jump to navigation

Pakai Akal Donkz! Desember 15, 2005

Posted by fauzan.sa in Uncategorized.
trackback

Beberapa orang Islam takut dengan yang namanya logika dan akal. Tingkatannya beragam sih. Mulai dari yang menyuruh untuk menjauhi, membatasi pemakaiannya, sampai mengharamkan secara total. Menurut saya, hal ini aneh dan lucu. Ketika Al-Qur’aan banyak berbicara tentang ‘aql, ‘ilmu, fikr, dan fiqh, orang Islam malah mencoba menjauhinya. Bahkan mereka selalu mengkait-kaitkannya dengan filsafat orang Yunani. Yah, memang ada banyak kesamaan, tapi tidak seluruhnya sama. Bagi saya, filsafat Islami adalah sesuatu yang mungkin. Tidak hanya mungkin bahkan. Tetapi, filsafat Islami adalah sesuatu yang selalu digunakan oleh ulama dalam memutuskan hukum dan mengambil kesimpulan, tapi, mereka sendiri tidak sadar. Soalnya, mereka tidak pernah pake kata filsafat. Sebenarnya, masalah logika dan akal bukanlah masalah yang terlalu rumit. Apalagi ketika dikatakan penuh dengan prasangka. Tidak. Bukan yang seperti itu. Logika dan akal adalah sesuatu yang selalu menafikan prasangka. Masuknya sebuah pernyataan prasangka ke dalam logika, akan mengakibatkan rusaknya pernyataan yang dibangun.

Mungkin pendapat saya tentang logika agak berbeda dengan pendapat beberapa orang. Bagi saya, logika itu sesuatu yang fix dan pasti. Kayak matematika. Bahkan logika adalah cabangnya matematika. Karena itu, sahihnya suatu logika atau pernyataan, adalah sesuatu yang wajib ketika kita akan menerima suatu pengetahuan. Mereka-mereka yang pernah belajar logika matematika dan aljabar Boole, pasti tahu ini. Ya, logika menurut saya adalah logika formal. Logika sesuai dengan First Order Predicate Calculus. Yah, memang kita lebih banyak berhadapan dengan logika informal sih. Tapi, dalam penerapannya, kedua logika tersebut masih menggunakan prinsip-prinsip yang sama. Logika adalah sesuatu yang selalu kita gunakan. Oleh karena itu, kita tidak perlu takut terhadap logika. Kadang kita menggunakannya secara salah. Untuk itulah kita belajar logika. Agar kita tidak salah dalam berfikir.

Yang jadi masalah, ketika pernyataan seorang ulama diambil begitu saja dan dilepaskan dari konteksnya. Ketika ada terjemahan pernyataan Ibnu Taymiyah, “Barangsiapa belajar logika, maka dia telah sesat”, saya mengerutkan dahi. Memangnya logika yang dimaksud Ibnu Taymiyah itu seperti apa? Trus, apa benar, ketika diterjemahkan artinya adalah logika? Ato memang dari sononya logika (luughiika?). Ketika orang yang menyatakan seperti itu berani mengkonfirmasi bahwa logika menurut Ibnu Taymiyah itu adalah logika seperti yang kita maksud, maka saya juga berani bilang, kalo yang sesat adalah Ibnu Taymiyah.

Memang ilmu kalam dan ilmu mantiq cukup berkembang di abad pertengahan. Dalam hal ini, dunia pengetahuan Islam banyak dipengaruhi oleh Yunani dan Romawi. Tapi, sejauh yang saya tahu, filsafat Yunani memang filsafat dengan banyak prasangka. Karena itu, premis-premis yang dibangun pun sebenarnya sudah rusak dengan sendirinya. Tapi, ketika kita melihat kepada ilmu ushul fiqh dan kodifikasi hadits, kita harusnya sangat berbangga. Ilmu ushul fiqh adalah penerapan lebih jauh dari kaidah-kaidah logika, dan kodifikasi hadits merupakan metode data/knowledge filtering yang cukup canggih. Kalo boleh dibilang, sebenarnya ummat Islam sendiri juga sudah mengembangkan ilmu logika ini. Tapi, kita sendiri nggak nyadar akan hal itu. Pikirannya buruk terus kalo soal logika dan akal.

