Cintaku, Haruskah Aku Menikah Denganmu? Februari 10, 2007
Posted by fauzan.sa in Uncategorized.trackback
Pembicaraan tentang cinta, pacaran, dan menikah memang jadi suatu tema yang menarik bagi anak-anak muda. Apalagi bagi mereka yang belum menikah. Wong yang sudah menikah saja masih tertarik untuk membicarakannya kok. Jika anda melihat hiburan yang ada saat ini, entah itu film atau novel, seakan-akan ada yang kurang kalau tidak ada romannya sama sekali. Bahkan, banyak sekali yang justru mengangkat romantismenya. Beberapa film sukses nominator citra juga mengangkat romantisme sebagai temanya. Sebut saja, ada apa dengan cinta.
Well, sebenarnya apa sih yang akan dibahas kali ini? Romantisme adalah milik semua orang. Termasuk juga, mereka-mereka yang teguh memegang agama Islam. Larangan khalwat dan pacaran tidak lantas begitu saja menghilangkan romantisme mereka. Hanya saja, mereka mengungkapkannya dalam bentuk yang lain. Pengen tahu romantisme ala ikhwah? Tentu ada yang pernah membaca setitik kabut selaksa cinta. Bagian menariknya tidak di mulai dari ketika seseorang jatuh cinta, tapi ketika tiba-tiba saja kita bahkan jadi gugup tidak karuan ketika bertemu calon suami / isteri yang kita sendiri tidak pernah ketemu.
Nah, ada suatu hal yang menarik di sini. Ketika seseorang memutuskan untuk menikah, apa pertimbangan yang harus dipakai? Apakah seluruhnya cinta seperti dalam film-film Hollywood? Atau seluruhnya (sepertinya) rasio seperti apa yang dilakukan para aktivis dakwah ini? Propaganda dari kedua belah pihak memang sangat gencar. Tapi jelas, yang paling dominan adalah mereka yang mengandalkan cinta. Yah, didukung oleh film-film Hollywood sih.
Jangan menikah dengan orang yang tidak kau cintai. Kau akan menderita seumur hidupmu. Itulah kata-kata para pemuja cinta. Mereka menempatkan cinta di atas segala-galanya. Bahkan di atas nyawa mereka sendiri. Kalo tidak si dia, tidak mau. Dialah cinta sejatiku. Aku tak dapat melupakannya. Kata-kata seperti ini menurut saya menyesatkan sekaligus mengerikan. Yah, tahu sendiri khan jika cinta seperti ini mudah sekali jatuh ke dalam kesyirikan. Bahkan, bukan sekedar syirik kecil, tapi syirik yang membuat keislaman seseorang nyaris tidak berguna. Pada kenyataannya, sangat mungkin bagi kita untuk belajar mencintai. Sangat mungkin untuk menikah dengan orang yang baru kita kenal kemudian hidup bahagia selamanya. Anda bisa periksa sendiri, kisah-kisah seperti itu banyak bertebaran di mana-mana
Sedangkan mengandalkan rasio sepenuhnya, belum tentu akan bahagia. Ya, bahagia itu adalah masalah perasaan. Jika kita berusaha mencari orang yang paling tepat untuk kita, mungkin saja kita akan menemukannya. Tapi, tanpa usaha sedikit pun, tidak mungkin kita akan bahagia. Jangan sampai kita mencari orang tepat karena kita tidak ingin mengusahakan apa-apa. Jangan sampai kita hanya ingin istri kita yang melakukan segala sesuatunya, sedangkan kita cukup diam saja. Apakah hidup ini hanya berpusat pada diri kita? Kita akan menemukan, orang yang justru tidak bahagia karena mengandalkan rasio untuk mencari pasangan hidupnya. Karena cocok, maka tidak akan ada pertengkaran. Dan, apa hal terburuk yang terjadi karena tidak ada pertengkaran? Ya, tidak ada pertengkaran berarti tidak ada komunikasi. Dan itu tentu saja bis menghancurkan sebuah pernikahan.
