Fool Tools Februari 10, 2007
Posted by fauzan.sa in Uncategorized.trackback
Kita tentu tahu dengan sesuatu yang bernama alat. Bahasa Inggrisnya tool. Kalau jamak dan terdiri dari satu set, dinamakan tools. Alat, peralatan, teknologi, semua itu fungsinya untuk mempermudah tugas manusia. Sejak manusia ada, mereka sudah bikin peralatan. Ya, tentu saja sesuai dengan kebutuhan mereka. Karena mereka waktu itu tidak merasa butuh alat yang macam-macam, hanya beberapa alat sederhana semacam kapak batu.
Yah, begitulah. Kita hidup dengan dikelilingi alat-alat. Dan, memang menciptakan alat adalah salah satu kemampuan manusia yang paling hebat. Mereka bisa menguasai dunia selama jutaan tahun, karena mereka punya alat-alat canggih yang tidak dapat dibuat oleh makhluk hidup lain. Saat ini, kita hidup dengan komputer, handphone, sepeda motor, pesawat, berbagai macam mesin, radio, televisi, berbagai macam alat sederhana semacam gergaji, pisau,gunting, palu, pulpen, hampir semua yang kita punya adalah alat. Alat, sebagai perluasan anggota tubuh manusia, sebagai penyambung keterbatasan kemampuan manusia, sebagai penyebab kemalasan manusia.
Alat dan teknologi, menurut saya ada filosofinya. Minimal ada dua poin tentang ini. Teknologi ada untuk menaikkan taraf hidup manusia ke tingkat yang lebih tinggi, bukan untuk menjadikannya malas. Yang kedua, alat tidak boleh membatasi manusia. Maksud saya, bukan alat yang baik jika dia malah membuat anda seolah-olah lebih lumpuh daripada yang seharusnya. Alat memberi kemudahan dan menambah kemampuan manusia, bukan menguranginya.
Kalau poin yang pertama, tampaknya sudah sangat jelas. Kita semua tahu itu. teknologi itu bikin malas. Yang tadinya orang menimba air di sumur, sekarang sudah ada pompa air. Yang tadinya setiap pagi harus menimba air sehingga kita harus bangun pagi-pagi dan berkeringat, sekarang kita bisa bermalas-malasan dan mengisi bak hanya dengan menekan saklar. Tidak, bukan itu sebenarnya yang seharusnya dilakukan seseorang dengan teknologi. Yang tadinya menghabiskan waktu untuk menimba sumur, sekarang ada waktu belajar tambahan di pagi hari. Atau, lebih baik lagi, ada waktu lebih lama buat berzikir dan membaca al-ma’tsurat. Adanya teknologi mempersingkat dan mempermudah segala sesuatunya. Karena itu, kita harus bisa melakukan lebih banyak hal dengan teknologi, dan bukannya menambah porsi istirahat kita.
Jangan sampai teknologi itu menimbulkan ketergantungan, jika kita tidak benar-benar membutuhkannya. Ada sebuah kisah. Suatu saat ada kajian yang dihadiri mahasiswa baru yang jumlahnya ratusan. Ustadz yang diharapkan datang jam 10.30 ternyata terlambat setengah jam. Ustadz dengan gaya bicara yang memukau ini ternyata juga tidak bisa langsung memulai kajiannya, karena selama setengah jam berkutat pada viewer yang nggak beres! Dalam hati, bukan main kesalnya saya dengan ustadz tersebut. Dia sudah jadi pengisi kajian selama bertahun-tahun. Selama itu pula dia jadi sosok motivator yang lumayan bagus. Dan setahu saya, 5 tahun yang lalu tidak banyak kajian yang memakai viewer. Paham maksud saya khan? Kalo anda butuh kontak dengan seseorang, yang serius dong! Misalnya, ada taklimat yang harus disampaikan. Kalo nggak bisa SMS, telpon. Kalo pulsanya habis, datangi rumahnya. Teknologi itu untuk mempermudah saja, jangan tergantung padanya seolah-olah itu harga mati. Kalo nggak ada viewer, mulai kajian tersebut tanpa viewer. Bahkan, kalo mikrofonnya mati sekalipun, kita masih bisa teriak. Kenapa kita jadi manja? Kenapa kita harus seolah-olah tergantung pada hal yang tidak esensial? Kalo motor bensinnya habis, naik bis kota, kalo nggak ada uang, yah kalo itu memang sumber dayanya habis, hehehehe…
Nah, yang kedua adalah teknologi atau alat tidak boleh membatasi manusia. Apa maksudnya? Kadangkala, teknologi bahkan membuat kita semakin produktif. Membatasi hal-hal yang seharusnya bisa kita lakukan. Saat itulah, mungkin saatnya kita tinggalkan alat itu. Soalnya, alat itu sudah tidak cocok lagi bagi keperluan kita. Yah, walaupun orang bilang, dengan alat itu tiga kali lebih produktif dan sangat jauh menghemat biaya, selama alat tersebut mengganggu kita, saatnya harus disingkirkan.