Bagaimana kita menempatkan logika? Sebenarnya, logika itu sendiri sebenarnya hanyalah sebuah alat untuk mengenali kebenaran, dan bukan kebenaran itu sendiri. Kalo dalam sains, ketika mengenal tiga sikap ilmiah. Logis, empiris, dan skeptis. Logis artinya sesuai dengan kaidah-kaidah logika. Kalo empiris, artinya berbasis pada fakta. Sedangkan skeptis, artinya sesuatu yang tidak diketahui nilai kebenarannya, dianggap tidak ada. Sikap logis ada dalam ushul fiqh, sedangkan sikap empiris ada pada metode kodifikasi hadits.

Saya sudah bilang kalo logika itu hanya alat. Ya, memang status logika hanya sampai situ. Logika hanya bertugas mengecek, apakah kesimpulan yang dibangun berdasarkan pengetahuan yang ada itu sudah bener apa belum. Kalo belum bener, maka itulah logika yang rusak. Ada juga yang bilang, logical fallacy. Logika tidak bertanggung jawab atas nilai kebenaran premis-premis dasar. Maksudnya, logika tidak bertanggung jawab atas dasar pengambilan kesimpulan. Logika tidak bertanggung jawab untuk mengetahui apakah Qur’aan bener ato nggak, ato apakah Muhammad Rasul Allah ato bukan. Logika hanya bertanggung jawab untuk mengecek semua konsekuensi logis jika pernyataan-pernyataan tersebut benar. Ato, jika seseorang menyatakan kebenaran Al-Qur’aan melalui bukti-bukti yang ada, maka logika hanya bertugas mengecek, apakah bukti-bukti itu benar dan sahih adanya untuk mendukung pernyataan kebenaran Al-Qur’aan. Semua pemilihan bukti-bukti tersebut, semua pemilihan pernyataan dasar, diserahkan kepada manusia kembali. Itu bukan urusannya logika.

Yang kedua, masalah data atau pengetahuan. Ini nih sebenarnya masalah pokoknya. Kita tau bahwa ulama sering ber-ikhtilaf. Di antara dua penyebabnya adalah perbedaan data dan kesalahan logika. Ketika kedua ulama tersebut kaidah ushul fiqh-nya sudah bener, berarti mereka mempunyai perbedaan dalam data. Sebut saja, status hadits yang diambil. Yang satu mengatakan sahih, dan yang lain mengatakan dha’if. Hal itu saja bisa mengakibatkan kesimpulan hukum yang berbeda. Dan, sebenernya, yang seperti ini wajar. Perbedaan data inilah yang kadang-kadang sampai menimbulkan perselisihan. Taunya logika cuman merangkai pernyataan-pernyataan yang fix alias muhkamat. Ketika permasalahan berkembang ke arah tafsir, hasilnya jadi lebih rumit. Tidak semua ayat Al-Qur’aan muhkamat. Oleh karena itu muncul ilmu tafsir. Tugasnya, mengekstraksi ayat-ayat Al-Qur’aan menjadi pernyataan-pernyataan muhkamat yang bisa diproses oleh logika. Sebenarnya, ilmu tafsir ini berbasis logika pula. Tapi, pelaksanaannya lebih rumit. Untuk menafsirkan sebuah ayat, butuh ayat-ayat yang lain. Butuh pula bahasa Arab. Butuh hadits. Butuh pula pengetahuan-pengetahuan tentang ungkapan Arab. Butuh tahu kapan ayat diturunkan dan dalam kondisi apa. Data-data yang dibutuhkan jadi jauh lebih banyak. Oleh karena itu, hasilnya jadi lebih rumit dan rentan perbedaan pendapat. Apalagi ayat-ayat yang mutasyaabihaat. Kalo ayatnya muhkamat sih, bisa langsung dipake. Kalo nggak, itulah yang jadi problem. So, untuk ilmu tafsir ini, butuh kehati-hatian dan data yang sangat banyak.

