jump to navigation

Kasihilah Saudaramu Desember 16, 2006

Posted by fauzan.sa in Uncategorized.
trackback

Seringkali teman-teman saya bercerita indahnya ukhuwah Islamiyah. Yah, siapa sih yang tidak ngiler ketika mendengar cerita-cerita seperti itu? Saling berbuat baik dengan saudara-saudara kita, saling mempedulikan, saling menyayangi, solidaritas baik dalam susah maupun senang, siapa yang tidak ingin berada dalam komunitas seperti itu? Begitu pula saya. Indahnya sebuah persaudaraan memang hal yang istimewa. Bahkan, persaudaraan adalah nilai universal yang sering diangkat dalam film-film Hollywood. Bahkan film-film sadis seperti film perang sekalipun. Jangan pernah meninggalkan kawanmu, begitu kira-kira pesan film-film itu.

Namun, kadangkala cinta itu tidak proporsional. Cinta dan kasih sayang saudara kita jadi semakin buta. Untuk itulah, kasih sayang seperti itu tidak lagi pantas dinamakan sebagai ukhuwah Islamiyah. Cinta semacam itu, adalah cinta yang tidak lagi objektif. Memang kelihatannya sebuah paradoks. Cinta yang objektif? Mana mungkin? Tapi, begitulah Islam memerintahkan kita. Mencintai karena Allah, membenci karena Allah. Mencintai apa yang Allah cintai, dan membenci apa yang Allah benci. Itulah sumber dari ukhuwah Islamiyah sebenarnya. So, jadi cinta itu sangat mungkin untuk menjadi objektif khan? Kalo kita punya teman yang berbuat tidak baik, saatnya untuk mengurangi kadar cinta dan pembelaan kita terhadapnya. Saat teman kita tidak bisa lagi diingatkan, saatnya kita berlepas diri darinya.

Kenapa sih saya sampai ngomong seperti ini? Apa yang salah dengan ukhuwah Islamiyah? Tidak ada yang salah dengan ukhuwah Islamiyah yang sejati. Yang salah adalah ketika ukhuwah Islamiyah itu berubah menjadi ukhuwah jahiliyah, tanpa kita sendiri sadari. Inilah yang sering terjadi ketika dakwah tidak lagi lurus, pikiran tidak lagi jernih. Hanya karena dia saudara kita, teman kita, mitra kita yang dulu berjuang di jalan dakwah bersama-sama kita, bukan berarti kita membelanya mati-matian untuk hal yang kita tidak tahu. Bahkan, untuk hal yang dia jelas-jelas salah.

Pernah beberapa kali saya menyampaikan kritik pada sebuah gerakan Islam kepada teman saya. Dan, argumen yang disampaikannya sama sekali tidak relevan. Dia bilang, bagaimana mungkin harokah dia melakukan kesalahan. Orang-orang di harokah itu semuanya baik. Ketika para bawahan sedang dalam kesulitan, para atasan ato para ustadz tidak pernah lupa memperhatikan mereka. Ketika ada rizki, semuanya dibagi rata. Ketika ada yang sakit dijenguk. Ada yang tidak datang selalu ditanyakan. Penderitaan seseorang, jadi beban bagi semua orang. Setiap orang peduli dengan orang yang lain. Mereka semua saling menyayangi. Bagaimana mungkin orang-orang baik yang rela mengorbankan diri bagi saudaranya ini, melakukan pelanggaran dengan sengaja?

Inilah masalahnya. Inilah kesalahan mereka. Hanya karena mereka orang-orang yang solider terhadap saudara-saudaranya, bukan berarti mereka itu orang-orang yang benar-benar baik. Kita akan melihat, betapa banyaknya organisasi-organisasi yang sangat solid, ikatan di dalamnya sangat kuat, tetapi tidak berpijak sepenuhnya di atas kebenaran. Misalnya saja, Nation of Islam. Bagaimana agama Islam yang mulia diselewengkan menjadi agama orang hitam yang bertuhankan seorang manusia biasa yang berkulit hitam? Ato, anti-NOI, yang sangat terkenal dengan sebutan Ku Klux Klan. Ato, ukhuwah jahiliyah ala bangsa Arab pra Islam, yang sangat mementingkan keturunan. Apakah mereka berpijak di atas kebenaran? Tentu saja jawabnya tidak! Mereka adalah contoh-contoh organisasi maupun gerakan dengan persaudaraan yang sangat kental, tetapi tidak punya landasan yang benar.

Jadi, sangat tidak adil kritik terhadap aksi dijawab dengan ukhuwah. Tidak adil ketika saya mengkritik sebuah gerakan Islam adalah penipu dan pengkhianat umat, tapi dijawab tidak mungkin karena mereka baik pada saudara-saudaranya. Saya beberapa kali mengkritik sebuah gerakan Islam, tapi selalu dibalas dengan argumen seperti ini. Ini sungguh tidak masuk akal. Jangan pernah kaitkan antara ukhuwah dengan tindakan yang melampaui batas. Sikap kita sebagai seorang muslim, al-wala’ wa al-bara’. Kalo saudara kita berlaku benar dan baik, maka layak kita dukung dan kita bela mati-matian. Kalo dia ternyata berlaku salah, ya harusnya kita berlepas diri dari kesalahannya. Jangan malah mendukungnya. Itu bahkan bukan sikap yang Islami. Tentu saja ketika dia sudah bertobat, kita harus menerimanya kembali dengan segala senang hati. Hmm, tapi tetap saja harus ada konsekuensi atas segala kesalahannya. Kita menghukum dia bukan karena tidak sayang terhadapnya. Kita menghukum dia, karena harus ada yang menjadi contoh bagi para pelaku pelanggaran. Dia dihukum, tapi tetap jangan menahan kasih sayang dan senyum kita padanya.

Komentar»

1. Agung Permana - Desember 18, 2006

Setujuu……two thumbs u for this blog!
Ketika sudah ada kata-kata “tidak mungkin”, “pasti benar”, “pokoknya”, itu pasti sudah menuju penyimpangan. Tak ada manusia atau sekelompok manusia yang bebas dari kesalahan (kecuali nabi).Itu manusiawi banget, fungsi kita berkelompok bersama orang-orang yang soleh itu untuk meminimalisir kesalahan personal kita, tapi itu tak berarti kita bisa menghilangkan semua kesalahan sama sekali. Kontrol dari luar itu tetap penting, karena mereka pasti lebih objektif melihat diri kita atau kelompok kita.
Saran untuk penulis blog:
kalau ada saudara yang salah ya jangan langsung kita berlepas tangan, kita ingatkan dulu, kalau ngeyel baru kita sedikit demi sedikit lama-lama menjauh…….ben ra ketularan.

2. joesatch - Desember 25, 2006

Yang namanya “pokoknya” berarti “rampung perkara” :)

3. antosalafy - Januari 3, 2007

Mencintai karena Allah, membenci karena Allah. Mencintai apa yang Allah cintai, dan membenci apa yang Allah benci. Itulah sumber dari ukhuwah Islamiyah sebenarnya……Maka dengan mengikuti sunnah kemana pun sunnah berjalan, dan berhenti di mana pun sunnah berhenti adalah jalan keselamatan. Dengan mengikuti jalannya salafush shaleh (http://antosalafy.wordpress.com/apa-itu-salaf/) adalah sebuah keselamatan dan kesuksesan. Seperti difirmankan Allah dalam surat At-Taubah ayat 100, yang artinya “Dan orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, mereka kekal abadi di dalamnya. Itulah kesuksesan yang agung.”