Para penolak pacaran seringkali menggunakan argumen yang cukup ampuh, hal itu adalah pacaran hanya akan berisi kebohongan dan pura-pura. Dan, memang begitulah halnya. Namun, alternatif yang mereka sajikan juga tidak kalah pura-puranya. Apakah anda yakin biro jodoh itu akan menemukan orang yang tepat? Setiap orang bisa berpura-pura. Dia jelas bisa berpura-pura di hadapan kita, apalagi tidak butuh bertahun-tahun untuk berpura-pura. Dia bisa memalsukan data dirinya. Dia juga bisa berkonspirasi dengan teman-teman dekatnya. Tanpa konspirasi pun, teman dekat yang baik tidak akan menceritakan keburukannya. Jadi, sama saja antara pacaran dengan ta’aruf. Semuanya jelas bisa jadi ajang pura-pura. Bahkan beberapa pelaku ta’aruf bercerai gara-gara ini. Alasan mereka, pasangan mereka ternyata berbeda dengan yang diceritakan dalam biodata mereka sendiri. Bukan itu saja. Menyerahkan keputusan paling penting seumur hidup kepada sebuah biro jodoh membuat kita cenderung menyalahkan mereka ketika ada masalah dalam rumah tangga. Kita tidak mau bertanggung jawab atas pernikahan kita.
Jadi, cinta atau rasio? Hmm, saya akan memperkenalkan satu hal lagi, yaitu keinginan. Teman saya bilang, you can if you think you can. Ya, balik lagi ke motivasi. Ya, belakangan ini saya tertarik dengan motivasi karena energinya yang begitu besar. Bahkan kita asal pilih pun, tanpa cinta atau tanpa kecocokan karakter, kita bisa bahagia. So jangan terlalu khawatir dengan kedua hal itu. Tidak cocok pun bisa bahagia. Tidak cinta pun bisa bahagia. Kecocokan bisa diusahakan, begitu pula dengan cinta. Saya punya sebuah kata-kata bagus dari filmnya Ario Wahab dan Putri Patricia. Untuk mencintai, hanya butuh keinginan untuk mencintai, sebatas kita mampu.
Tapi, memang ada satu hal lagi. Ingat Nuh yang berdakwah selama 950 tahun? Ingat Rasulullah SAW yang gagal mendakwahi pamannya? Kadangkala kita memang tidak bisa memaksa sembarangan perempuan untuk menjadi perempuan shalihah. Dan, boleh jadi memang keadaan sudah mentok. Nah, kalo sudah begini ya kita harus mundur. Keluarga itu tidak hanya suami istri, melainkan juga anak-anak. Apakah kita akan mengorbankan anak-anak kita kepada perempuan jahat yang menjadi istri kita? Tentu tidak khan. Motivasi memberikan gambaran atas batas kemampuan kita. Perasaan dan rasio mempermudah apa yang kita inginkan bisa tercapai.
all about love;; 1 things… blajar dr ibroh teh ni2h ( yg istrinya aa’gym itoe lho )… klo qt mencintai se2orang
cinta total pd suami smisal . maka janganlah jg qt lalaikan kecintaan qt pd Allah swt jua…cinta manusia bs terbagi, bahkan Allah mbolehkannya…ttp cm cinta kpd Allah sj qt mrasa tdk terduakan…klo qt mcintai ssuatu maka qt jg hrs siap jk suatu saat cinta qt itu diambil, krn tak ada yg kekal di dunya ini…bahkan qt bakal diuji dg kcintaan qt…siapkah, relakah, ikhlaskah qt ???
Wah Jaya…kok berubah jadi roman emperor eh romantic…hehehe…
Suatau kritik yang bagus atas kedua metode yang saling meniadakan…Bisa jadi ini menjadi alternatif baru bagi kita untuk mencari pasangan hidup.
Wah tumben neh tulisannya menarik tapi masih ada yg janggal neh…. Sukanya penulis itu menyatakan asumsinya sendiri dg ertimbangan logikanya sendiri bukan mrujuk pada salah satu ustadz atopun apalah…. YG jadi pertanyaan adlaah APAKAH PENULIS ITU SEORANG USTADZ???????
interest banget loh ma tulisannya, ngena banget dan dalam maknanya, lumayan juga buwat referensi untuk tidak pilih-pilih dlm cari calon suami ;>…..
boleh nanya g..????
gimana nasihat anda kalau ada cewek yang udah pingin banget mo nikah tapi karena blm dtng juga jodohnya dan usaha untuk kenalan udah dilakuin tapi tetep aja gatot (ha.ha.ha. ggl ttl neh)
ditunngu segera jawabannya
ehmmm,..saya tetap yakin,.dengan menikah dulu baru aman untuk berpacaran dengan wanita yg sudah menjadi isteri saya,…
tulisannya bisa membuat qt berpikir untuk menentukan mana jalan yang terbaik yang akan diambil.
bagaimana pendapat anda jika ada seorang ikhwan yang mengajak ta’aruf dan menikah dalam tenggang waktu 2 tahun..???
ditunggu neh jawabannya.