Mungkin akan ada yang bilang, yang benar? Apa hal semacam ini ada contohnya? Tentu saja ada. Ingat MotoGP? Coba, motor balap mana yang pakai CVT? Nggak ada khan? Semuanya masih pake persneling dan kopling. Apa ada motor balap yang pake starter? Ternyata nggak ada khan? Sudah jelas, bagi mereka peralatan tersebut justru mengganggu. Tapi, jangan dikira mereka tidak punya teknologi. Karena kekuatan yang begitu besar, komputer mengambil alih sebagian besar tenaga motor, sehingga para pembalap hanya tinggal mengendalikan sebagian kecilnya saja. So, gunakanlah teknologi tepat guna. Tidak semua teknologi itu tepat guna bagi seseorang.
Satu contoh lagi. Nah, yang ini dari dunia programming. Banyak sekali programmer, baik yang pemula maupun mahir, menggunakan tool (IDE) Visual Studio .NET. Nah, dalam dalam setiap IDE yang kompleks, biasanya juga disertai dengan form editor, sehingga merancang GUI tinggal drag n drop saja. Saya memang tidak memakai VS .NET, tetapi tool sejenis untuk Java yang bernama NetBeans. Form Editor memungkinkan kita merancang GUI tanpa harus menuliskan kodenya langsung, walaupun menuliskan kodenya secara langsung juga bisa. Tapi, ternyata ada banyak hal yang tidak bisa dilakukan dengan form editor ini, dengan kata lain, form editor ini kurang fleksibel.
Mereka yang sudah terbiasa untuk menuliskan kodenya secara langsung, akan merasakan dua hal yang berbeda. Kadangkala, mereka merasa dipermudah. Kadangkala pula, mereka merasa ada banyak hal yang tidak bisa dilakukan dengan form editor. Karena itu, banyak juga programmer mahir yang tak mau menggunakan IDE. Karena IDE itu menimbulkan ketergantungan. Kita jadi tidak bebas mau ngapa-ngapain. Tapi, buat saya yang pemula, yah rasanya susah hidup tanpa adanya IDE. Namun, ya… kadangkala saya merasakan kadangkala bagian tertentu dari IDE ini kurang fleksibel. Tentu saja, itu bukan syntax highlighting dan autocomplete. Ini sih memang benar-benar mempermudah. Tapi, beberapa hal lain di dalamnya. Intinya, kalo malah mempersulit, buang saja teknologi tersebut. Teknologi tepat guna bukanlah teknologi yang asal canggih, tapi teknologi yang benar-benar bermanfaat bagi orang yang membutuhkannya. Karena itu, alat yang lain akan selalu memberikan dua pilihan. Automation atau full control. Pemula butuh automation. Orang-orang mahir lebih membutuhkan full control. Dan, tentu saja akan selalu ada yang ingin dicapai oleh keduanya, kecepatan dan kemudahan.
Yah begitulah. Intinya, saya hanya pengen mengatakan orang itu akan dinilai berdasarkan usaha dan jerih payahnya, dan bukan atas hasil yang dicapainya. Kalo hasil yang dicapai, itu rizki dari Allah. Karena itu, ketika anda punya teknologi dan alat yang lebih canggih, manfaatkan sebaik-baiknya. Karena anda punya tanggung jawab yang lebih besar dan lebih berat daripada orang-orang yang tidak memilikinya.
Komentar»
No comments yet — be the first.