Yang ketiga, masalah konteks. Kita tentu paling tidak pernah mendengar tentang mekanika kuantum bukan? Teori mekanika kuantum berlaku pada benda-benda mikro alias super kecil. Sedangkan untuk benda yang super besar (planet misalnya), kita memakai teori kumulatif Newton-Einstein-Hawking. Saat ini, ulama fisika teoretis belum bisa menyatukan kedua teori itu, sehingga kita bisa melihat teori fisika yang berlaku umum untuk setiap keadaan. Tapi, kedua teori tersebut sudah terbukti secara empiris dan teoretis. Lalu bagaimana menyikapi hal ini? Di sinilah muncul kontekstualisasi. Yang artinya, kita tidak selalu tahu hukum fiqh umumnya, tapi, setidaknya kita tahu hukum-hukum kontekstualnya. Keberlakuan suatu hukum, adalah hal yang harus diperhatikan, ketika kita mencoba memahami Al-Qur’aan dan Hadits. Konteks permasalahan, adalah satu pokok lagi, selain masalah data dan logika. Masalah konteks ini memang erat kaitannya dengan data. Dari mana data itu diambil, pada saat apa, dan dalam kondisi apa, itulah konteks permasalahan yang ingin dicari kesimpulan atau solusinya.

Beberapa orang menyinggung masalah Islam liberal dan mengkaitkannya dengan masalah logika. Jangan kebanyakan pake akal, ntar malah jadi liberal nanti. Kira-kira begitu bunyi pendapatnya. Saya agak kurang setuju dengan pendapat itu. Logikanya begini, setiap orang muslim pasti menerima pernyataan bahwa syahadat itu benar. Konsekuensi logis dari hal itu adalah, Qur’aan pasti seluruhnya bener. Lalu, kita ingat di antara orang liberal ada yang mengatakan, semua agama sama. Jelas pernyataan dia bertentangan dengan Al-Qur’aan. Jadinya, pernyataan tersebut adalah suatu kontradiksi dengan syahadat yang dia ucapkan. Supaya kontradiksi jadi bener, pernyataan bermasalah harus dihilangkan. Berarti, yang bener cuman dia bukan muslim (kalo semua agama sama berarti Qur’aan salah. Kalo Qur’aan salah berarti syahadat salah. Orang yang menyatakan syahadat salah bukan muslim) atau dia ngelindur ketika mengatakan semua agama sama. Ada lagi pernyataan, Qur’aan adalah kata-kata Muhammad. Sudah jelas khan, kalo dia masih syahadat berarti kontradiksi lagi. Ada lagi pernyataan, hukum agama harus disesuaikan oleh manusia, mengikuti zaman. Sudah jelas, inil hukmu illa lillaah. Kalo dia masih syahadat, berarti kontradiksi lagi. Ada lagi pernyataan, Qur’aan itu sebagian dari Allah dan sebagian lagi kata-kata Muhammad. Yah, kalo yang kayak gini kasusnya sama persis dengan yang atas-atas. Juga masalah perkataan-perkataan sholat tidak wajib, haji tidak wajib, dan sebagainya. So, jadi sudah jelas khan posisi orang liberal itu? Orang liberal yang masih bersyahadat adalah orang yang logikanya rusak. Tidak akan rusak logikanya, kalo dia bukan muslim sekalian ataupun bukan liberal sekalian. Jadi, saya tidak setuju kalo liberalisme dikaitkan dengan akal dan logika.

Lalu, bagaimana pula kedudukan akal dengan agama? Kebanyakan ulama mengatakan, wahyu haruslah didahulukan dibandingkan dengan akal. Bahkan, dari semua buku yang pernah saya baca mengenai hal ini, semuanya menyatakan wahyu haruslah didahulukan daripada akal. Sebelumnya, saya mengingatkan bahwa akal dalam definisi saya sangat erat kaitannya dengan logika. Bahkan, dalam beberapa hal, dapat dipertukarkan. Dengan begitu, saya tidak setuju ketika logika atau akal itu harus dikalahkan dibandingkan dengan wahyu Allah. Loh, bukankah tidak semua kebenaran dapat difahami? Lalu, apa hak kita mengaku lebih benar daripada Allah. Memang benar tidak semua kebenaran dapat kita fahami. Mengapa itu terjadi, dan bagaimana itu dapat terjadi. But, logikanya begini. Allah menciptakan manusia dengan akal. Dengan kemampuan untuk memahami dan mengenali kebenaran. Dengan begitu, pastilah Allah memberi kemampuan kepada kita untuk memilih agama yang benar. Tidak mungkin Allah mengancam dengan siksa bagi orang kafir, kalo dia tidak memberi kemampuan kepada manusia untuk memilih mana yang benar. So, kalo memang Islam ini agama yang benar, maka dia harus masuk akal. Nah lo, yang dijadikan standar khan masuk akal. Jadi, duluan mana wahyu sama akal? Lah, kalo nggak gitu, gimana caranya kita tahu yang mana yang wahyu Tuhan? Agama-agama yang lain juga mengaku mereka mendapat wahyu ilahiah. Trus, mbedainnya gimana dong antara yang benar dan yang salah, kalo nggak pake logika? Sekarang coba kita lihat lagi. Kalo suatu saat, saya menemukan bahwa Muhammad bukanlah Rasul Allah, atau Allah ternyata tidak ada, buat apa saya tetap mempertahankan iman saya? Bodo dong. Berarti saya harus hidup dengan kontradiksi dong. Sudah tahu kalo Muhammad bukan Rasul, tapi masih Islam juga. Ato, saya harus menolak mentah-mentah fakta bahwa Muhammad adalah rasul, padahal fakta itu telah terbukti. Nah, itu sama bodohnya. Kalo memang Islam gak benar, buat apa kita masih jadi orang Islam? Alasan yang logis khan? Karena itulah, logika lah yang harus didahulukan daripada wahyu.

