jump to navigation

Ironi Kapitalisme di Selatan Sagan Oktober 17, 2005

Posted by fauzan.sa in Uncategorized.
trackback

Jumat, tanggal 14 kemarin, aku pergi ke salah satu mall terbesar di Jogja. Sambil, ngabuburit, aku dan kedua temanku menonton lomba nasyid yang diselenggarakan di sana. Acara yang bertajuk Ramadhanan bareng H**D* itu dimulai jam setengah lima, tepat saat kami datang. Suguhan dari kelompok nasyid tidak terkenal “Tempe Dhele of Notoprajan” menyambut kedatangan kami. Di depan panggung, banyak anak-anak yang duduk di kursi, menyaksikan lomba nasyid tersebut, sedangkan kami berdiri di belakang. Aku berpikiran bahwa mereka pasti anak-anak dari panti asuhan, yang disantuni oleh sponsor utama acara itu, yaitu H**D*. Begitu adzan maghrib tiba, kami segera menyantap makanan gratis yang disediakan di acara tersebut.

Cerita belum selesai. Kami dan Notoprajan Gang turun ke lantai B2 untuk menunaikan sholat maghrib. Aku kira mall ini adalah pusat berkumpulnya hedonisme. Sehingga, aku berfikir bahwa musholla mall ini, selain kecil, pasti pengunjungnya juga sedikit. Ternyata tidak juga. Mushollanya memang kecil, tapi sangat ramai. Banyak orang datang silih berganti untuk menunaikan sholat maghrib. Ada satu hal lagi. Ternyata, di lantai B2, terdapat juga kantin-kantin sederhana dengan harga murah. Aku kira yang ada di sana cuman kafe Excelso, McDonald, atau KFC saja. Waralaba franchise penuh gengsi yang berharga mahal.

Aku sempat bicara sebentar dengan temanku, kemudian aku berfikir. Banyak sudah korban kapitalisme di negara kita yang tercinta ini khususnya Indonesia. Coba bayangkan, walopun tajuk acara tersebut adalah Ramadhan, tapi apa yang telah dilakukan dengan membawa anak-anak panti asuhan ke mall yang penuh gemerlap hedonisme adalah hal yang buruk. Untuk apa kita sejak dini, mengajari anak-anak kita yang kurang mampu itu, untuk menjadi konsumtif? Mereka yang masih kecil disajikan tontonan saru dari poster Giordani, sepatu mewah dari Buccheri, segala barang-barang yang mahal merknya thok itu, untuk apakah itu semua sebenarnya?

Belum lagi yang mereka lakukan dengan karyawan mereka sendiri. Sudah jelas bahwa menurut analisis kebutuhan musholla, musholla sekecil itu tidak layak untuk mall dengan pegawai yang begitu banyak. Belum lagi pengunjungnya. Yah, dasar kapitalis. Musholla adalah hal yang tidak punya nilai komersial, jadi tidak layak menempati ruang-ruang utama yang komersial.

Satu hal lagi. Tahukah anda, bahkan karyawan mall itu sendiri, tidak mampu menikmati barang-barang yang ditawarkan di mall tersebut? Oleh karena itulah, mereka dibuatkan ruang khusus di lantai bawah tanah yang pengap dan panas itu, yang dinamakan dengan kantin-kantin sederhana. Apa tujuannya? Yang pertama agar mereka tidak meminta biaya tambahan untuk sekedar makan siang. Yang kedua, agar mereka tidak perlu jauh-jauh keluar kalau mereka mau makan. Tinggal naik lift ke bawah saja, warung makan tinggal beberapa langkah lagi. Coba anda fikirkan ini baik-baik. KARYAWAN ITU DIGAJI DENGAN RENDAH! Tapi, mereka disajikan dengan pameran hedonisme dan kemewahan dunia. Bisakah anda bayangkan yang semacam itu?

Komentar»

No comments yet — be the first.