jump to navigation

Hantu Amanah Desember 16, 2006

Posted by fauzan.sa in Uncategorized.
trackback

Masih tentang motivasi. Suatu saat saya mengikuti rapat RT. Nah, pas bagian musyawarah warga, Pak RT ternyata minta mundur dari jabatannya. Soalnya, pas jabatannya dipegang dia, tidak terlihat ada kemajuan yang berarti di lingkungan RT. Kalo dulu kerjabakti sering dilakukan, pas dia menjabat ternyata tidak pernah sama sekali. Kalo sebelumnya warga tidak pernah bermasalah, baru-baru ini mereka bermasalah karena rebutan dana rekonstruksi. Dia merasa itu sebagai kesalahannya.

Nah, ternyata masyarakat tidak setuju dengan keinginan Pak RT. Mereka bilang, ketulusan dan kebaikan Pak RT sudah menunjukkan tanggung jawabnya sebagai Ketua RT. Mereka juga bilang, semua ini karena warga RT sedang menghadapi musibah, dan sampai sekarang masih sibuk mengurusi dirinya sendiri. Yang terakhir, mereka bilang jika Pak RT dianggap salah, maka semua rakyatnya juga salah karena mereka sebenarnya juga berkewajiban untuk mendukung ketua RT.

Nah, sesudah itu kemudian langsung terjadi perubahan besar. Tadinya, pak RT adalah seorang yang tidak tegas dan tidak berani memutuskan sesuatu. Hingga, rapat RT dia selalu hanya sebagai moderator saja. Tidak berani menengahi masalah, selalu minta pertimbangan pada para tetua. Setelah dia mendapat ikrar legitimasi tersebut, dia seakan-akan berbalik 180 derajat. Tiba-tiba saja dia jadi pemimpin yang tegas dan berani memutuskan sesuatu. Tiba-tiba saja dia berani mengatur tema dan arah bahasan diskusi selanjutnya (tentang penerangan jalan) dan menolak bahasan baru dalam musyawarah karena hari sudah terlalu malam. Kesan saya, untuk jadi pemimpin yang efektif ternyata tidak butuh waktu hingga satu menit.

Nah, itulah motivasi. Kadangkala beberapa orang di antara kita sering menerima amanah yang tidak kita sukai. Kita merasa itu bukan keahlian kita. Kita pada awalnya memang menolaknya, tapi kemudian terpaksa menerimanya. Setelah itu, apa yang terjadi? Hari-hari selanjutnya dipenuhi rasa tanggung jawab akan sesuatu yang berat dan kegagalan-kegagalan yang terjadi terus menerus.

Sebenarnya, yang terjadi adalah penggalian kubur sendiri. Suatu amanah berat akhirnya diterima, tapi tanpa ada keyakinan dari dalam diri. Tanpa ada persangkaan baik terhadap Allah. Karena itu kita kemudian gagal. We make our own failure. Sebenarnya, bukan karena tidak bisa melaksanakan tugas dengan baik, tapi karena merasa tidak bisa. Rasa tidak bisa itu menimbulkan putus harapan, dan akhirnya performa kerja kita jadi jauh dari yang seharusnya kita capai.

Nah, begitulah. Jika suatu saat kita menerima suatu amanah, yakinlah 100% kita mampu melaksanakannya dengan baik. Tapi, ada syaratnya lho. Pertama, jika kita merasa tidak mampu melakukannya, tolaklah untuk pertama kalinya. Ini untuk menghindari terjadinya salah pilih. Jangan sampai suatu urusan hancur karena disampaikan kepada yang bukan ahlinya. Jika amanah itu diperintahkan oleh satu orang saja dan kita merasa tidak mampu melakukannya, tolaklah sama sekali dan tinggalkan amanah tersebut. Ini karena keputusan satu orang sangat rentan terhadap kesalahan. Nah, kita baru tidak boleh menolak amanah jika itu ternyata sudah menjadi keputusan syuro dan syuro nggak mau menerima penjelasan kita. Syuro adalah mufakatnya muslimin. Karena itu, amanah yang datang adalah amanah yang ada di luar kuasa dan kehendak kita. Hanya ada satu jalan untuk ini. Yakinlah, bahwa amanah ini dari Allah. Konsekuensinya, yakinlah bahwa kita mampu menyelenggarakan amanah ini dengan sebaik-baiknya. So, don’t limit yourself. Allah menuruti persangkaan hambanya. We can if we think we can.

Komentar»

1. Agung Permana - Desember 18, 2006

Lho, kok lain dengan yang “pede tapi mati”.
Saran untuk anda:
Jangan parsial kalau mau mendorong limit anda, kalau mau mendorong, doronglah semuanya, jangan hanya sepotong-sepotong saja, kalau gak sekalian rasah wae.

2. bega - Desember 28, 2006

wahhh mas agung comments nya keren ya hueheuee

3. joesatch - Januari 2, 2007

he’e jay, jgn parsial, kekekeke!