Saya memandang, mungkin saja para ulama memahami akal secara berbeda. Mungkin saja, akal bagi mereka adalah, bermain-main dengan prasangka. Sebenarnya, titik rawan bukan pada logikanya. Tapi, pada pengambilan data menjadi informasi siap proses oleh logika. Seperti yang sudah saya katakan, misalnya dalam ilmu tafsir. Logika hanya bisa memproses apa yang dihasilkan oleh ilmu tafsir. Ketika tafsir-tafsir yang dibuat adalah tafsir-tafsir penuh prasangka, ya jadinya memang parah. Sebenarnya hal ini bukanlah masalah akal lagi. Hal ini sudah menjadi masalah hawa nafsu. Ya, hawa nafsu. Sesungguhnya, kalo kebenaran itu mengikuti hawa nafsu manusia, pasti dunia ini sudah rusak. Yah, sesungguhnya, yang menyebabkan kita semua berbeda pendapat, adalah perbedaan data. Dan logika tidak bisa berbuat apa-apa terhadap hal ini. Oleh karena itu, seseorang dilarang berbicara tanpa data yang mencukupi. Jangan katakan apa-apa yang kita nggak tau datanya.

Komentar»

1. raf_03 - Desember 15, 2005

mmm.. very intersting!

aku mau urun rembug nih:

logika digunakan untuk mengenali kebenaran…. tapi ketika kita sudah meyakini islam adalah kebenaran… logikanya kita akan meyakini apa yang dibawa oleh islam adalah benar pula. Mungkin itulah maksud dibalik “dahulukan wahyu, baru akal”

jadi kita tidak akan meyakini kebenaran wahyu itu … sambil berusaha memahami kebenaran dibaliknya.

tapi ingat, akal manusia terbatas… gak mungkin memahami semua maksud dibalik wahyu, terlebih ayat2 mutasyabihat…
ex: Alif Laaam Miiim … berani menakwilkan ayat tersebut????

Ibnu Saud - Desember 10, 2009

” SETELAH KEBENARAN ITU KESESATAN ” , BEGITU BUNYI FIRMANNYA , DAN COBA CARI DI AL QUR’AN ADA DEH …, YA MEMANG BENAR SEKARANG INI BANYAK TERBUKTI AYAT/FIRMANNYA , SERING KALI YANG SUDAH JELAS KEBENARANNYA SUKA DIUTAK ATIK DENGAN LOGIKA , MALAH HASILNYA JADI KABAR KABUR DAN BIKIN BINGUNG UMMAT ISLAM .
HIH …. DIANCAM NERAKA…. …

2. Agro Rachmatullah - Desember 17, 2005

ex: Alif Laaam Miiim … berani menakwilkan ayat tersebut????

Mungkin Al Qur’an memiliki suatu struktur atau aturan matematis tertentu yang belum kita ketahui, dan keberadaan “Alif Laaam Miiim” (beserta yang sejenisnya) diperlukan untuk menciptakan keteraturan matematis tersebut. Just my wild guess :) . Mudah-mudahan kita manusia cukup pintar sehingga suatu saat bisa menguak rahasianya.

