Kedengarannya Bagus Mei 4, 2007
Posted by fauzan.sa in Uncategorized.trackback
Mengejar kebahagiaan adalah tujuan setiap manusia. Kapan pun dan di mana pun, mereka mencoba mendapatkannya. Bagi orang-orang materialis, kebahagiaan artinya nafsu. Harta, Tahta, Wanita, dan segala kesenangan yang lainnya adalah satu-satunya tujuan mereka hidup. Orang-orang biasa hidup dengan cara yang biasa-biasa saja, karena biasa itu adalah kebahagiaan. Sekolah, kuliah, kerja, menikah, punya anak, mendidik anak, dan kemudian menikmati ketenangan di hari tua. Itulah arti kebahagiaan bagi mereka. Tapi, kadangkala kebahagiaan seperti itu kurang. Karena itu, mereka mencari kebahagiaan di antara terapi-terapi jiwa. Yoga, Kundalini, Buddha, Islam, dan agama-agama yang lain dijadikan pengisi kekosongan spiritual yang ada dalam “kebahagiaan-kebahagiaan” mereka. “Aku beragama agar hatiku tenang”, begitu kata mereka.
Yah, kekosongan yang ekstrem akan menghasilkan solusi yang ekstrem pula. Begitu pula dengan orang-orang haus spiritual. Mereka akan mengejar apapun yang kedengarannya bagus bagi jiwa. “Seluruh keinginan hanya akan mengakibatkan manusia mencapai penderitaan”, begitu kata agama Buddha. “Jika ditampar pipi kirimu, berikan pipi kananmu”, begitu kata yang lain. “Jangan pernah berperang. Tidak ada perdamaian yang akan muncul dari sebuah peperangan”, kata pencinta damai. “Jangan menikah. Serahkan hidupmu hanya kepada Tuhan”, itu kata-kata para rahib. Juga kata-kata Sufi, “Jika aku beribadah karena takut nerakaMu, maka masukkan saja aku ke dalamnya”. Inilah pepatah-pepatah yang kemudian menarik bagi mereka. Yah, saya sudah bilang jika mereka hanya ingin ketenangan. Jika ketenangan hanya bisa dicapai hanya dengan mendengarkan kata-kata itu, mereka tidak akan mencari yang lain lagi. Bahkan, jika ketenangan bisa dicapai dengan ritual-ritual saja, mereka juga akan puas. Inilah mengapa narkotika dan minuman keras sering jadi pilihan. Para pendamba kebahagiaan itu hanya menginginkan obat bius.
Sayangnya, sikap ini juga dibawa oleh orang-orang Muslim masuk ke dalam dunia mereka. Saya sudah contohkan satu. Yang lain banyak sekali. Di antaranya adalah kisah-kisah “hikmah” ala Hidayah yang sekarang banyak beredar. Extreme Kindness atau kebaikan yang sempurna, itulah yang ingin disampaikan. Mereka yang membuatnya merasa itu bagian dari dakwah. Memang, mereka tidak sepenuhnya salah. Namun, ada akibat lain dari cara dakwah seperti itu. Jauhnya Islam dari umatnya sendiri, karena mereka hanya mengaguminya ceritanya dan dramatisnya Sang Tokoh Utama. Itulah kenapa acara-acara tersebut tetap memiliki rating tinggi. Karena efek nagih umat yang jarang mengingat Allah tersebut.
Saya berpendapat, sikap-sikap seperti ini hanya muncul di kalangan orang-orang yang tidak mengenal agamanya, yaitu Islam, dengan baik. Wajar saja, mereka terpengaruh oleh nilai universal semua agama. “Kebaikan” Tanpa Batas, mungkin hanya itulah yang ada dalam pikiran mereka. Selalu saja orang Islam diceritakan sebagai orang yang suka mengalah, diam saja ketika dizalimi, sabar terhadap segala keadaan, suka menangis dan meratap kepada Allah, dan akhirnya hidup bahagia selamanya. Seakan-akan, tidak ada kebanggaan pada diri mereka. Seolah-olah, Islam hanyalah jalan penderitaan saja. Ini bisa parah. Para penonton kemudian akan berpendapat, “baik sih, tapi saya tidak mungkin bisa melakukannya”. Satu lagi, jarang sekali di antara film itu yang mau memperhatikan masalah aqidah.
Padahal tidak seluruhnya seperti itu. Jangan hanya memandang Rasulullah ketika memberi makan Yahudi yang selalu mencelanya. Jangan menilai beliau hanya dari kesabarannya ketika diludahi, atau ketika dilempari kotoran ketika sedang sholat. Islam adalah agama yang seimbang, dan Islam memang agama untuk semua manusia.
Rasulullah adalah orang yang memerintahkan perang ketika berhadapan dengan orang-orang Quraisy. Dan, perang yang dilakukannya banyak sekali, tidak hanya satu dua. Jangan hanya memandang dari Fathul Makkah yang damai. Rasulullah memerintahkan untuk membunuh beberapa orang yang memusuhi Islam dengan keterlaluan saat itu. Perang adalah solusi untuk mempertahankan diri. Perang adalah sarana untuk menjaga masyarakat Islam yang diridhoi Allah itu tetap ada selama mungkin.
Jangan dikira Islam tidak pernah mengajarkan kebencian. Islam mengajarkan untuk membenci kekafiran. Karena itulah, Allah melaknat Bani Isra’il yang kafir keterlaluan. “Mencintai karena Allah, membenci karena Allah”, begitulah konsep membenci itu.
