jump to navigation

Jaya’s Manifesto Desember 23, 2005

Posted by fauzan.sa in Pengumuman.
trackback

Sebenarnya saya juga nggak tahu arti manifesto. Saya cuman kira-kira aja. Kalo nggak salah, artinya pernyataan sikap. Nah, arti itu yang saya pake di sini. Tapi, sebenarnya kalo dibilang pernyataan sikap juga kurang tepat. Soalnya, kalo pernyataan sikap itu biasanya pendek-pendek dan tegas. Nah, rencananya yang mau saya tulis ini agak panjang dan nggak tegas. Saya pake judul manifesto biar keren aja. Sebenarnya, ini bukan pernyataan sikap tentang diri saya secara umum. Tapi, lebih khusus kepada sejarah blog ini.

Blog ini saya buat dalam keadaan suntuk luar biasa. Ketika itu, yang saya inginkan cuman sekedar refreshing dengan nulis-nulis (yang bener: ngetik-ngetik) di internet. Waktu itu saya coba-coba lihat di blogger.com. Eh, waktu mau ndaftar, teman saya si Agro nawarin wordpress.com. Yah, walopun untuk bisa dapetinnya harus diinvite sama orang yang punya blog wordpress, nggak gratis kaya di blogger. Tapi, yang bikin saya tertarik, si Agro bilang kalo wordpress.com dikembangkan secara open source. Memang sih, ketika saya liat-liat fiturnya, belum terlalu lengkap. Tapi, kalo cuman untuk nulis blog, boleh lah.

Tau nggak kenapa saya suntuk? Yah, gimana nggak suntuk. Selama dua tahun ini, saya mengalami kemandegan “karir” di ilmu komputer. Rasanya, bingung mau ngapain. Yah, beginilah kalo belajar tanpa diprogram. Memang sih, saya sempat tergabung dalam OMAHTI, tapi, organisasi tersebut membutuhkan banyak inisiatif, sedangkan saya nggak punya banyak inisiatif di sana. Wah, lama-lama hilang juga harapan saya untuk jadi spesialis berwawasan global. Padahal, sebenarnya saya senang di ILKOM ini. Tapi, rasa-rasanya, saya tidak cukup punya kemauan untuk lebih menekuninya. Ini juga terjadi pada teman saya Kang Rafie yang kuliah di Teknik Elektro. Dia bilang, “Tampaknya, saya lebih suka memanfaatkan IT saja daripada mengembangkannya”. Yah, ada dua kandidat spesialis yang mau keluar jalur nih. Padahal, sebenarnya saya senang dengan ILKOM ini, dan kita masih membutuhkan banyak spesialis untuk membangun Indonesia (idealis banget, mahasiswa siiih..).

Nah, ketika saya menulis, sebenarnya itu adalah pelarian dari dunia nyata. Pelarian dari amanah saya, pelarian dari kuliah saya, pelarian dari kegagalan-kegagalan saya, dan macem-macem. Dan, memang menulis itu bikin saya cukup seger. Bikin perasaan jadi mendhingan. Ini aneh juga, karena yang saya tulis bukan isi perasaan hati saya. Bukan merupakan curhat. Paragraf ini adalah curhat. Tapi, yang saya tulis hanyalah fikiran-fikiran saya, yang lama terpendam. Bahkan, hampir semua tulisan saya, adalah hasil diskusi saya dengan teman-teman baik saya. I feel good kalo bahasa Inggrisnya. Yah, buktinya, setelah saya menulis 13 artikel, saya jadi semangat belajar HTML. Padahal, tau nggak, dulu tuh topik yang saya paling nggak seneng itu Web Programming.