Kembali ke artikelnya. Sebetulnya logika hanyalah aturan-aturan untuk mengambil kesimpulan dari premis yang ada (dalam artikel disebut “data”). Sebagaimana dibahas dalam artikelnya, kesimpulan yang diambil tentunya akan tergantung pada datanya. Makannya ada pepatah (dari ilmu komputer) “garbage in, garbage out”.

Ada contoh yang menarik, diambil dari kelas Logika Fuzzynya Pak Retantyo. Dia bilang:

1) Kalau seseorang lapar, maka dia makan
2) Kalau seseorang makan, maka dia kenyang

Dengan logika bisa disimpulkan bahwa:

Kalau seseorang lapar, maka dia kenyang.

Lo, kok nggak masuk akal? (Untuk pernyataan seperti itu, orang sering bilang “nggak logis” padahal jelas-jelas logis karena disimpulkan dengan logika. Kata yang benar adalah “nggak masuk akal” (doens’t make sense) atau “nggak realistis”) Lalu Pak Retantyo nanya, apa yang salah? Kelas dipenuhi senyum kebingungan…

Sebetulnya yang salah bukan logikanya, tapi premisnya. Coba kita analisa premis pertama:

1) Kalau seseorang lapar, maka dia makan

Di sini, orang biasanya mengartikannya menjadi “kalau seseorang lapar, maka suatu saat dia akan makan”. (di bahasa sehari-hari, “if-then” memiliki banyak interpretasi dan orang memilih yang cocok sesuai konteksnya) Tapi di matematika, itu interpretasi yang salah. Di matematika, bentuk “if-then” hanya memiliki satu arti (supaya tidak ambigu), dan premis 1 tersebut berarti:

“Kalau pada suatu saat seseorang sedang lapar, maka pada saat itu orang tersebut pasti sedang makan”

Apakah itu premis yang realistis? Tentunya tidak. Saat ini saya sedang lapar, tapi saya tidak sedang makan.

Premis 2 juga tidak realistis, karena saya bisa saja makan dan lapar sekaligus.

Nah, kalau premisnya tidak realistis tentu saja tidak aneh kalau kesimpulannya juga tidak realistis. Logis, tapi tidak realistis.

3. Aswad - Desember 17, 2005

Secara umum saya setuju…
Segala sesuatu, untuk mencari kebenaran, harus dikembalikan kepada Qur’an dan Hadist. Yang paling benar ya itu.
Banyak kaum munafik dan kaum kafir yang mengajukan bantahan2 terhadap Al-Qur’an dengan mengandalkan logika meraka. Dan mereka bukan orang bodoh ber-IQ rendah. Jadi, kadang dalam Islam akan menemukan kebuntuan. Kenapa bisa begitu? Apakah Qur’an salah? TIDAK. Tapi kita yg kemampuannya terbatas. Akal pikiran manusia itu sangat2 terbatas
“Allah Maha Mengetahui sedang kamu tidak Mengetahui”(Qur’an)
Kemudian dalam Islam, ada hal2 yang kita dilarang memperdebatkan atau mencari alasannya. Sifatnya mutlak untuk dilaksanakan tanpa harus mencari alasan logis kenapa itu diperintahkan. Misalnya, Puasa Ramadhan, kita wajib melaksanakannya tanpa mempertanyakan kenapa apa sih alasan logis kita diperintahkan Puasa pada Bulan Ramadhan.
Wallahu’alam.