jawaban neh.. semampu sya ya…
bwt najihah : Usahakan menikah dg niatan pengen menjaga diri dari zina dan selalu mendekatkan diri kepada ALLAH coz semua itu muaranya pasti hanya untuk mengESAkan ALLAH….. Cari tau lebih jelasnya lagi melalui curhat dg ALLAH dg melakukan solat malam
bwt nitha : Setahu sy kalo tenggang wkt antara ta’aruf dg menikah itu paling lama selama 3 bulan saja coz pastinya nantinya nikahnya itu dapat godaan dari setan dan boleh jadi menikahnya itu juga niatannya berubah…… Bukan untuk ALLAH tapi hanya semata2 buat si dia
cinta yang dibutuhkan oleh cinta adalah cinta itu sendiri
klo udah cinta, aku percaya bisa mengalahkan segalanya..cinta bisa mengalahkan segalanya…
ok
all you need is love…
saya pikir masalah metoda perjodohan bukan sesuatu yang secara hukum hitam-putih, benar-salah. mari kita lebih dewasa untuk menerima pandangan dan pendapat orang lain, yang merasa cinta muncul setelah nikah harus bersedia berlapang dada untuk mengakui mencintai sebelum nikah juga benar.
para sahabat dan Kanjeng Nabi sendiri melakukan kedua metoda tersebut ada yang nyari sendiri, ada yang minta dicarikan. masalah mana yang baik keduanya sama2 baik. tidak mesti yang mencari sendiri itu tertipu seperti yang diklaim pihak yang berseberangan, dan tidak mesti juga pilihan ustad itu relatif lebih baik atau bahkan dianggap pasti tepat.
coba diingat, bahkan pasangan yang dijodohkan oleh Kanjeng Nabi saja ada yang bercerai, berarti, masalah mencari jodoh adalah sebuah masalah yang flexible, terserah mana yang cocok. ada yg percaya bangaet sama ustad dan mau dijodohin ya monggo. yang perkawinannya langgeng ada, yang mendadak cerai juga ada. yang mau berburu sendiri ya monggo. yang kemudian langgeng seperti Ustad Didik Purwodarsono ada, yang pacaran lima tahun tapi nikah cuma tiga bulan juga ada. jadi jangan saling mengklaim, bahwa kebenaran mutlak ada di pihak kami.
pacaran, taaruf, kenalan, apapun namanya itu tidak bisa dikaitkan langsung sebagi penyebab zina dll. adalah sebuah kebodohan yang yang nyata jika ada yang menggenarlisir bahwa semua pacaran kan mendekati zina. tidak ada dalil Quran maupun Hadits shahih. bahwa ada yang kemudian berzina memang benar, namun ada juga yang sudah tahuan pacaran berkhalwat saja tidak pernah. semua kasuistik tidak bisa digeneralisir, tergantung personnya masing2.
masalah mau taaruf nikah 2 tahun lagi itu terserah kembali pada personnya, sebuah khitbah artinya sebuah klausul perjanjian pra nikah, masalah waktu, pembatalan, komitment, adalah hal yang dirundingkan bersama. sepertihalnya perjanjian dagang (saya merujuk pada pendapat Madzhab Hanafiyah yang mengijinkan wanita menikahkan dirinya sendiri, karena Imam Hanafi menganggap bahwa akad nikah adalah sama statusnya dengan akad jual-beli).
tidak ada batasan pasti berapa lama masa taaruf/pacaran itu, semua tergantung kesepakatan kedua belah pihak. termasuk jika dalam masa tunggu itu salah satu atau keduanya menemukan orang yang lebih baik, maka ketentuannya disepakati sejak awal. persis seperti akad jual beli.
Untuk, yang belum dapat2 jodoh: ingat saja manusia itu cuma bisa berusaha, ketentuan di bawah otoritas Allah swt, seperti orang nyari rizqi, kadanga sudah pontang-panting gak dapat2 juga, atau dapat cuma dkit, tapi ada juga yang gak ngapa-ngapain malah ketiban rizqi dari jalan yang gak disangka2. kayak pengalaman saya dulu ketika menikah, saya ketiak itu baru saja ditinggal menikah oleh wanita yg saya cintai, saya sedih bgt. saya bahkan protes pada Gusti Allah, kok urusan cinta ini sedemikian rumit: kadang yang kita cintai tidak mencintai kita, dan sebaliknya. namun seperti meledek keluhan saya Gusti Allah memberikan seorang istri kepada saya hanya berselang beberapa bulan setelah peristiwa itu, dnegan jalan yang betul2 diluar nalar dan logika saya, begitu mudah, begitu lancar, kami sepakati visi dan misi berumah tangga kemudian menikahlah kami, so simple.
