serikat. Bayangkan ironi Superman yang berjuang demi ‘Truth, Justice dan American Way’ berhadapan dengan Lex yang menjadi presiden negara yang dicintainya tsb.
Atau cerita ‘elseworld’ (diluar kontinuitas) berjudul Superman : Red Son dimana Superman diceritakan jatuh di Ukraina dan bukan Kansas sehingga pemikirannya pun menjadi totaliter dan sedikit fasis. Disitu diceritakan bagaimana Superman benar-benar mengubah dunia menjadi lebih baik/teratur tapi pada akhirnya Supes sadar bahwa ‘peran’-nya di dunia ini sebatas sebagai inspirasi. Agar manusia bisa berkembang dia kemudian memutuskan menyingkir dari bumi, bahkan dari Fortress of Solitude-nya yang di kutub utara.
Mungkin cerita yang lebih pas ttg pertanyaan mengapa para costume adventurer ini tidak memanfaatkan kemampuan yang mereka miliki untuk memperbaiki keadaan dunia secara global dapat dilihat di kisah Justice League dalam ‘Kingdom Come’ dan ‘Justice’ karya Alex Ross. Para bad-guy menggunakan alasan itu untuk menunjukkan bahwa para costume adventurer itu sengaja melanggengkan status-quo, sehingga mereka berpendapat justru merekalah ’sahabat manusia’ sebenarnya. Di Kingdom Come Superman sempat mengamuk hingga hampir menghancurkan kantor UN sebelum ditenangkan Wonder Woman dan costume adventurer lainnya.
Para costume adventurer ini dalam kehidupan sehari-hari ttp menjalankan tugas kemanusiaan semacam membantu bila terjadi bencana alam atau kecelakaan. Dalam komik Superman tidak terhitung banyaknya penggambaran semacam ini. Hanya saja tentunya adegan mereka melawan para penjahat, membongkar konspirasi jahat merupakan bagian yang lebih banyak disorot oleh pembaca dalam mengenali sisi ’superhero’ mereka.
Intinya mereka tidak ingin manusia tergantung pada mereka, rata-rata para costume adventurer ini banyak yang memilih menjadi inspirasi bagi manusia dalam mengembangkan kemampuannya. Dengan begitu mereka ttp menjadi pahlawan di hati masyarakat.
Sedikit tentang Batman, mungkin mudah saja bagi seorang milyuner untuk bermain-main sebagai superhero, ttp tidak tiap milyuner memiliki keberanian yang dimiliki Bruce Wayne untuk tiap malam berayun di belantara Gotham.
Atau kalau anda kenal karakter Blue Beetle, Ted Kord sampai bangkrut hanya untuk membiayai aksi costume adventurernya.
Mengakhiri comment yang ,maaf, panjang ini, saya menangkap kesan kalau anda menggeneralisir bahwa komik Amerika sekadar aksi pukul-pukulan. Sebagian dari lini produk DC/Marvel memang masih berkisar ttg hal itu, tapi bagi pembaca yang ingin mendapat sisi lain dari petualangan seorang costume adventurer juga tetap bisa memperolehnya. Mungkin karena itu anda kaget akan adegan ciuman MJ dan Peter Parker.
Saya rasa tahun depan anda akan lebih kaget lagi saat menyaksikan ‘Watchmen’ yang diangkat dari karya Alex Ross dari lini komik dewasa DC, Vertigo, di layar lebar. Untuk persiapan mungkin anda bisa menyaksikan/membaca karya Alex Ross lainnya yaitu V For Vendetta, yang semacam pengantar akan sistem anarki.
My bad, koreksi sedikit, Watchmen dan V For Vendetta adalah karya Alan Moore
Terima kasih atas koreksinya mas. Tambahan yang sangat berharga. Dan, itulah wajah komik Amerika sekarang. Komik-komik sekarang (dari tulisan anda) ternyata sudah jauh lebih dewasa.
Sekedar pembelaan (dasar egois narsis nggak mau ngalah
), Cerita-cerita “kembangan” seperti itu tidak mungkin muncul pada saat awal adanya komik khan? Jadi, mungkin saja deskripsi saya lumayan tepat untuk Amerika di jaman lama. Ato mungkin karena barunya komik saat itu sehingga cerita mereka juga belum dewasa?
Setelah membuka wiki untuk “menyegarkan ingatan” (mencari info ding
) Cerita awal Siegel and Shuster di tahun 40-an ttg Superman justru kental dengan nuansa permasalahan sosial. Superman dikisahkan sering berhadapan dengan lawan-lawan yang menonjokan sifat jahat manusia. seperti lintah darat, koruptor, mafia, tiran bahkan pelaku KDRT. Arch-enemy Supes si Lex Luthor sendiri merupakan kombinasi tertinggi dari semua sifat jahat manusia (meski karakter Lex sendiri sering berganti kepribadian ,kadang sekadar lihai dalam memanfaatkan kesempatan tanpa bermaksud jahat, mengikuti pergantian penulis cerita).
), walau demikian tidak ada yang menandingi keuletan Lex dalam menghadapi Supes.
Setelah booming Science Fiction di era berikutnya muncul musuh-musuh dengan kekuatan kosmis (dan kostum yang warna-warni
Meski era Siegel and Shuster masih menampilkan permasalahan secara ‘hitam-putih’ mereka meninggalkan ruang yang terbuka luas untuk dieksplorasi dengan pemahaman saat ini.
Sama seperti pahlawan yang disebutkan mas fauzan, para costume adventurer di komik Amerika memiliki ruang interpretasi yang beragam. Seperti halnya pemaknaan Peter Jackson akan LOTR, Mel Gibson di Brave Heart dan Kevin Costner di Robin Hood.
Mungkin bisa diartikan legenda yang baik adalah legenda yang membuka berbagai kemungkinan si pembaca/penontonnya mendapat nilai yang dia butuhkan dalam menjalani hidup
saya lebih suka dengan sipitung aslie betawie!!!!!!!!!!he he he~!!!!!!!!
ngomong-ngomong alexander luthor mirip pemain smack down yaitu kurt angel!!!!!!!!!!!
ngomong-ngomong alexander luthor mirip tukang loak!!!!!!!!!!!!!
alexander luthor kayanya mirip ituhhhhhh …………..kaynya ohhh ya tukang oncooooooooooommmmmmmmmmm yang di geplak ngebulllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllll
alexander hahahahah……………………gilaaaaaaaaaaaaaaaa…….si alex……..kaynya dah mati ya……………………….dan matinya sangat mengenaskan karna dia matinya ………………….di kreburinnn ama kluar ga bsarrrr gw yai tu lalerrrrrrrrrrrrrr……………………hahahahahahaa
IBU,,,pahlawan sejati dan pahlawan dengan banyak keberuntungan.
Thank u Allah,,, thank u Allah