Tapi, terlepas dari itu semua, menulis itu seolah-olah wajib’ain bagi saya. Saya bukannya mau bikin bid’ah baru, tapi, bagi siapapun yang bergerak di bidang dakwah, menulis adalah hal yang sangat penting. Coba saja, hampir tiap organisasi bikin buletin. BEM punya buletin, KAMMI punya buletin, Gema Pembebasan punya buletin, pemuda-pemuda Wahabi punya buletin. Ini semua adalah bukti bahwa menulis itu merupakan skill yang cukup penting di dunia dakwah. Dan, tidak hanya dakwah yang berarti tabligh saja, tapi juga dakwah profesi. Apalagi jika anda juga adalah seorang akademisi. Menulis jadi sebuah keharusan untuk menunjukkan kompetensi ilmiah anda.

Memang sih, tulisan saya agak beda. Sifatnya non fiksi dan bahasanya seenaknya sendiri. Tapi, paling tidak saya telah membiasakan diri untuk mengungkapkan pendapat saya. Sehingga, ketika saya harus mengungkapkan pendapat saya dengan cara yang lebih teratur, saya akan lebih mudah mengungkapkannya. Teori inilah yang waktu itu saya pake untuk menyusun kurikulum pendidikan menulis di TSC (Teladan Science Club, KIR-nya SMA 1 Jogja) bersama teman-teman saya. Yang penting orang mau nulis dulu. Masalah bagaimana mengatur tulisan, itu urusan nanti.

Saya orangnya agak narcis. Akibatnya, saya nggak suka ada tulisan orang lain masuk dalam tulisan saya melebihi tiga kalimat. Karena itu, anda bisa lihat dalam tulisan saya. Tidak ada kutipan atas tulisan orang lain yang melebihi tiga kalimat. Bahkan mungkin, tidak ada sama sekali. Kecuali mungkin, saya memang mau mengkritisi pendapat seseorang. Kalopun saya harus meletakkan kutipan, saya nggak mau kutipan itu ada di halaman itu juga. Saya akan meletakkannya di halaman yang lain. Halaman-halaman yang khusus berisi kutipan. I like my own style. Saya suka gaya saya sendiri. Memang sih, kadang-kadang ada juga tulisan orang lain yang cukup bagus dan ingin saya pajang di blog saya. Nah, kalo begitu, saya nggak mau ngutik-utik tulisan tersebut. Saya pajang mentah-mentah tulisan tersebut. Ini karena saya menghargai karya mereka. Saya juga tidak akan membahas masalah yang sama, jika saya sudah mendapatkan artikel yang bagus tentang suatu hal. Kalopun saya ingin membahasnya, maka saya akan membahasnya on my way. Dengan cara saya sendiri, dengan perspektif dan sudut pandang yang berbeda, dan dengan bahasa yang berbeda pula. Ini bisa anda lihat di artikel Tak Ada Pacaran Islami (Beetween Myth And Fact) dan Pacaran? Basi Tau!

Ini berbeda dengan gaya saudara saya kang Salim. Dalam buku-bukunya, kang Salim sering memberi kutipan panjang karangan orang lain. Dan hebatnya, dia bisa merangkainya menjadi kata-kata yang indah dan enak dibaca. Antara orang membaca buku aslinya satu-satu dibandingkan dengan rangkaian kutipan yang dibuat oleh kang Salim, rasanya akan lebih enak membaca bukunya kang Salim. Great Job! Ini adalah hal yang luar biasa. Berbeda dengan saya. Ketika liat separagraf kutipan dan ingin menyertakannya dalam tulisan saya, rasanya agak sumpek gimana gitu. Kalo mas Salim, dia gabungkan kutipan-kutipan tersebut menjadi sebuah buku yang indah. Kita patut berterima kasih pada kang Salim atas rujak tulisannya yang telah menyumbang khasanah ilmu pengetahuan di kota kita tercinta Jogjakarta ini.