untuk Mas Udins, apakah ustad itu sumber kebenran mutlaq? apakah ustad itu ma’shum, apakah ustad itu standar jalan menuju Allah? saya kira tidak semua ustad sepandangan masalah ini. marilah kita berdewasa seperti para Imam Madzhab yang walupun berbeda pendapat sangat ekstrim tidak saling menyerang dan menghina personal maupun pandangan yang berbeda. ingat saja Imam Malik menyatakan bahwa daging anjing halal, dan dijilat anjing tidak najis. sementara Imam Syafi’i mengatakan daging anjing haram dan dijilat anjing itu najis mughalladhah. kalau di Indonesia ada ustad yang bilang bahwa daging anjing halal bisa dibakar orang sekampung rumahnya. nah Mas Udins, tolong katakan pada saya secara jujur, seandainya Anda tidak tahu yang berpendapat bahwa daging anjing itu halal Imam Malik, kira2 Anda akan mengatakan ornag itu sesat tidak?
“Ketika seseorang memutuskan untuk menikah, apa pertimbangan yang harus dipakai? Apakah seluruhnya cinta ? Atau seluruhnya (sepertinya) rasio?”
Kalau saya sih, rasio dipakai, rasa cinta dipakai pula, di samping mohon petunjuk Allah melalui istikharah.
jelas, saya tidak bakal mau. saya bukan homo!
kamunya mau/ga? akan tidak bijaksana kalo kita memutuskan masa depan kita hanya berdasarkan pendapat “orang yang kita anggap lebih tau” tanpa berusaha mencari tau apa yang sebenarnya diinginkan oleh hati kita
yah, tanyalah pada hatimu sendiri
Sekali lagi, tentang cinta… Luaris manis reek.. Cinta, diutak-atik seperti apapun pasti enak dibahas. Tapi yang susah itu klo sudah mendasari cinta dengan Islam, kadangkala bisa, tapi juga sering kita terjatuh.. YA, itulah manusia..
Untuk PRASETYA
Wah saya bangga neh ada yg ngajak saya berdiskusi. KAlo memang masih belum jelas bisa berdiskusi lagi dg saya mll imel saya : udins_fkt_ugm@yahoo.com
JElas saya berpedoman pada Ustadz coz saya bukan ustadz dan saya juga bukan Imam dan saya juga orangnya tidak bisa mengklaim pendapat imam seenak GW ajeee… coz saya bukan apa2 dibandingkan mereka…. Simple kan???
Kalo untuk mengklaim sesat ato TIDAK….. Wah kayaknya tulisan saya ga ada yg menyatakan personil itu sesta lho mas pras…. Kecenderungan saya adl saya mengambil salah satu madzab sebagi pedoman saya tapi tidak mengkliam suatu madzab orang lain dan Saya mempelajari apa yg Ustadz katakan (tanpa mengkalim bahwa Ustadz saya itu yg paling benar) daN SAYA juga tidak pernah memngklaim bahwa salah satu USTADz itu SESAT ato apalah… KARENA mereka JUGa MANUSIA ….. Bukan Rosul
BEtul mas pras??????
Jazakallah Mas Udin, maka itu, sebaiknya kepercayaan pada Ustad itu bukan esuatu yg mutlak, ustad bukan satu2nya jalan ke swarga. apalagi u/ masalah pernikahan. Wong Kanjeng Nabi saja bisa salah mnjodohkan, apalagi “cuma” ustad yg tidak ada ratifikasinya.
Begitu Mas Udins, ini bukan perdebatan, saya sudah mencukupkan untuk bilang bahwa ustad itu bukan sumber kebenaran mutlak jadi tidak ada kewajiban taat pada ustad apalagi berpedoman pada ustad saja. Islam ini koridor, bukan garis. perbedaan bukan berarti salah jalan. dan ustad sekali lagi bukan satu2nya kebenaran dan tidak selayaknya kita taat mutlak pada beliau. ustad bisa salah, dan dalah konteks pernikahan, jelas ustad hayalah advisor. yang lebih layak dimintai izin atau diminta mencarikan adalah orang tua kita, ada hadits Nabi saya lupa bunyinya, intinya bahwa kwajiban orang tua lah mencarikan jodoh bagi anaknya. dan saya tidak menemukan kewajiban untuk meminta tolng ustad dicarikan jodoh. begitu Mas Udins
sebenarnya dalam islam yang namanya pacaran itu dilarang karena mendekati zina.
Mas Edy, tolong tunjukkan pada saya dalilnya dalam Islam pacaran dilarang karena mendekati zina?
Dalil yang qath’i bukan, tafsir atau prasangka. misalnya saja seperti perintah shalat dalam quran sudah jelas ada, maka tolong tunjukkan pada saya dalil “larangan berpacaran karena itu mnedekati zina” dlm al Quran, atau hadits shahih, yang bukan pendapat atau tafsiran seseorang. kalau Anda bisa menunjukkan saya berhenti pacaran saat itu juga.