4. Muslim Radikal - Januari 4, 2006

Tidak setuju dg Aswad!!!
Orang kafir tidak ber IQ rendah, mungkin jauh lebih puinter dari Sampeyan. Hanya saja mereka punya satu masalah, bukan pada logika atau akal, tapi pada hati (aku gak tau istilah modernnya untuk yg satu ini).
Mereka bukan tidak percaya pada Muhammad dan ajarannya, tap[i mereka TIDAK MAU MENERIMA ada sebab utama mengapa yaitu sama dengan alasan Iblis tdk mau bersujud pd Adam SOMBONG [definisi sombong adalah MENOLAK sesuatu yg sudah JELAS KEBENARANNYA scr LOGIKA dan MEREMEHKAN orang lain].
Inilah mengapa orang yg seperti ini disebut KAFIR [=ingkar, menolak]. dan inilah juga mengapa mereka dimasukkan neraka, karena mereka MENOLAK apa yg secara LOGIKA sudah PASTI kebenarannya. makanya ada tiga orang yg tidak diberi petunjuk oleh ALLAH:
1. Zhalim
2. Fasiq
3. Kafir
ketiga jenis orang ini memang tidak akan diberi petunjuk karena mereka MENOLAK LOGIKA mereka sendiri yg sudah MEMBENARKAN Islam.
Bandingakn dg ayat Allah yg berbunyi “Orang Yahudi, Nasrani, dan Shabiin (paganis) tidak perlu takut selam mereka berbuat yg baik…” (kayaknya ada salah redaksi tp intinya seperti itu), artinya selama mereka (MUSYRIKIN bukan KAFIRIN) itu mencoba menyembah Tuhan yg benar dan BELUM mendapat petunjuk ISLAM, maka mereka tidak perlu takut akan hari depan mereka di akhirat. beda dg oranmg yg sudah kenal ISLAM, sdh MEMPELAJARI ISLAM, dan secara logis memang ISLAM itu benar maka, jika menolak maka mereka bukan lagi MUSYRIKIN tapi KAFIRIN, karena mereka mengingkari KEBENRAN yg SUDAH mereka dapatkan secara LOGIS.

5. vee - Januari 12, 2006

logika adalah sesuatu yg menarik tapi saya sudah bosan mempelajarinya……..jenuh………ilmu ini tidak akan keluar maksimal jika orang muslim dulu tidak menterjemahkannya…… dan kupasan diatas adalah suatu hal yg paling membosankan saya………….hanya berputar2 dan maksukan dari agro bak sebagai penulis yg sedang membahas istilah2 filasafat enaknya sih bisa membedakan antara istilah itu krn cukup banyak tuh…..he…….he…..he…..bagus juga baca buku jaya suprana asyik jiuga lho tuk nambah wawasan penggunaan stimatika berpikir dgn pisau filsafat……

6. vee - Januari 12, 2006

logika adalah sesuatu yg menarik tapi saya sudah bosan mempelajarinya……..jenuh………ilmu ini tidak akan keluar maksimal jika orang muslim dulu tidak menterjemahkannya…… dan kupasan diatas adalah suatu hal yg paling membosankan saya………….hanya berputar2. M

Maksukan dari agro ok juga, sebagai penulis yg sedang membahas istilah2 filasafat enaknya sih bisa membedakan antara istilah itu krn cukup banyak tuh kekeliruan dan kesalahan lainnya…..he…….he…..he…..krn berakibat fatal bagi yg ingin komen. Terbukti teman-teman yg komen jadi komen kemana-mana

bagus juga baca buku Jaya Suprana asyik juga lho tuk nambah wawasan penggunaan sistimatika berpikir dgn pisau filsafat……

7. insan yang peduli - Februari 14, 2006

Islam adalah agama yang haq, sedangkan pikiran dan pendapat anda adalah sesuatu yang masih belum jelas KEBENARANNYA. Konsekuensi kita memeluk islam adalah membenarkannya baik yang bisa diterima akal maupun tidak. Ingatlah bahwa akal dan pikiran kita terbatas. HATI-HATI DENGAN LISAN KITA. HATI-HATI BERKATA TANPA ILMU.

8. haya - Juni 14, 2006

bagus lo….

9. okadwip - Agustus 8, 2006

smua perdebatan tentang akal, logika, wahyu, memang sangat lah menarik dan tentu saja cukup bisa membuka wawasan berpikir kita. satu hal yang ingin saya ingatkan bahwa sepanjang2nya kita berdebat akan kebenaran fakta yang terjadi adalah dunia saat ini masih di kuasai oleh peradaban bukan islam. jadi marilah kita kembali fokus pada penerapan2 aplikatif (kalau bisa praktis) Al qur’an pada kehidupan kita sehari2. sehingga jangan sampai umat islam hanya mampu bernostalgia bahwa dahulu di atas bumi pernah ada dokter yang sangat hebat bernama ibnu sina, matematikawan terkenal bernama al jabar, dst…

saya yakin bahwa apabila kerangka berpikir kita tentang wahyu, akal dan logika sudah baik, maka suatu saat peradaban islam di bumi ini akan kembali menjulang. untuk itu mari kita bersiap diri dan beristirahat dahulu dalam perdebatan panjang yang sepertinya tidak terlalu urgent untuk di pakai sehari2 di masyarakat.