Blog ini lebih merupakan sandbox. Saya tidak bertanggung jawab atas akibat buruk yang terjadi pada pembaca blog ini. Saya serius! Pembaca blog ini seharusnya sadar, bahwa ketika mereka membaca blog ini, mereka tidak boleh menjadi pembaca konsumtif. Pembaca yang menelan mentah-mentah apa yang mereka baca. Saya lebih menginginkan kalo pembaca blog ini menjadi pembaca yang kritis, apalagi analitis. Maksudnya, harusnya mereka lebih jeli melihat kesalahan-kesalahan yang ada dalam blog ini, dan mengomentarinya dalam fasilitas komentar. Saya sudah menyediakan fasilitas komentar tanpa moderasi. Anda bebas berkomentar apa aja. (Tur nek misuh yo tak busak.) Kritik anda adalah kepedulian anda terhadap saya sebagai penulis blog ini. Bahkan saya dengan senang hati akan berdiskusi dengan siapa pun tentang isi blog ini. Dengan catatan, saya lebih suka diskusi tertulis. Alias via imel saja ya kalo mau diskusi. Ato, kalo mau di komentar juga boleh.

Anda akan melihat bahwa tulisan-tulisan saya lebih banyak yang uncategorized. Itu karena blog ini sebenarnya blog ini dibuat dengan tujuan untuk menyampaikan pendapat, pikiran, dan gagasan saya tentang berbagai hal. Sebenarnya cuma itu. Jadinya, nggak perlu kategori macem-macem. Ada juga kategori tulisan luar. Itu berarti tulisan orang lain yang dipajang di blog saya. Dan ada kategori pengumuman. Seperti artikel ini misalnya. Kategori pengumuman bertujuan sebagai informasi tambahan untuk lebih mendapatkan gambaran terhadap blog ini. Misalkan saja, untuk menunjukkan proses perubahan yang terjadi dalam blog ini. Atau, informasi tambahan tentang saya, sebagai penulis blog ini. Ato, ketika ada suatu masalah terhadap blog ini.

Nah, itulah sekilas tentang blog ini. Sebenarnya, memang kurang tepat sih kalo dinamakan manifesto. Silakan anda menikmati. Mudah-mudahan anda dapat mengambil manfaat darinya. Sebenarnya, artikel ini adalah isi halaman Tentang Blog Ini yang baru. Tapi, kalo sekedar ditampilkan di halaman tersebut nggak seru. Saya ingin pembaca yang lain juga membaca artikel ini. Seluruh tulisan dalam blog ini dilisensikan dalam Creative Commons Public License Attribution-ShareAlike versi 2.5. Ini karena saya berpendapat bahwa ilmu untuk semua orang. Sejujurnya, saya tidak terlalu suka menghakciptakan ilmu. Saya lebih suka membebaskannya.

Wijaya Adhi Surya
Mahasiswa Ilmu Komputer UGM Angkatan 2003

Komentar»

1. anonymous - Januari 5, 2006

bener-bener narsis!!

2. vee - Januari 12, 2006

saat anda meminta orang lain untuk analistis tap anda sendiri lebih tertarik menjadi pengkonsumsi IT bukan pengembang …..hm unik….. cermin diri anda pada blog ini telah memperlhatkan bahwa anda seorang petualang yg belum menemukan program tuk hidup anda…………lalu dimanakan sejat dri anda yg sebenarnya ? sebenarnya anda adalah seorang yg memiliki ketergantungan tinggi …. dalam petualang yg menantang…………… selamat !

3. insan yang peduli - Februari 14, 2006

Sesungguhnya kebenaran hanyalah milik Allah. Setiap perkataan, perbuatan, juga termasuk tulisan akan dipertanggungjawabkan.
Hati-hatilah dalam memberikan ucapan, pikiran dan tulisan, sebab bisa jadi akan membawa kita pada jurang kehancuran. Syetan bisa menggoda manusia bahkan melalui akal pikirnannya. Bisa jadi apa yang berada dalam pikiran kita adalah pikiran syetan, apalagi jika kita manusia yang ilmunya masih rendah. Ingatlah, bahwa manusia adalah tempatnya salah dan dosa, bertaubatlah sebelum terlambat.

4. nomly - Januari 11, 2009

thanks for the article,its great


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.