jump to navigation

Pede, tapi Mati! Desember 10, 2006

Posted by fauzan.sa in Uncategorized.
trackback

Dari dulu saya itu termasuk orang yang apatis dan skeptis. Apatis maksudnya sering sekali tidak percaya sesuatu itu akan berhasil. Tidak percaya pada harapan-harapan indah dan baik-baik. Skeptis maksudnya selalu meragukan kebenaran segala sesuatu. Dan, sejak dulu pula saya selalu menganggap sifat-sifat itu punya pengaruh baik buat saya. Kadangkala, saya melakukan pembelaan diri dengan cara yang agak fatalis. Mungkin, beginilah Allah memberikan kecenderungan pada saya.

Yah, kalo saya tidak terbiasa apatis, maka blog ini juga nggak akan jadi seperti ini. Nggak akan ada tulisan Sepatu Kaca Cinderella ala Jaya. Nggak akan ada pula tulisan Rekayasa Dakwah. Tentu saja, dalam beberapa hal, sifat sifat ini kadang memang saya banggakan dan saya kagumi (yah, memang narsis). Yah, tapi saya bingung juga, apa sih bedanya kritis sama skeptis? Saya pernah baca literatur tentang kritis dan skeptis. Logis, kritis, skeptis adalah tiga ciri utama seorang ilmuwan. Tidak akan disebut berjiwa ilmuwan kalo kita tidak mempunyai salah satu sifat ini. Mungkin, kalo kritis itu artinya punya naluri dalam merasakan sesuatu yang salah, atau punya perasaan lain terhadap segala hal yang dianggap orang biasa-biasa saja. Sedangkan skeptis itu artinya baru percaya dengan sesuatu ketika bukti-buktinya sudah mencukupi. Bukan keras kepala lho. Bukankah Allah juga melarang orang mengikuti sesuatu tanpa pengetahuan?

Namun, teman saya kemarin memberi saya masukan. Sebuah jimat kesaktian bagi setiap orang. Namanya motivasi. Bagi anda-anda yang pernah ikut training-training organisasi ataupun AMT pasti tahu bentuk-bentuk motivasi yang diberikan sama trainer. Saya juga beberapa kali lihat video tentang motivasi. Misalnya saja, kisah tentang seorang buntung yang ternyata bisa sukses dalam hidupnya.

Sejak dulu saya benci dengan motivasi-motivasi seperti ini. Kita didorong untuk berpikir tidak seperti yang seharusnya. Kita didorong untuk menyelesaikan hal-hal yang seharusnya tidak bisa kita selesaikan. Tapi ternyata, banyak kasus di mana motivasi ini menjadi sangat ampuh dan berhasil. Katanya, kuncinya ada pada kemauan diri. Bagi saya yang terbiasa berpikir biasa, tentu saja hal-hal seperti ini bikin saya terkaget-kaget dan tergagap-gagap. Saya tidak pernah mau dipaksa untuk melakukan sesuatu. Dan saya paling benci kalau dipaksa melakukan sesuatu oleh motivator. Itulah kenapa, banyak acara motivasi tidak berhasil untuk saya. More or less, begitulah keadaan saya setelah setiap sesi motivasi. Biasa saja, sama saja.

Tetap saja, saya tidak boleh memungkiri peranan motivasi ini terhadap keberhasilan kita. Allah itu menuruti persangkaan hambanya. Selain itu Allah memberi tiga hal bagi orang yang bertaqwa, kemudahan, jalan keluar, dan rizki yang tidak disangka-sangka. Oleh karena itu, sepertinya inilah saatnya bagi saya untuk lebih memanfaatkan motivasi. That’s a very powerful energy. Teman saya yang seorang mahasiswa psikologi mengatakan, sebagian diri kita adalah apa yang kita pikirkan. Orang itu tidak dibentuk oleh kecenderungan saja, namun juga citra diri. Tidak terlalu salah kalo orang berkata, kita bisa jadi apa saja yang kita inginkan. Karena itu, motivasi dan keinginan yang kuat memang sangat penting.

Tapi, ada hal lain yang tidak bisa dijangkau oleh motivasi. Tidak selalu motivasi itu bisa menggeser batas psikologis yang kita ciptakan sendiri. Yah, bagi seorang atlet, motivasi selalu bisa diandalkan sebagai kekuatan pendorong. Bagi anak kelas tiga SMA yang ingin ikut SPMB, motivasi memang sangat ampuh. Walaupun begitu, tetap saja tidak semua motivasi akan berhasil.

Saya akan tunjukkan dengan sebuah kasus. Parno pengen belajar renang dalam sehari saja. Dia pengen, setelah satu hari, dia bisa berenang gaya bebas dengan baik. Untuk itu, dia mengundang seorang guru renang, namanya Darto. Nah, Darto yang mengetahui hal ini mula-mula bingung. Tapi, karena dia baru saja mendapat pelajaran motivasi dari seorang trainer, dia bilang begini sama Parno,
“Itu ada kolam di depanmu. Lompatlah ke sana dan kamu akan bisa berenang dengan sendirinya. Percayalah. Bahkan, tidak perlu satu hari. Dalam waktu satu menit kamu akan bisa berenang. Kata kuncinya, yakinlah dengan semua perkataanku. Lompatlah dan berenanglah.”
Dan, benar saja, Parno lompat betulan dengan penuh percaya diri. Satu menit kemudian, dia tenggelam sehingga akhirnya tidak terselamatkan.