Mas Penggemar Pacaran.. klo saya boleh jawab, dalilnya ya itu..
“Wa laa taqrobuzzina, innahukaanaa fakhisyatawwasaa asaabiilaa”
“Dan JAnganlah mendekati zina, sesungguhnya itu adalah perbuatan yang keji dan jalan yang buruk”
Dalil diatas itu qoth’i tsubut dan dilalahnya.
Lho.. kenapa kok Pacaran jadi haram..?? karena diambil dari realitas atau fakta dari pacaran itu sendiri.
Aktivitas yang namanya pacaran itu ndak pernah dikenal dalam ISlam, jadi klo antum menuntut untuk menghadirkan dalil yang mengaharamkan pacaran dengan redaksi yang benar-benar persis dengan kata pacaran, maka saya boleh katakan anda kurang bisa menerima keadaan, mengapa?
KArena memang zaman RAsul saw gak pernah ada yg namanya pacaran. JAdi mana mungkin ada kata pacaran dalam dalil al-Quran maupun as-Sunnah. Nahh.. karena itu ada ilmu Ushul Fiqih, orang pertama yang merumuskan ilmu Ushul Fiqh ini adalah Imam Syafi’i dalam kitab ar-Risalahnya.
Dalam ilmu Ushul Fiqh ini, kalau suatu perbuatan itu tidak ada dalilnya maka ada proses yang dinamakan Tahqiqul manath (Mendalami fakta, sedalam-dalamnya). NAh ternyata fakta dari pacaran yang berdua-duaan, pegangan tangan, mesra-mesraan, dll itu adalah perbuatan yang dilaran, saya kira antum sudah hafal dalil-dalilnya.
Oya, yg perlu diingat, pergaulan laki-laki dan wanita itu hukum asalnya adalah terpisah (infishol).
Fakta manakah yang menunjukkan bahwa pacaran itu identik dengan zina? Ataukah itu hanya penglihatan subyektif belaka? Saya sudah melihat berbagai hasil penelitian mengenai hal ini, dan tidak ada satu pun yang secara ilmiah/obyektif membuktikan bahwa pacaran itu identik dengan mendekati zina.
Menurut kaidah ushul fiqih, semua muamalah (hubungan dengan sesama manusia) itu boleh, kecuali ada nash yang melarangnya secara qath’i (tegas, jelas). Adakah nash yang melarang pacaran secara qath’i? Tidak ada. Yang dilarang secara qath’i adalah mendekati zina.
Bisakah pacaran tanpa mendekati zina?
Lihat http://muhshodiq.wordpress.com/2007/03/04/%e2%80%9charuskah-saya-berhubungan-seks-dengan-pacar-saya%e2%80%9d/
Maaf Kang, Sepengetahuan saya, kaidah fiqihnya ndak seperti itu, tapi Hukum dasar dari setiap perbuatan manusia itu terikat dengan hukum syara’ (Al-AShlu fi af’ali at-taqoyyudu bi hukmi syar’i).
Dalilnya gampang aja, ketika para sahabat berbuat sesuatu, pastilah para sahabat bertanya kepada Rasul saw tentang hukum dari perbuatan tersebut, jadi klo pake kaidah yang antum pake, saya kira para sahabat ndak akan bertanya macam-macam kepada RAsul saw tentnag perbuatannya, tetapi cukup hanya dengan menunggu larangan dari RAsul saw… bukankah demikian Mas Shodiq Mustika??.
Setuju dengan Mas Shodiq.
Semua pelarangan pacaran adalah semata2 karena ayat tersebut. Mengenai existensi ayat tersebut dan kekuatannya, nggak perlu dipertanyakan.
Yang patut dipertanyakan adalah kenapa pacaran itu diidentikkan dengan mendekati zinah.
Hanichi Kuda mengatakan bahwa itu berdasarkan fakta. Bagaimana orang pacaran itu bis ampe remes2an, ML dll. Tapi tau nggak? Itu namanya Over Generalisasi. Contoh: Ada pejabat kita yang korup. Kesimpulan: Semua pejabat kita korup.
Tahu nggak kenapa fenomena ini muncul. Mana ada orang peduli dan memasukkan berita, kalo ada pejabat yang BERSIH? Yang akan masuk headline, adalah pejabat KORUP. Jadi mana ada kita dengar ada pejabat bersih?
