jump to navigation

Apa Istimewanya Jadi Manusia? Oktober 20, 2005

Posted by fauzan.sa in Uncategorized.
trackback

Kira-kira jika ada pertanyaan semacam itu, apa jawaban anda? Saya yakin banyak yang akan menjawab, manusia istimewa karena diberi akal. Atau, banyak juga yang akan menjawab, manusia istimewa, karena dia diberi pilihan oleh Allah. Mau masuk surga, atau masuk neraka. Yang paling klise adalah jawaban, karena manusia adalah makhluk yang paling sempurna.

Saya kira nggak ada yang salah dari jawaban-jawaban semacam itu. Tapi saya juga punya pemikiran lain. Marilah coba kita telaah hal ini. Karena saya mahasiswa ilmu komputer, marilah kita coba bandingkan, apa istimewanya manusia jika dibandingkan dengan komputer. Manusia yang membuat komputer? Ya betul. Tapi bukan tidak mungkin membuat komputer yang mengendalikan robot, untuk membuat komputer itu sendiri. Jadi, komputer juga bisa membuat komputer. Atokah karena manusia adalah bosnya? Komputer hanya sebuah alat saja. Kalo bukan manusia yang menggunakan, komputer juga nggak akan bisa apa-apa. Itu bisa jadi benar. Tapi, kalo semua keputusan seorang manajer berdasar kepada decision support system ataupun expert system, yah apa bedanya komputer dengan manajer pada akhirnya. Apa ya yang kira-kira manusia jauh lebih hebat daripada komputer?

Bicara masalah manusia dengan komputer, tentu yang dibandingkan adalah masalah kemampuan berfikir atau akal. Banyak orang menganggap hal ini adalah hal yang sensitif. Dalam beberapa hal, kita kalah jauh dibandingkan dengan komputer. Misalnya saja masalah aritmetik. Mana ada manusia mengalahkan komputer dibandingkan dengan hal ini? Lalu, apakah kemudian kita tidak istimewa jika dibandingkan dengan komputer? Ada satu contoh menarik, yang saya kira bisa membuat kita bangga sebagai manusia.

Pernah dengar Garry Kasparov dikalahkan oleh Deep Blue? Itu adalah bukti bahwa komputer bisa menyaingi manusia dalam hal catur. Tapi pernahkah anda mendengar sebuah permainan papan yang bernama Go? (http://en.wikipedia.org/wiki/Go_%28board_game%29).

Walaupun cara mainnya lebih sederhana daripada catur, sangat sulit untuk membuat pemain komputer yang tangguh. Seorang pemain amatir dapat dengan mudah mengalahkan program komputer yang paling kuat. Ini karena Go memerlukan kemampuan konseptual yang kuat. Dan komputer tidak mampu melakukannya. Inilah kelebihan manusia yang sebenarnya, yaitu kemampuan konseptual.

Tahu nggak, sebenarnya yang namanya Garry Kasparov itu “dicurangi” sama Deep Blue. Yang dilakukan para pembuat Deep Blue adalah, memberi masing-masing pion itu nilai evaluasi, kemudian menyuruh Deep Blue melakukan brute force. Artinya, dia menyuruh Deep Blue untuk menyelidiki tiap langkah kemungkinan dan tiap balasan dari Garry Kasparov, sampai ke dalam-dalamnya. Mana yang menghasilkan nilai terbanyak, itulah langkah yang diambil. No Tactics. Mangkanya Deep Blue menang. Manusia gak mungkin melakukan hal semacam itu. Sama saja dengan menyuruh manusia untuk mengerjakan soal aritmetika yang sangat rumit melawan komputer.

Berbeda dengan Go, yang susah banget dikasih nilai evaluasi. Di sinilah para programmer susah banget untuk memasukkan kemampuan konseptual pada program komputer. Saat ini, itulah kelebihan manusia dibandingkan dengan komputer.

Jika anda seorang manusia, tapi cuma bisa hafalan doang, Expert System jauh lebih ahli daripada anda. Jika anda seorang manusia, tapi hanya bisa mengerjakan persis seperti perintah atasan, tanpa inovasi, robot tidak kenal lelah dan akan mengerjakannya lebih baik daripada anda. Jika anda manusia, dan anda bisa menganalisis sesuatu, kemudian ahli dalam hal konseptual, barulah anda boleh mengaku lebih hebat daripada komputer.

Komentar»

1. Agro Rachmatullah - Oktober 21, 2005

Menarik kalau bicara tentang pemahaman konseptual (konsepsual?) pada AI.

Di AI klasik (GOFAI, Good Old Fashioned Artificial Intelligence), sebetulnya manusialah (programmer) yang mengkode pemahaman konseptual tersebut pada program. Pemahaman konseptual ada di programmer, nanti programnya hanya perlu melakukan searching.

Programmer AI go menjumpai kesulitan karena banyak konsep-konsep “high level” pada go yang susah dicari definisi matematisnya. Misalnya adalah influence, thickness, overconcentration, good shape, dan lightness. Padahal pemain-pemain kuat menggunakan konsep-konsep tersebut dalam memilih langkah-langkahnya (misalnya “ugh, kalau naro di sini kayaknya bakal jadi overconcentrated” dan “grupku di situ thick, aku giring musuh ke sana saja”).

Pendekatan-pendekatan AI yang lebih baru seperti penggunaan Jaringan Syaraf Tiruan berbeda secara fundamental dengan GOFAI, karena pada JST diharapkan “perilaku baik” akan muncul sendiri secara emergen dari parameter-parameter (weights) tertentu.

Contoh menarik adalah “Moyo Go Studio” vs GnuGo 3.6 level 0. MGS sama sekali tidak melakukan perhitungan wilayah dan life-and-death. MGS bermain dengan menjalankan langkah paling urgen dari suatu pola. Langkah paling urgen didapat dari database hasil analisis pola 1 juta permainan menggunakan JST. MGS kalah 3.5 poin (http://www.moyogo.com/annotation.htm)

Sekarang anggap ada AI berbasis JST yang bisa melakukan hal-hal “manusiawi” dengan seperti bermain go dan chatting. Apakah kita bisa mengatakan kalau AI tersebut memiliki pemahaman konseptual?

2. hamba allah...4jjl - Juni 8, 2007

kenapa setengah manusia engkar dengan perintah allh s.wt…
kenapa ini leh terjadi…terangkan untuk menbantu manusia yang sesat ini?….