Kembali Kepada Hati Februari 10, 2007
Posted by fauzan.sa in Uncategorized.trackback
Seruan untuk kembali kepada tarbiyah mulai bergaung di mana-mana saat ini. Tidak heran, kegelisahan komunitas tarbiyah semakin menjadi-jadi, terutama sejak mereka merasa sukses memenangkan partainya dua tahun yang lalu. Sejak saat itu, mulai muncullah gejala-gejala kemunduran dakwah. Mulai muncul pula pelanggaran-pelanggaran, yang tidak pernah dibayangkan pada masa-masa sebelumnya. Beberapa orang bersikap apologetik, sedangkan beberapa orang yang lain semakin merasa gelisah. Namun, seruan-seruan itu seringkali macet. Pelanggaran tetap pelanggaran, penyimpangan tetap penyimpangan.
Namun, bukan hal itu yang ingin saya bahas. Ketika mendengar sebuah kata evaluasi, sangat wajar untuk langsung mengkaitkannya dengan sesuatu yang ‘aqliyah. Sesuatu yang salah yang bisa diperbaiki secara teknis. Padahal, dakwah ini tidak hanya melulu masalah teknis. Jika memang dakwah ini teknis, maka tidak ada bantuan ribuan malaikat kepada Rasulullah. Inilah hal yang mulai dilupakan oleh komunitas tarbiyah. Ketika mendengar kata-kata kembali kepada tarbiyah, maka yang ada adalah lebih banyak dauroh, lebih banyak mabit, lebih banyak pembebanan terhadap pengetahuan dan pemahaman pergerakan. Pendirian I’dadul Muwajjihin merupakan bagian dari solusi tersebut. Yaitu ketika Islam dan dakwah kepadanya, dipandang sebagai sebuah proses reguler yang semuanya terpikirkan dan dipercayai bisa diselesaikan dengan akal.
Ketika dulu saya mengenal Islam yang pertama kali, akal memang menjadi daya tarik yang luar biasa. Betapa lengkap, rumit, sekaligus sangat ilmiah agama ini. Inilah dasar bagi perjuangan menyampaikan kalimat Allah. Bahwa memang kita semua telah yakin seyakin-yakinnya bahwa Islam ini memang agama yang paling benar. Tapi, itu saja tidak cukup. Sekedar keyakinan dalam hati belum tentu membuahkan ketaqwaan. Ka’ab bin Malik bahkan tidak ikut perang bersama Rasulullah. Seorang ahli badar bahkan membocorkan berita kepada musuh. Dan, apakah sebenarnya orang-orang kafir Quraisy itu tidak tahu kalau Muhammad membawa kebenaran?
Beberapa orang bilang kita terlalu menitikberatkan pada amal, sehingga lupa ilmu. Kita selalu mengutamakan haroky, sehingga menyepelekan tarbawy. Sikap saya antara setuju dan tidak terhadap hal itu. Tarbiyah itu haruslah menyeluruh, sementara saat ini kita hanya membahas sisi fikriyah dan jasadiyahnya saja. Ya, kita telah melupakan ruhiyah.
Ya, itulah sebab utama kemunduran tarbiyah kita. Tidak semata-mata karena kita melupakan tarbiyah, tapi karena kita melupakan hati kita. Padahal, iman itu letaknya di hati. Karena itulah kita menyepelekan dosa. Karena itu kita menganggap biasa pelanggaran hukum. Cerita-cerita kang Hifni tentang Aktivis Tapi Mesra merupakan akibat dari hal ini. Konflik yang terjadi dalam lingkungan dakwah kita terjadi karena hal ini. Ketidakpuasan, kedengkian, kemarahan, perasaan tidak dihargai, perasaan paling benar sendiri, perasaan lebih tinggi daripada orang lain, inilah hal-hal yang membuat dakwah kita semakin menuju kehancuran. Tidakkah mereka para aktivis dakwah punya hati? Mengapa mereka lebih suka bertengkar dengan saudara mereka dan melupakan hal-hal yang lebih penting? Jika memang semua demi kebaikan dakwah, mengapa harus ngotot memaksakan pendapat sendiri? Jika memang masih menganggap orang lain sebagai saudaranya, kenapa selalu bersikap curiga dan tidak percaya? Jika sesama aktivis dakwah tidak ada rasa saling percaya, bisakah kita bayangkan sesuatu yang baik akan terjadi?
Inilah saatnya kita kembali kepada hati. Inilah saatnya kita mengingat Allah lebih banyak lagi. Inilah saatnya untuk kembali peduli terhadap saudara kita. Kita dulu adalah saudara, mengapa tidak kita teruskan persaudaraan itu? Jika kita telah melatih hati kita masing-masing, akan jauh lebih banyak masalah yang akan terselesaikan. Jika tarbiyah kita masing-masing memberikan porsi lebih banyak untuk membersihkan hati, saya rasa banyak sekali konflik-konflik yang akan lebih mudah untuk diakhiri. Sehingga, sekeras apapun debat di meja syuro, tidak akan mencederai hati salah seorang pun. Seramai apapun proses pengambilan keputusan, tidak ada orang yang ngotot mempertahankan pendapatnya, sekalipun dia benar. Dan, penyimpangan-penyimpangan akan jauh berkurang, karena sekarang mereka telah lebih peka terhadap dosa.
