jump to navigation

Konflik adalah Solusi Mei 4, 2007

Posted by fauzan.sa in Uncategorized.
trackback

Seringkali saya berdiskusi dengan bapak saya tentang berbagai hal. Mulai dari ide tentang nasionalisme hingga kesatuan agama-agama. Dalam diskusi itu kami mencurahkan ide-ide, berusaha mencari jawaban yang memuaskan bagi yang lain, menguji kebenaran berbagai pendapat dengan cara yang menurut kami ilmiah. Tidak ada permusuhan yang terlibat di sana. Meskipun perdebatan kami kadangkala jadi sengit, tapi tidak ada rasa benci yang terlibat. Tapi, ada satu pihak yang selalu terganggu dengan kegiatan yang sama-sama kami nikmati ini. Siapa lagi kalau bukan ibu saya. Apapun bentuknya, ibu saya selalu tidak tahan jika pembicaraan kami mulai seru. Akhirnya, jadilah selama setahun ini kami terpaksa “gencatan senjata” karena PBB selalu mengawasi.

Bukannya menggeneralisasi, tapi sering saya lihat perempuan adalah pihak yang sukar bersikap wajar dan tenang jika terjadi konflik. Jika anda sering nonton film keluarga, perempuan selalu merasa setiap pernyataan yang mempertanyakan pendapatnya adalah sesuatu yang memojokkan dia. Kesimpulan pendek yang muncul kemudian adalah pria pasangannya adalah orang yang tidak sayang kepadanya, dan lebih suka untuk membela orang lain daripada dirinya. Betapa anehnya. Benar dan salah selalu dikaitkan dengan suka tidak suka dan kasih sayang. Betapa menjengkelkannya.

Beberapa perempuan yang punya hati yang lebih baik punya pedoman yang sangat utama dalam konflik ini. Segala konflik adalah sumber masalah. Konflik adalah sumber permusuhan, sumber kehancuran, juga sumber perpecahan. Jika suatu saat ada teman suaminya datang dan mereka berdiskusi seru, saya menebak pasti mereka akan segera dongkol karenanya. Seorang teman saya memilih menyingkir dan meninggalkan seluruh keburukan yang terjadi di depannya gara-gara menurutnya konflik selalu membawa keburukan. Kalau tidak setuju terhadap sesuatu, saya tidak lantas langsung menentangnya. Saya memilih diam saja dan kemudian melakukan hal lain. Maksudnya dengan hal lain? Yaa, bahasa kasarnya adalah keluar, pergi, berhenti, atau menyingkir. Yah, memang hubungan antara perempuan dan konflik ini cuma anekdot. Ada juga perempuan yang bisa lebih rasional menghadapi sesuatu. But, lebih sering saya temui mereka yang tidak bisa bersikap wajar dan tenang terhadap konflik. Dan, beberapa laki-laki juga tidak bisa bersikap wajar dan tenang menghadapi konflik. Ada yang menuruti nafsunya begitu saja, ada pula yang memilih menghindar. Peace man. Islam itu damai dan menenteramkan. Mungkin begitu pendapat mereka.

Padahal, saya selalu berpendapat konflik itu tidak selamanya buruk. Bahkan, konflik kadangkala adalah sesuatu yang baik. Kalau dalam kehidupan rumah tangga (kok rumah tangga maneh, apa ini tandanya saya sudah pengen nikah ya?) konflik seringkali lebih baik daripada bersikap dingin dan anti-konflik. Demi tidak menyakiti hati pasangan, tidak mau protes atas apapun yang dilakukan ataupun disukainya. Apa artinya kalau sudah begitu? Tidak ada yang namanya saling memberi dan menerima. Semuanya adalah sikap saling menahan diri. Jika pasangan kita selalu setuju, apa gunanya punya pasangan? Jika kita selalu setuju dengannya, karena sayang padanya, kapan dia bisa belajar untuk menghargai orang lain? Asal, proses untuk melanggengkan saling memberi dan menerima jangan kebablasan. Yang ada, nantinya malah saling memberi dan menerima pukulan. Sudah ah. SOK TAU MODE -> OFF.

Konflik tidak bisa selalu dihindarkan atau diselesaikan dengan cara damai. Ada kalanya kita harus keras lawan keras. Ingat panutan kita Rasulullah SAW? Bagaimana jadinya jika beliau anti konflik? Wah, daripada disuruh menyebarkan Islam, mendhing saya damai aja deh sama kaum saya. Nggak akan Islam ini bisa berdiri jika tidak ada konflik. Bahkan, tidak hanya sekedar konflik, melainkan juga sampai saling membunuh. Berapa perang yang sudah dilalui Rasulullah? Badar? Uhud? Hunain? Khandaq? Tabuk? Perang-perang kecil yang lain? Agama ini ada dengan konflik. Karena itu, jangan menganaktirikan konflik dan menganakemaskan perdamaian.

Beberapa orang akan bilang, konflik itu akan selalu terjadi antara umat Islam dengan musuh Islam. Tapi, konflik yang terjadi antar gerakan Islam tidak bisa dibilang baik. Mereka selalu menjauhkan kita dari kesatuan umat demi menghadapi konflik yang lebih besar. Apalagi konflik internal. Energi kita akan habis hanya untuk membantai saudara kita sendiri. Akan lebih baik jika itu semua dihentikan dan kita saling bekerja sama.

Ucapan tersebut bagus. Saya sangat setuju akan hal itu. Tapi, umat yang satu komando adalah utopia menurut saya. Yang wajar dan mungkin adalah apa yang telah dikatakan oleh Eyang Hasan. Bekerja sama dalam hal-hal yang disepakati dan bertoleransi dalam hal-hal yang tidak disepakati. Itu baru mungkin, walaupun tetap saja masih sangat susah. Yah, gesekan-gesekan kecil antara para kader gerakan tingkat bawah yang belum matang susah dihindari. Yang penting, pintar-pintar para sesepuh saja untuk menjaga dan mendidik mereka.