Sama dengan pacaran. Karena memang banyak juga yang pacaran dengan cara nggilani seperti itu, ya itulah yang anda semua lihat. Kalo ada yang pacarannya nggak pake megang, nggak pake khalwat, nggak pake zinah, nggak pake ketemu, nggak pake ngomong sekalipun, ya ANDA SEMUA NGGAK AKAN TAU KALO MEREKA PACARAN.
Jadilah pacaran yang “bersih”, tapi nggak ada yang tahu. Kesimpulan, anda nggak akan pernah lihat pacaran bersih walaupun ada.
Jaman Nabi nggak ada pacaran?
Tolong di koreksi kalo salah. Dulu, ikhwan akan berkenalan dengan akhwat (Ta’aruf). Kalau sesuai, mereka akan menikah.
Pada umumnya, pacaran juga adalah berkenalan, lalu menikah.
Bedanya, yang anda sering lihat adalah berkenalan DENGAN CARA APA, dan BERAPA LAMA.
jadi pada hakekatnya, adalah yang membedakan cara Syar’i dan bukan adalah Pacaran yang “….”
mungkin bisa dikatakan bahwa pacaran adalah kata umum, sedangkan Ta’aruf yang selama ini anda kenal adalah kata khusus. Dan pacaran yang selama ini anda kenal (yang zinah2 itu lho) itu adalah kata khusus yang lain.
Dan ingat, jangan mempersepsikan “pacaran” secara negatif dulu kalau melihat paragraf di atas. Saya bosan dengan orang yang mengatakan “Masa Ta’aruf dibilang pacaran, kan nggak pake zinah”. Karena jadinya kita sedang ngomongin dua hal yang berbeda, jadi nggak ada manfaatnya.
Misalnya:
A: “Soto Sulung Pak Hadi tu enak banget!”
B: “Nggak kok, Soto Kikil Pak Joko tu rasanya kayak ketombe berkuah”
Nyambung bnget kan?
Yeeeeeeeeeeeeeeeeeeee
Setujuu….dengan Fajri…
Untuk hanichi:
Hukum asal segala muamalah itu adalah halal kecuali ada larangannya, hukum asal semua ibadah adalah haram kecuali ada perintahnya.
Coba deh tunjukin larangan pacaran dan perintah taaruf?
kalau sam peyan pakai logical fallacy “slippery slope” memang akan ketemu bahwa hukum pacaran itu haram, namun dnegan metoda yang sama saya bisa membuktikan bahwa naik motor itu haram juga. perhatikan:
Orang naik motor BIASANYA akan melaju dengan kencang, lihat saja KENYATAAN di jalan. kalau sudah naik dengan kencang BIASANYA akan memicu terjadinya kxelakaan. kalau terjadi kecelakaan BIASANYA akan ada korban jiwa, yang berarti juga terjadi PEMBUNUHAN. maka saya simpulkan naik motor itu HARAM karena naik motor akan menuju atau setidaknya mendekati PEMBUNUHAN.
Mas,Hanechi, ekses dari sebuah kegiatan tidak bisa dijadikan hukum suatu kegiatan. yag harusnya dihukumi itu bukan pacarannya, karena kegiatan pacaran sendiri bukanlah khawat, brsentuhan, bebicara mendayu2, atau berzina itu sendiri. semua itu adalah metoda atau cara orang berpacaran. orang yang berpacaran tanpa metoda seperti itu jelas tidak melanggar hukum syariat apapun. kalau Anda kemudian menjalar untuk kemudian mengatakan bahwa ikatan cinta di luar ikatan nikah itu haram, maka saya persilahkan Anda bikin agama sendiri di luar Islam, karena tidak ada larangan seperti itu di dalam Islam.
Thanx, author…
mengingatkan. tumben ga ber-api2…
Mengacu pada komen no 20, aku nggak sengaja nulis Hanichi KUDA. Maap, bukan bermaksud ngeledek… Beneran lho… Yah, kalo aja misalnya kiranya tersinggung… maaaaaappppp… ^_^
ha…ha…..
*pergi sambil senyum-senyum sendiri*
Assalaamu ‘Alaikum
Untuk semuanya, apasih yang kalian bahas? heh? Cinta, cinta, cinta , cinta aaaaaaaaaa terus kaya’ anak-anak SMP saja, kalian ini terlalu Feminim. Bahas kek, bagaima caranya kalo kita akan masuk kamar mandi, bagaimana caranya kalo kita makan, gimana caranya…., yahh yang gitu-gitulah, masa’ sih pacaraaaaaaaaan melu-melu, maap yah (eh..maksud saya maaf BUKAN MAAP) karena beda MAAP beda maaf
Numpang Tanya: ohyaahh, fajri sering nunggang kuda yah?