demikian
salam…

10. manusia berdosa - Desember 15, 2006

tu yang namanya muslim radikal sok tau bngt pke ngledek orang segala..
mank dya pinter ape???????
urusin dulu tu mulut,,baru ngomong…

11. Agung Permana - Januari 15, 2007

Untuk manusia berdosa…
wah anda kasar sekali, mengatakan urusin dulu itu mulut, baru ngomong…apa hubungannya mulut muslim radikal dengan isi tulisannya. Kalau memang tak setuju dengan isi tulisan muslim radikal ya dibantah dengan argumen juga, jangan mencaci orangnya. Jangan tidak suka pada orangnya, tapi tidak sukalah pada sikapnya….(maaf Mas penulis blog, saya jadi menyimpang)
Kalau boleh saya berpikir seperti anda, saya juga bisa bilang anda pintar apa ,kok berani ngatain orang tanpa argumen, bahkan anda lebih buruk dari muslim radikal yang berani mengungkapkan pendapatnya berdasarkan data dan dalil, anda berkomentar tanpa dasar dan fakta.
Diskusi yang makruf mas, jangan menghina orangnya, kritik saja tulisannya.
Saya pintarnya apa???
tanya teman-teman saya…
Pada intinya saya setuju dengan pendapat Mas fauzansa. Akal itu kan jadi bumerang saat hati kita dipenuhi kesombongan dan prasangka. Bebaskan diri dari prasangka…OK! Insya Allah yang namanya Ghazwul Fikr lewatt…….

12. who am i - September 21, 2007

don’t say b4 u study more than u know.we’ve limited knomled n what our disccuss is very abstrct.REMEMBER !!!!!!

13. Johnny Weismuller - September 24, 2007

Buat who am i…
Anda tidak memberi solusi, malah memperkeruh suasana, kalau anda memang lebih tahu (kesan yang saya tangkap begitu) dan menganggap diskusi ini abstrak tolong tunjukkan dimana abstraknya, jangan seperti “pokrol” yang asal bicara tapi tidak solutif

14. bolobolo - Januari 14, 2008

Allah menciptakan akal pada manusia agar kita berpikir..menggunakan logika kita tentang keberadaan-Nya..ciptaan-Nya..kuasa-Nya..Karunia-Nya..mengapa kita hidup..mati..apa yang harus kita lakukan waktu hidup..ada apa setelah kita mati..dan hal-hal lainnya yang masih butuh jawaban dalam perjalanan sisa umur kita.. Jika memang akal pikiran kita terbatas dalam memahami semua rahasia sang Ilahi..kiranya imanlah yang dapat menolong kita dalam keterpurukan mengagung-agungkan Akal…Wallahu’alam

15. Husni - Maret 10, 2009

Menurut saya,salah satu karakteristik islam adalah rasional dan irasional. Rasional karena Allah memerintahkan manusia untuk menggunakan akal dalam memahami tanda-tanda kekuasaanNya. Irasional, berarti islam agama yang bukan merupakan produk manusia melainkan produk Allah dimana akal manusia dengan keterbatasannya tidak akan mampu menjangkau atau menjawab segala masalah dalam islam seperti sholat, puasa, zatat dll. Akal manusia adalah penasehat bagi manusia sedangkan yang paling berperan dalam baik dan buruknya perilaku hidup kita adalah hati. Oleh karena itu, akal bukanlah diatas segalanya namun hati yang tenang akan menciptakan kehidupan yang bahagia dunia dan akhirat, bahkan dalam alquran disebutkan bahawa Allah memerintahkan kepada jiwa/hati yang tenang untuk masuk kedalam surga dengan tenang. Jadi bukan akal yang diperintahkan Allah untuk masuk kedalam surga melainkan hati yang tenang. Pertanyaannya, bagaimana memperoleh hati yang tenang? Untuk itu kita perlu berilmu, sebab tanpa ilmu maka hati kita tidak akan tenang karena bagaimana mungkin seseorang muslim yakin dan percaya kepada Allah tanpa terlebih dahulu mengenalNya dengan baik, sifatNya, KekuasaanNya, KeesaanNya dll.


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.