Tapi, apakah syaratnya seseorang dianggap sebagai saudara sehingga berdamai dan bertoleransi akan lebih baik? Well, itu rada-rada susah memang. Batasnya agak abu-abu sih. Hmm, patokan utamanya adalah, apakah yang dilakukannya itu memperbaiki atau merusak umat? Ini juga patokan yang sangat relatif, dan kadangkala sangat individual. OK, saya akan uraikan saja menurut pendapat saya. Yang pertama, seseorang harus dilawan keras jika dia sadar penuh akan tindakannya dan dia juga keras kepala. Tidak boleh kita melawan keras jika ternyata dia hanya sekedar ikut-ikutan atau tidak banyak tahu yang dilakukannya. Yang kedua, untuk menutupi kesalahannya, dia lebih memilih personal attack dan character assasination daripada mengkaji metode orang lain yang berbeda pendapat dengannya. Awas, jangan mau ikut sama kyai itu, dia sesat. Awas, jangan ikut sama mas itu, dia sudah di-blacklist. Bahasa kerennya, tahdzir. Yang ketiga, dia tidak adil dalam mengambil pendapat. Apapun kata golongannya selalu diikuti, apa kata yang lain selalu dicaci maki. Kasarannya, fanatik dan taqlid buta terhadap pendapatnya atau pendapat golongannya. Yang keempat, tidak mau diajak bertukar pikiran dan selalu menghindar jika ada kesempatan. Itu artinya, dia tidak punya niat baik dan hanya mencari kemenangan diri, bukannya kebenaran. Nah, yang kelima, dia tidak pernah punya pandangan positif terhadap orang lain di luar dirinya atau golongannya. Jarang sekali keluar dari mulutnya perkataan yang baik tentang orang lain. Jarang sekali dia tidak punya rasa curiga terhadap orang luar.

Wah, kenapa syaratnya harus banyak sekali? Lha, memang iya jika itu yang terjadi antar gerakan atau dalam gerakan. Kadangkala konflik diperlukan untuk menghancurkan dan kanker-kanker gerakan ini. Apa artinya kanker? Jika yang dilakukannya selalu menghancurkan prinsip-prinsip Islam, walaupun dari luar mereka tampak solid. Jika yang muncul adalah sekumpulan akhlak yang lebih buruk, bukan yang lebih baik. Jika setelah menjadi aktivis mereka bahkan merasa diri mereka lebih tinggi dari sebelumnya, dan bukan semakin rendah hati. Jika setelah mereka merasa mendapat hidayah, mereka lebih memusuhi saudaranya yang juga berusaha konsisten dengan Islam, bukannya lebih mesra. Jika mereka menjadi lebih banyak su’udzhon daripada sebelumnya, itulah kanker. Dan mereka harus disingkirkan dan dihancurkan, karena boleh jadi pelakunya adalah intel jahat yang sengaja disisipkan ke dalam gerakan-gerakan Islam yang mulia. Dan bisa jadi mereka adalah setan. Siapakah orang yang sengaja dan dengan kesadaran penuh melakukan keburukan dan mengatakannya sebagai kebaikan selain setan? Jika dikatakan kesalahan ijtihad, mereka tidak mau diperingatkan. Apa yang terjadi jika sebuah lembaga dakwah mulai banyak kankernya? Kewajiban seorang muslim adalah amar ma’ruf nahi munkar. Konflik itu harus. Karena itu lawan mereka sebatas kita mampu. Jika sudah buntu, baru kita mundur teratur. Bukannya langsung mundur. Karena langsung mundur berarti kita tidak peduli terhadap saudara-saudara kita. Katanya muslim itu bagaikan satu tubuh. Kenapa pergi jika nyata-nyata di dekatnya ada kanker?

Karena itu, jangan takut dengan konflik. Islam tumbuh dan besar dengan konflik. Islam menjadi agama yang kembali murni dan dianut secara konsisten, juga dengan konflik. Masih ingat dengan demo anti pelarangan jilbab? Pernah dikucilkan warga sekampung gara-gara tidak mau datang saat selamatan? Atau, kita lihat contoh kasus konflik internal. Ingat kasus khawarij? Ingat Musailamah? Atau kisah orang-orang yang menolak zakat? Pengkhianat pengirim pesan kepada Makkah? Mereka semua adalah contoh-contoh konflik. Jangan takut dengan konflik, karena kita selalu hidup dengannya. Konflik adalah solusi.

Komentar»

1. salsabila - Juni 10, 2007

terlalu panjang dech!! saking panjangnya ni artikel membuat pening…………………………………………………………………………………….bagi yang membacanya but walo demikian tulisan ni sangat berarti banget bagi mereka yang lagi ditimpa masalah gituuuuuuuuuuuu!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

2. shabrina - Maret 21, 2009

q jg setuju dengan pendapat salsabila, tulisannya
terlalu banyak n bikin pusing..! coba bikin cerita menarik
pasti blog anda banyak yang tertarik…!

3. joesatch yang legendaris - April 24, 2009

@ 2 di atas

pening atau tidak, kadang-kadang tergantung dengan kapasitas intelektual pembacanya, kok :D

dan, dalam perkara bikin tulisan, saya pikir ya itu hak prerogatifnya yang punya blog; mau nulis yang ringan-ringan dengan tujuan supaya banyak yang tertarik berkunjung ke blognya, atau menulis sesuai apa yang ingin dilepaskan dari otaknya ;)

4. april - Agustus 8, 2009

konflik . .
pusng da nyri tugas gk ktmu’;