Assalaamu ‘Alaikum
Untuk Fauzan, blog kamu kok kaya’nya bernuansa romantis yah? jangan -jangan kamu ini……..? tapi kok selalu bahas-bahas cinta-cinta terus, bahas dong bangaimana rasanya jika kita berinternet, membaca-buku-buku komik, main games, chatting, merokok sambil nongkrong, bagaimana rasanya, jika kita saling telepon-telepon dengan cewek-cewek ehh maksud saya cowok-cowok
emilhkhakha@yahoo.com
Saya yakin suatu ketika saya akan menikah dengan laki-laki pilihan Allah terbaik buat saya.
Kalau gak dicari ya gak bakal dapat mbak Yuni (no 29), jodoh itu tidak bakal jatuh dari langit hihih….
para pengidap pacaran memang akan cari alasan 1001 untuk mengabsahkan pacarannya. ada yang minta dalil qath’i segala yang bukan tafsiran (?). bung, kalau rasul pacaran, saya termasuk yang akan memuja pacaran !!
mengenai logika yang ditawarkan o/ fauzansa (penulis) juga hanya membenar-benarkan pacaran saja. KEBENARAN HANYA MILIK ALLAH. kalau anda yakin dengan pilihan-pilihan kalian untuk berpacaran, lakukanlah! karena hati dan nuranimu tidak akan bisa dibohongi akan kebenaran!!!!!!
@Wahyu
Betul mas Wahyu. Kebenaran memang hanya milik Allah. But, Saat ini Allah nggak mau menjawab langsung setiap pertanyaan kita. Kita nggak bisa bincang-bincang sama Allah live. Allah hanya menurunkan Al-Qur’an dan As-Sunnah agar kita menurutinya.
Yang kita bisa, dengan segala kemampuan yang kita miliki, adalah berusaha mengetahui maksud sebenarnya dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dan, para sahabat pun gagal mendapatkan pemahaman yang seragam tentang berbagai hal. Jadi, kalo pendapat saya dan anda beda masalah pacaran, itu wajar. Kita berdua khan sama-sama tidak punya hak untuk ngomong langsung sama Gusti Allah. Jadi sama-sama nggak pernah tahu kebenaran yang sejati itu seperti apa.
Kalo memang mas punya pendapat yang beda masalah pacaran ini dengan saya, tolong dong dimuat dalil-dalilnya. Dengan begitu diskusinya akan jadi lebih ilmiah dan lebih bermutu.
Nglakuin pacaran? Wah, mana ada akhwat yang mau sama saya. Saya juga sedang nyari nih, tapi belum ketemu yang cocok tuh? Trus gimana? Mas Wahyu mau mbantu?
Mas Wahyu itu lucu, beliau sudah sejak awal nengharamkan pacaran dan menganggap bahwa prinsupnyalah yg paling sesuai dengan kebenaran. sayangnya beliau tidak menyertakan argumennya. dan buruknya beliau enggan menerima perbedaan pendapat.
padahal seperti yag sudah diungkapkan Mas Fauzan, para shabat saja gagal sepakat untuk urusan2 agama pasca Rasulullah wafat. nah sayangnya Mas Wahyu gagal menangkap feomena ini. bekiau nasih menganggap bahwa kebenaran itu tunggal. beliau tidak belajar dari fenomena 4 mazhab, dimana dalam satu hal ulama yang berdasar pada quran dan hadits yang sama bisa mengeluarkan fatwa yang berbeda.
Mas Wahyu, selama kita masih berpegang pada quran yang sama, sunnah yang sama, dan metoda penafsiran yg benar, perbedaan hasil ijtihad adalah sesuatu yang wajar. kecuali sampeyan mau menafsirkan quran dengan metoda hermeneutik, nah itu baru salah.
……
Intinya karena istilah pacaran itu identik dengan berdekatan, berpegangan, bersentuhan, bertatapan, justru karena status pacaran itu seolah mensyahkan itu (setidaknya pendapat dari sisi yang berpacaran).dan hal itulah yang bisa mendekatkan kepada perbuatan lain yang tidak dibenarkan agama (meskipun tidak semua orang yang berpacaran melakukan itu).sebab tidak mungkin berdekatan, bersentuhan dll tidak menimbulkan perasaan lain yang mungkin dapat mendorong ke perbuatan lain.kalo tidak ingin terjadi ya tidak usah pacaran(menjaga dari dosa)
tidak pacaran berarti tidak bersentuhan, tidak berpegangan dsb, sehingga tidak akan menimbulkan perasaan lain yang menjerumuskan(sekali lagi tidak semua orang terjerumus…tapi kemungkinan itu selalu ada).kalo mau aman ya ga usah pacaran…..ato pacaran dengan cara yang baik, saling menghormati satu sama lain.demi tujuan yang lebih suci…..kembali ke diri masing2 aja.