Maksud penulis ini apaan seh???
“Jika memang masih menganggap orang lain sebagai saudaranya, kenapa selalu bersikap curiga dan tidak percaya? Jika sesama aktivis dakwah tidak ada rasa saling percaya, bisakah kita bayangkan sesuatu yang baik akan terjadi?”
Bukankah Kata2 itu menunjukkan bahwa penulis juga ada rasa curiga??? Malahan sangat berlebihan… Kenapa hal spt ini harus dituliskan di Blog seh??? Kenapa tdk dibicarakan di tempat mu aja??? Bukankah ini malah qt mjd terpisah2???
Pertanyaannya juga : Apakah kondisi tarbiyah di semua daerah itu sama?? Tidak semuanya spt itu akh…..Antum harusnya memperbaikinya bukan malah menyebarkan fitnah spt ini …….
SAYA KECEWA THDP PENULIS…….
mohon konfirmasi ke imel saya : udins_fkt_ugm@yahoo.com
Hmm Mas Udins, jangan emosional…
Fenomena tu ada bukan untuk ditutup2i. tapi menjadi keadara bersama untuk disikapi, agar tidak menjadi kanker yg menggerogoti bangunan dakwah yg sudah terlanjur besar untuk direset ini.
Aktivis dakwah saling curiga…? Dah biasa tuh, apalagi kalau beda “bendera”…
ya Mas Udin dari kehutanan UGM jangan emosional lah…cool man..toh kita bebas mengeluarkan pendapat, asal bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya……
Saay yakin Mas Udin bijaksana dan cerdas, kan anak UGM….
ah, kata siapa? tu temen2 ant aja kali. kalo kemunduran, saya kurang sepakat. tapi memang dari sisi kualitas, rata2 kader kalah dibandingkan dengan sepuluh tahun lalu.
justru karena dakwah sudah melebarkan sayap2nya, maka siapa saja yang tidak siap menyambut pengembangan itu menjadi gap dan terjadilah berbagai fenomena kekecewaan, turunnya spirit dsb.
Assalamualaikum wr wb
Didunia ini ada 3 macam usaha :
1. Usaha atas Perut, yaitu MAKANAN, hasilnya dibuang setiap pagi di Septic TANK.
2. Usaha atas AKAL, OTAK, yaitu SCIENCE dan TEKNOLOGI, hasilnya mengambil manfaat dari makhluk lain (ternak, tumbuhan,air, angin, bahan tambang, etc).
3. Usaha atas HATI, yaitu AGAMA, hasil nya menarik Manfaat dari ALLAH, menarik pertolongan AL-KHALIK yang memiliki semua makhluk, yg menaklukkan semua makhluk.
silahkan pilih yg anda sukai.
Pernyaan yang menyesatkan, logikanya salah…
Maksud AbdulSomad itu apa sih…?
Usaha atas hati yaitu agama…? nonsense….
Agama tak akan jalan, dakwah tak akan berkembang, Islam tak akan bersinar jika cuma pakai hati…dah jadi sufi aja kalau cuma pakai hati…
Sayang sekali potensi yang membuat manusia jadi makhluk paling mulia kok malah dinafikan…
Potensi apa itu…? hati kah? Jin juga punya hati, Malaikat juga punya hati, tapi mengapa mereka tidak jadi khalifah?
Silakan jawab dengan hati yang jujur dan bebas prasangka…
Pernyataan yang menyesatkan…logikanya salah…
Setuju!!
Setuju!! Dulu katanya sangat gampang ketemu para ikhwan di mesjid, skarang setelah dpt kursi gampangan nemuin ikhwan di cafe atau mall dibanding di mesjid. Maklum pola hidup berubah.. Ikhwan jg manusia, jgn silau sama yg namanya ustadz bergelar ikhwan.. Pasti ada saat2 melempem. Ibarat bikin kurva S, kita sdh dipuncak kurva S, dan hrsnya kita bisa membuat sambungan kurva S kedua agar puncaknya lbh tinggi lagi
tulisan yg menarik…
membuat kita harus berpikir kembali…
sudahkah kita tarbiyah???
sudah benarkah tarbiyah kita???
akhi…meneurut ana memamng kita tidak boleh menutup mata tentang adanya masalah. Bukan untuk menjelekkan tapi mari kita perbaiki. Terkadang butuh bantuan luar yah untuk memperbaiki diri kita dan blogs ini mungkin bisa jadi jalan adanya masukkan dan bantuan dari luar itu…
Hammasah ya akhi….