Jangan hanya diam saja ketika dizalimi. Bahkan, membela diri ketika dizalimi adalah salah satu ciri orang yang beriman. Orang yang mati mempertahankan hak miliknya adalah orang yang mati di jalan Allah.
Dan, jangan pernah mempunyai pikiran bahwa orang Islam yang baik akan selalu bersedih. Rasulullah bercanda dengan sahabat-sahabatnya, saling melempar bubur gandum dengan istri-istrinya (lho, makhluq paling bertaqwa saja menikah kok). Dia juga pernah mengerjai Ali suatu waktu.
Tahukah kalian apa pertandingan kesukaan Rasulullah? Dia kadang-kadang menonton gulat bersama istrinya ‘Aisyah. Bisa dibayangkan ternyata Rasulullah menggemari gulat? Karena itu, saya sangat maklum ketika beberapa saudara saya kecewa ketika “Smack Down” tiba-tiba berhenti ditayangkan.
Surga adalah dambaan setiap mukmin. Jangan kacaukan dengan doa sufi dan rindu kepada Allah. Allah akan menerima setiap mukmin yang beramal karena mengharap surga. Kalau tidak, kenapa kita terus menerus diming-imingi dalam banyak ayat Al-Qur’aan? Bahkan, sahabat Rasulullah ada yang mati syahid karena mengharap pertemuan dengan bidadari surga. Berpikirlah dengan cara orang kebanyakan. Dia mati syahid karena ingin punya istri cantik yang selalu muda, seksi, dan tentu saja tidak cerewet apalagi rewel. Betapa manusiawinya khan harapan ini?
Lalu mengapa kedengarannya seperti paradoks? Mengapa yang dijelaskan di sini dan beberapa kisah Rasulullah yang lain sungguh berbeda? Islam itu luas. Sirathal Mustaqim itu bukanlah setebal rambut, tapi merupakan lorong yang lebar. Orang bisa berada di pinggir di tengah, atau bahkan berjalan zig-zag tidak ada yang melarang. Tapi, harus diingat pula bahwa tingkatan iman itu bermacam-macam. Ada yang dinamakan orang baik dan orang bertaqwa. Kalo orang baik, syaratnya cuma satu, yaitu menjauhi dosa-dosa besar. That’s enough. Itu sudah cukup sebagai seorang muslim.
Tapi, siapa yang tidak ingin mendapat lebih banyak lagi? Karena itu, sahabat Rasulullah kemudian bersikap serakah. Mereka terus-menerus meningkatkan kebaikan-kebaikan mereka, hingga mencapai taraf yang susah dicapai orang baik biasa. Mereka dicirikan dalam Al-Qur’aan dengan tidur yang sedikit di waktu malam. Yah, karena mereka memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Itulah orang taqwa. Dan ganjaran orang taqwa itu luar biasa. Mereka diberi rizki yang tidak terduga, diberi jalan keluar atas segala masalahnya, dan dimudahkan urusannya. Mereka beruntung dunia akhirat. Tentu saja lebih beruntung daripada orang baik tadi, yang karena hanya biasa-biasa saja maka balasannya juga biasa-biasa saja, walaupun tetap masuk surga.
Tapi, ada satu lagi yang harus diingat. Jangan menganggap para sahabat itu sempurna ya. Jangan dikira mereka itu setiap detiknya selalu mengingat Allah. Pernah suatu kali Abu Bakar merasa bersalah ketika tidak selalu mengingat Allah tapi malah justru dilenakan oleh keluarganya. Rasulullah bilang, “sesaat-sesaat”. Artinya sekalipun orang bertaqwa mereka mengingat Allah juga dalam waktu sesaat-sesaat. Jadi, jangan terlalu khawatir tentang susahnya mencapai derajat taqwa. Terlebih dahulu, jauhi dosa-dosa besar. Saya rasa, itu yang kurang dari citra kebanyakan orang Indonesia tentang agamanya.
pertamax!!!
mantab Jay (one liner mania)
Segundax….wah kedhisikan Gunawan….
Tapi judul dan isinya kok rada ra nyambung, hihih…judulnya tak merangkum isi tulisannya
terdengar lebih anggun nich …, “bangsa religius bagsa berbudaya luhur” …nyatanya 62 th merdeka bandit/maling berdasi semakin merajalela.
Lupa apa itu pekerjaan sebagai ibadah/amanah.Kejujuran sudah jarang ada Padahal masjid dan gereja selalu penuh saat hari2 beribadah.
Lebih ngeri Dep.Pendidikan Dep Agama banyak bandit/malingnya wachh.. mau jadi apa bangsa ini ? Polisi/Jaksa/Hakim/Politikus/Pengusaha/Pejabat pusat-daerah banyak yg busuk !!! Jawabnya … ?!
Bencana nggak henti2 gempa tsunami aceh/gempa jogja/lumpur lapindo terus apa lagi ? kita tunggu aja !!!
Azab dan Laknat Nya
w gak tau hrs bilang ape ?????
penulis ilmunye yang klewat tinggi ape gw yang klewat dankal ????
banyak keterangan yang baru w denger,,,,sayangnye stiap kalimat penting ga disertai hadist,,,,jadi rada ragu gitu !!!!!!
zzzz….