dari Bu Ummi
“Intinya karena istilah pacaran itu identik dengan berdekatan, berpegangan, bersentuhan, bertatapan, justru karena status pacaran itu seolah mensyahkan itu (setidaknya pendapat dari sisi yang berpacaran)”
Bandingkan:
Intinya karena silaturahmi itu identik dengan berghibah, ngerumpi, jaim, pamer harta, justru karena status silaturahmi itu seolah mensyahkan itu (setidaknya pendapat dari sisi yang berpacaran)
gmana? kerasa enggak kesalahan logika pernyataan Bu Ummi?
indonesia emank gx bkal prnah maju y…
pkirannya subjektif smua…
klw pcaran kan klasifikasinya ad 2:
1.pcaran yg mnjurus pd per-zina-an
2.pcaran yg tdk mnjurus pd per-zina-an
Bagi yg brpacaran,tinggal cocokin aj kgiatan pcaran anda trgolong yg mana…
klw trgolong no.1 ya hentikan,,klw trgolong no.2 ya lanjutkan…
kelar dah masalahnya…
belum kelar mas…
katanya ada zina mata, zina tangan, zina hati dll…? benarkah pacaran ndak bisa lepas dari itu…?
pertanyaan klasik nih… Rasulullah pernah pacaran ndak..?
satu lagi mas, masih ada syaithon yang selalu berusaha menyesatkan kita dan hawa nafsu yang mungkin saja bisa lepas dari kendali kita…
so… hindari pacaran aja deh…
untuk Mas Heri
katanya ada zina mata, zina tangan, zina hati dll…? benarkah pacaran ndak bisa lepas dari itu…?
Bisa saja Mas, itu tergantung bagaimana kita pacaran kok,
- zina mata memandang aurat, solusinya y amenutup aurat
- zina tangan itu menyentuh yang haram disentu, solusinya ya jangan menyentuh apa2 yang belum halal disentuh
- zina hati mengharapkan terjadinya perzinahan, solusianya ya berpositive thinking, jangan mengharapkan perzinahan dengan sang pacar,
- yang lain2? gampang! kahn sudah dibuatkan rambunya sama Rasulullah: jangan berkhalwat, jangan berbicara mendayu2, jangan bersentuhan, jangan membuka aurat… dst… gampang kan.
Rasulullah pernah pacaran gak? wah dalam hal muamalah apa2 yang tidak dilarang Rasul boleh Mas, kalau prinsip muamalah apa2 yang tidak dilakukan Rasul adalah salah maka kit atidak boleh kuliah, tidak boleh naik motor, tidak boleh internet, tidak boleh naik pesawat, tidak boleh… wah banyak banget Mas.
Prinsip apa2 yang tidak dilakukan Rasul tidak boleh kita jalankanadalah untuk konsep ibadah Mas, Rasul tidak puasa ngebleng,kita tidakboleh puasa seperti itu, Rasul tidak shalat maghrib tujuh rakaat, kita juga tidak boleh seperti itu. Rasul zakat 2,5% kita jangan zakat 1%.
Get the point Mas?
Setuju sama Gugunz…..
Rasul itu g pernah pacaran…
Tapi entah ya apa Rasul juga dulu pernah taaruf…
Dateng ke tempat cw, bawa temen…tanya jawab ini itu dalam beberapa kali pertemuan, sebelom akirnya ngelamar si cw…
Then…how? n_n
wassalam
Mas fauzansa mbok pacaran aja biar dalilnya lebih “empirik” ketimbang rasional. Mas kita memang bisa mengendalikan diri pas pikiran lagi sadar.
Ning nek pas problem numpuk, hormon-hormon terakumulasi, udara dingin. Weleh, mending nikah aja Mas tenan mending nikaah ….
cinta apa nafsu
cinta pasti mendoakan agar yang dicintainya mendapatkanyang lebih baik darinya
bukan posesive men
wah perdebatan yang luar biasa masalah pacaran..
satu topik yang memuat banyak pandangan, dari segi ilmiah, alQuran dan al Hadist…
kalau boleh saya numpang berbagi pendapat, sebenernya gak da yang mau disalahkan dalam hal ini tetapi kita juga harus sadar anda-anda semua kaum pemikir yang diberikan akal oleh Allah untuk berfikir dan mengkaji sebuah permasalahan tentunya mana yang baik dan mana yang tidak baik, kita kembali kepada kita sendieri kita baik apa tidak??? itu saja kok repot…
no coment dalam hal ini terlalu banayak pendapat…