Nah, mungkin anda akan bertanya, kok guru renangnya nggak nolongin? Nah, masalahnya bukan itu yang ingin saya tunjukkan. Saya cuma pengen bilang, motivasi itu luar biasa, tapi dalam kasus tadi tidak begitu. Parno tidak punya sumber daya yang cukup untuk menopang rasa percaya dirinya. Dia tidak pernah lihat orang berenang dan tidak pernah belajar caranya berenang. Dia tidak pernah ditunjukkan apapun oleh sang guru renang. Akibatnya, pede tapi mati.

Begitu juga dengan hal lain. Kalo ada orang disuruh membaca tapi syaratnya tidak boleh melihat satu huruf pun, apa pendapat anda? Mana mungkin dia bisa membaca hanya dengan modal motivasi? Lain lagi kalo orang itu disuruh berdoa sama Allah. Yah, kalo sudah begini, ya tinggal terserah Allah akan mengabulkan doanya ato tidak. Tapi, apa bijak mengikutkan pertolongan Allah pada perhitungan perencanaan?

Begitu pula dengan contoh yang lain. Tidak mungkin rumah korban gempa yang ambruk bisa berdiri lagi hanya dengan modal percaya. Tidak mungkin laut bisa kering hanya dengan modal percaya. Tidak mungkin anggur bisa jadi emas hanya dengan mempercayainya saja. Tidak mungkin pula, orang yang buntung tangan dan kaki bisa jadi juara lari 100 m dengan percaya. Setinggi apapun kemauan dirinya. Ngglundung bukan lari. Pake kaki palsu akan didiskualifikasi. Berdoalah pada Allah, tapi Allah belum tentu mengabulkan tepat seperti yang kita inginkan. Dan, jika urusannya sudah sampai doa, maka itu di luar pokok pembicaraan. Tidak masuk hitungan. Alias, tidak masuk akal.

Motivasi memang sangat ampuh. Tapi, ada syarat untuk itu. Jika orang yang diberi motivasi punya kemungkinan untuk menjangkau semua yang dia butuhkan, maka motivasi itu berhasil. Acara renang beda dengan acara survival. Di hutan, orang bisa menjangkau semua yang dia butuhkan. Karena itu, yakinlah kita bisa selamat. Jika orang dimotivasi untuk jadi pemimpin yang baik, maka dia benar-benar bisa jadi pemimpin yang baik. Buku-buku tentang kepemimpinan sangat banyak. Kemauan diri untuk berempati pada bawahan juga bisa dilatih. Kemampuan strategis bisa ditingkatkan. Jika orang dimotivasi untuk jadi pedagang sukses, maka dia bisa. Asalkan semua keperluannya untuk jadi pedagang tersedia, dan dia bisa menjangkaunya dengan berusaha sekeras mungkin. Kemauan memang mengalahkan segalanya, tapi tidak akan berguna jika tidak ada sumber daya.

Nah, kalo nanti saya ditanya sama orang, maka saya akan jawab tidak seperti biasanya. Kalo ditanya tentang mampukah saya nikah, saya akan jawab mampu, tapi sedang males untuk menggeser batas psikologis. Sedang males untuk merasakan beratnya sebuah pernikahan. Kalo ditanya mampu nggak saya jadi orang kaya? Saya akan jawab mampu, tapi saya pengen menunda dulu rencana itu. Kalo ditanya orang, mampu gak saya lari 100 m dalam waktu kurang dari 12 detik, maka saya akan jawab mampu, tapi saya tidak berminat untuk mengusahakannya.

Komentar»

1. Imponk - Desember 10, 2006

tentu saja motivasi itu penting. cuman ya sebatas rasional. seperti ketika seseorang ditanya soal mampu kaya, tetapi ia tiap hari kerjaannya hanya tidur dan malas-malesan, mana bisa? cocok seperti jarak 100 meter yang bisa anda selesaikan dengan lari kurang dari 12 detik itu –imposibel!

2. Agung Permana - Desember 13, 2006

motivasi itu bahan bakar tambahan, kalau gak ada kendaraannya ya gak bakal kemana-mana…

3. joesatch - Januari 2, 2007

wekekeke, dulu waktu jaman sma, rekorku 11,7 dtk/100 mtr. tentunya hal ini dilakukan tanpa mendribel bola :)

4. saykr - Januari 7, 2007

motivasi merupakan hal penting dalam hidup. namun tidak semua manusia dapat menemukan motvasi itu dan sekaligus memanfaatkan dengan sebaik-baiknya pada timing dan kondisi yang tepat. jadi perlu kiranya kita tahu kapan kita butuh motivasi dan percayalah bahwa dengan sungguh-sungguh akan mengantarkan kita pada kesuksesan. motivasi dan kesungguhan. just it. OK. sukses di depan mata!

5. mario or marjo - Februari 12, 2007

motivasi merupakan sesuatu yg berharga, sgt berharga. Saat ini saya mengalaminya sendiri, dimana karena beberapa kejadian yg menimpa saya, hingga menghanguskan semua motivasi itu. Dan jadilah saya seperti ini, menjalani hidup tanpa arah yg jelas, entah bsok pagi mau apa, saya tidak mengerti. Menjalani hidup seperti busa di atas air, hanya bisa mengikuti arus air. Dan motivasi pun menjadi sesuatu yg mahal, ketika sudah seperti ini, dimana dibutuhkan motivasi yg besar untuk mengajak diri kita tuk bangkit kembali.

6. Qjoe - Juni 10, 2008

Apa beda motivasi ama imajinasi? Apa mungkin dua-dua nya sama? Maksudnya, sama-sama bisa menimbulkan gairah dan kreativitas, apa betul begitu?